Inilah Ladang di Zaman Now

Oleh: Fredrik Makitan

Pandanglah … ladang-Nya … telah kuning … Siapa yang akan mengerjakannya?

Ini adalah kata-kata pertama sebagai seruan yang mengawali lagu mars sebuah lembaga pelayanan kristiani yang sangat kuat menyemangati anggota-anggotanya demi pelayanan “mencari jiwa” dalam skala internasional. Didasarkan atas Yesaya 45, lagu yang konon diciptakan sekitar 50 tahun lampau ini tentunya masih terus teguh dan kukuh memotivasi setiap anggota pelayannya. Lagu ini juga masih terus bersenandung di hati saya sendiri di manapun saya berada, karena toh saya juga adalah salah satu dari hasil pelayanan dan pembinaan lembaga tersebut.

Namun, sekarang ini saya menjadi sadar betul bahwa kata-kata “Pandanglah, ladang-Nya …” yang sangat inspiratif ini perlu diarahkan juga atau menunjuk ke sebuah “ladang” baru, yakni kumpulan orang-orang dalam suatu konteks kehidupan yang jauh lebih luas sekaligus fokus. Luasnya seakan tak terlihat tepinya, dan entahlah sampai di mana ujungnya. Di sana ada kebebasan dan kedaulatan individu yang luar biasa pada semua penghuninya. Dan di sana ada pula kreativitas tinggi dengan inovasi yang tak habis-habisnya serta pengaruh yang cukup significant dalam petualangan hidup para penghuninya.

Ladang itu adalah suatu masyarakat global, generasi tertentu, yang hidup di “zaman now” ─istilah yang cukup populer saat ini. Masyarakat global yang satu ini dikenal dengan berbagai istilah, misalnya “Y-Generation”, “net generation”, “digital generation”, atau lebih umum disebut “millenials”. Mereka adalah kaum muda yang berusia sekitar 17-37 tahun, yang lahir antara tahun 1977 dan 1997. Ada yang mengatakan antara 1980 dan 2000. Yang pasti, generasi ini lahir setelah dunia mulai familiar bahkan intens menggunakan internet dengan berbagai perangkat komunikasi (computer, mobilephone atau smartphone, dll). Kehidupan generasi millenials sangat melekat erat dengan online media (daring) atau social media (medsos). Dan, konon, dalam tahun 2018 ini jumlah pengguna smartphone atau gawai di Indonesia akan melebihi 100 juta orang dari jumlah pengguna internet yang diprediksi akan mencapai 215 juta di tahun ini.

Apalagi diikuti dengan teknologi modern yang terus berkembang, yang sangat mempermudah, mempercepat, sekaligus menyenangkan dalam komunikasi antarmanusia, maka dalam kehidupan masyarakat generasi ini, sepertinya tidak ada lagi batas dalam jarak, dilihat dari segi apapun. Sementara itu, generasi “Z”, yang lahir dalam rentang tahun 1997 hingga 2014, juga sudah siap-siap meneruskan estafet pengendalian zaman dari tangan generasi “Y”, dan akan menuju ke generasi berikutnya yang disebut generasi “Alpha”, yaitu kelompok penduduk bumi yang lahir sejak 2015.

Ciri khas masyarakat millenials adalah bebas berekspresi dan bebas berinovasi dengan personal branding mereka yang cukup kuat. Meskipun tentunya akan selalu ada juga yang ingin menikmati saja semua hal baru yang menarik dan bisa dinikmati. Dan mereka cenderung bersifat konsumtif atau bahkan menjadi hedonis. Dan dengan personal branding yakni pencitraan yang kuat dan berpengaruh, mereka ingin menampilkan diri dengan berbagai gaya yang bersifat global dengan variasi model yang mereka gandrungi. Tampaknya mereka kurang betah dalam kehidupan yang penuh aturan, tersistem secara ketat yang membuat gerak hidup mereka terasa begitu mekanis. Mereka tidak menyukai primordialisme, juga tidak senang dengan sektarianisme.  Mereka ingin hidup dengan bebas tanpa terikat dengan pengelompokan yang bukan pilihan mereka sendiri.

Keluasan dan kebebasan dalam bertukar informasi dan kebebasan mencari serta menyebarkan informasi baru, adalah kegemaran mereka. Generasi ini ingin hidup dengan menembus semua frame gaya lama yang membuat mereka merasa sulit bergerak. Karena itu, tidak heran juga bahwa, sebagian mereka kelihatan agak apatis, skeptis, juga underestimate, sekalipun terhadap agama dan keyakinan yang sudah diwarisi dari keluarga atau nenek moyang mereka.

