Iman Yang Berdayaguna

Oleh: Pdt. Yohanes Madhu, S.Th.

Salah satu pernyataan Tuhan Yesus dalam Alkitab yang sangat menggetarkan bangsa Yahudi secara khusus para murid adalah “Sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.” (Matius 8:10).  Pernyataan ini tentu membuat para murid ciut dan malu.  Bagaimana mungkin, mereka yang setiap hari bersama Yesus ternyata imannya tidak sebesar iman seorang perwira bukan Yahudi.  Perwira ini memiliki sudut pandang yang berbeda tentang Yesus.  Perwira ini sangat percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa.  Karena itulah ia mengambil Tindakan iman untuk datang kepada Yesus agar menyembuhkan pembantunya.  Dan iman seperti ini ternyata tidak dijumpai oleh Tuhan Yesus di antara orang Israel.

Pernyataan Tuhan Yesus ini tentunya membawa kita untuk melihat apakah iman kita sudah sebesar iman perwira ini?  Ataukah iman kita masih iman rata rata orang kebanyakan, yang hanya tahu Yesus berkuasa, namun tidak melangkah untuk mengalami kuasanya.  Oleh karena itu, sebagai pengikut Kristus, penting untuk memiliki iman yang berdaya guna atau iman yang berkuasa.  Bagaimana agar memiliki iman yang berkuasa?  Apakah iman itu yang berkuasa atau Tuhan yang berkuasa? Penjelasan berikut akan menjawab pertanyaan tersebut. Untuk memiliki iman yang berdayaguna maka:

  1. Percaya kepada Tuhan

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5-6)

Untuk memiliki iman yang berdayaguna, maka seseorang perlu memahami imannya sendiri apakan ia sungguh sungguh percaya kepada Tuhan dengan segenap hati?  Perhatikan bahwa percaya yang dituntut Tuhan adalah percaya dengan segenap hati. Apakah kita masih ada kekuatiran? Apakah masih ada ketakutan?  Jika anda menjawab ya, maka anda adalah manusia yang normal.  Tidak ada manusia yang tidak kuatir, tidak ada manusia yang tidak takut.  Nah jika demikian, apa kaitannya dengan percaya dengan segenap hati?  Percaya dengan segenap hati artinya percaya kepada Tuhan yang El-Roi (Allah yang Melihat), El-Shadai (Allah yang berkuasa).  Jika percaya bahwa Tuhan melihat segala keadaanku, dan bahwa Tuhan berkuasa atas hidupku, maka mengapa kita masih kuatir?  Keadaan ini juga yang menimpa para murid yang saat itu bersama dengan Yesus dalam sebuah perahu.  Yesus menegur mereka,”Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? (Matius 8:26).  Iman yang tidak sepenuh hati alias kurang percaya memang menyebabkan ketakutan.  Karena itulah dengan jujur kita harus mengakui bahwa kita ini kurang percaya kepada Tuhan.  Keadaan ini sendiri diakui secara jujur oleh para murid Ketika mereka berkata,”Tambahkan iman kami (Lukas 17:5).

Orang yang percaya kepada Tuhan dengan segenap hati, maka orang tersebut tidak akan bersandar kepada pengertiannya sendiri dan mengakui Tuhan dalam segala dimensi kehidupannya.  Dan Tuhan berjanji bahwa Tuhan akan meluruskan jalannya.  Inilah iman yang berdaya guna.

  • Percaya kepada Firman-Nya

Supaya aku dapat memberi jawab kepada orang yang mencela aku, sebab aku percaya kepada firman-Mu” (Mazmur 119:42)

Perwira bukan Yahudi melihat mujizat Tuhan terjadi Ketika ia mempercaya Yesus dan mempercayai FirmanNya. Dalam Matius 8:13,”Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.”  Perwira ini percaya kepada apa yang Yesus katakan.  Karena kepercayaannya itulah maka hambanya menjadi sembuh. Kepercayaan kepada Tuhan, seharusnya membawa kita mempercayai Firman-Nya.  Karena itu, jika kita tidak mempercayai Firman-Nya, maka menjadi indikasi bahwa kita tidak mempercayai Tuhan.

  • Melakukan Firman-Nya

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu” (Matius 7:24-25)

Mendengarkan perkataan Tuhan tidaklah cukup, karena membutuhkan Tindakan nyata untuk mentaatinya.  Itulah sebabnya Ia berkata bahwa setiap orang yang mendengar dan melakukan adalah orang yang bijaksana.  Orang yang bijaksana ini sepertoi pelayan-pelayan pada pesta pernikahan di Kana yang tanpa perbantahan melakukan sepenuhnya perintah Tuhan, sehingga terjadi mujisat air menjadi anggur.

Dengan demikian, maka iman yang berdayaguna adalah iman yang sepenuhnya kepada Tuhan, mempercayai Firman-Nya serta melakukannya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.