Dalam kiprah dan cara hidup sehari-hari generasi millenials seakan-akan sedang menciptakan budaya baru dengan nilai-nilai baru pula, yang menurut mereka lebih memampukan mereka untuk menembus badai kehidupan sampai mencapai tujuan hidup yang didambakan dan sudah mereka tentukan sendiri. Dan, mereka ─walaupun secara halus─ lebih bersikap kritis terhadap semua nilai dan sistem kehidupan yang sangat dikendalikan oleh generasi-generasi yang lebih tua, yang dianggap terlalu ketat dengan nilai-nilai “jadul”. Generasi tua yang dimaksudkan adalah misalnya apa yang dikenal sebagai generasi “X” (lahir 1965-1976), atau lebih tua lagi yaitu generasi “baby boom” (lahir 1946-1964), dan yang paling jauh adalah generasi “pre baby boom” (lahir sebelum 1945) yang kini sudah mencapai status “kakek-kakek” pada umumnya.  Secara diam-diam tetapi cukup sopan, mereka menilai tutur kata, tingkah-langkah kepemimpinan generasi-generasi sebelum mereka kurang memuaskan dari segi integritas dan kredibilitas. “Berbeda apa yang dibuat dari apa yang dikatakan”, begitulah anggapan mereka. Tentu saja ini tidak sepenuhnya benar, tapi memang seperti itulah pandangan mereka dari beberapa point of view mereka sendiri.

Generasi “Y” atau millenials ini punya karateristik hidup yang berjejaring, menikmati percakapan di antara mereka yang jauh lebih menyenangkan dibanding percakapan dengan generasi-generasi sebelumnya yang dianggap lumayan arogan. Dalam sejuta komunitas, dengan smartphone di tangan, dan dengan jari-jemari yang menari lincah “on the screen” serta bergerak dengan kecepatan tinggi memainkan keyboard alfabet elektronik dengan kedua jempol, mereka berkomunikasi satu sama lain dengan sangat lancar. Dan akhirnya jadilah suatu kesepakatan, bahkan bisa jadi suatu movement yang menggemparkan dunia sehingga umat manusia mengangkat alis mengaguminya atau sebaliknya mencari solusi pencegahan.

Net generation atau digital generation ini memang sadar akan gaya hidup dan mereka menikmatinya. Tetapi pada saat yang sama mereka juga peduli terhadap sesama. Peduli terhadap nasib rakyat banyak dan bangsa mereka. Mereka juga prihatin terhadap ketidakadilan, monopoli, korupsi, kemiskinan, dan isu-isu besar lainnya dalam masyarakat global, regional maupun masyarakat lokal di mana mereka berdomisili. Mereka memiliki kemampuan dalam bidang ekonomi. Banyak dari antara mereka yang sudah mulai duduk dalam posisi-posisi penting dalam menggerakan ekonomi bangsanya. Mereka aktif dan berkembang dalam e-commerce atau online business atau internet marketing yang aktif dengan personal branding sekaligus product branding mereka.

Bukan hanya itu. Mereka juga punya kesadaran politik, sekalipun kadang-kadang kelihatan hit and run, atau masih wait and see. Bahkan di negeri kita sudah ada partai baru dari generasi millenials ini, yang konon dengan sengaja tidak mau bercampur dengan generasi-generasi sebelum mereka. Mereka membuat persyaratan anggotanya, misalnya yang berusia tidak lebih dari 40 tahun dan belum pernah terlibat sebagai anggota partai politik manapun, tidak pernah dipidana penjara yang berkekuatan hukum tetap, dll. Mereka ingin memilih pemimpin tanpa pandang bulu. Yang penting bagi mereka adalah pemimpin yang terbukti bersih, berani, punya integritas tinggi, kredibel, sungguh mencintai bangsa dan rakyat, dan benar-benar mampu untuk memimpin. Dan mereka tidak tertarik kepada kepemimpinan yang cenderung bersifat elitis apalagi autokrat juga manipulatif sehingga sulit dipercaya. Sebaliknya mereka senang menikmati pola kepemimpinan dan komunikasi yang dibangun dengan gaya persahabatan dan keterbukaan, yang selalu bersifat partisipatif, interaktif, reciprocal dan tentu tidak linear.

Inilah suatu deskripsi generasi yang sangat menarik perhatian dan memang bisa dibanggakan karena sangat potensial dan talented di era digital dalam masyarakat siber “zaman now” ini. Mereka adalah penerus yang akan membuka zaman baru, yang entahlah akan seperti apa nantinya.

Kalau demikian, bukankah ada kebutuhan yang sangat mendesak, untuk memikirkan bagaimana mencapai mereka, millenials ini, agar mereka juga memiliki keselamatan dan nilai-nilai iman Kristen yang disediakan Tuhan Yesus Kristus? Generasi millenials memang bukanlah sebuah komunitas global yang anti nilai-nilai luhur. Tetapi ironi antara idealisme dan realitas yang mereka lihat sendiri itulah yang menggugah mereka untuk eksis dengan cara mereka sendiri, apalagi ditunjang dengan teknologi komunikasi yang canggih dan spektakuler saat ini. Bagaimana mencapai generasi millenials ini dalam situasi dan kondisi mereka seperti yang dilukiskan di atas? Bukankah ini suatu generasi yang perlu disiapkan dan bakal menjadi the instruments of God to reach out the next generations? Inilah ladang baru yang menjanjikan namun sekaligus memberikan tantangan baru bagi semua yang menyebut diri hamba dan pelayan Tuhan “zaman now”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *