Kekasih Sejati dan Roh Penghibur

Lasmini lahir dan besar di Boyolali – Jawa Tengah. Saat ini dia tinggal di Desa Dempokan, RT 5 RW 3 Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali. Sejak kecil Lasmini punya kelemahan fisik yakni kaki yang lumpuh.  Sejak itulah pergumulan hidupnya sudah dimulai. Lasmini masih bersyukur karena dia tinggal di desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, yang turut berperan membentuk kehidupannya mengenal kekristenan dengan baik. Sebagai orang yang lahir di keluarga Kristen, Lasmini memang senang membaca Alkitab. Dan pelajaran sekolah yang paling disukai adalah Pelajaran Agama Kristen. Sejak kecil, sampai remaja dan dewasa Lasmini termasuk orang yang aktif dalam kegiatan kekristenan. Lasmini punya keterampilan menjahit yang sudah lama dia pelajari, yang turut berperan mendatangkan penghasilan untuk kehidupannya.

Lasmini bekerja sebagai penjahit dan sampai di usia yang dianggap matang, akhirnya Lasmini menikah. Dia memulai kehidupan rumah tangganya di usia 23 tahun. Kebutuhan rumah tangga yang tidak sedikit termasuk kebutuhan untuk kelahiran anak sulungnya membuat suaminya harus kerja di luar pulau Jawa. Sayangnya suaminya belum bisa memberikan nafkah bagi keluarga ini, karena kehidupan yang terpisah ini, masing-masing masih butuh biaya yang tidak kecil. Suaminya hanya datang sewaktu-waktu untuk mengunjungi Lasmini dan anaknya. Lasmini tetap dengan kegiatan menjahitnya, yang masih bisa mendatangkan penghasilan itu.

Hidup harus terus berjalan. Saat Lasmini hamil anak kedua, kebutuhan hidup juga makin mendesak, sementara pekerjaan suami di luar pula Jawa dirasa juga tidak mendatangkan income yang cukup. Akhirnya Lasmini harus merelakan suaminya bekerja di Malaysia. Jauh sekali rasanya. Sayangnya, selama suaminya bekerja di Malaysia Lasmini belum sempat menikmati gaji hasil kerja keras suami. Lama kelamaan bukan hanya fisiknya saja yang jauh tapi hatinya juga jauh. Suaminya tidak pernah lagi muncul, dan tidak ada lagi kabar beritanya. Hanya tiga tahun Lasmini merasakan kedamaian kehidupan rumah tangganya, itupun harus hidup terpisah dengan suaminya. Tapi sesudah itu tidak lagi kehidupan rumah tangga yang bisa dinikmati, karena suaminya pergi bukan hanya untuk bekerja, tapi sekaligus meninggalkan Lasmini dan anak-anak. Orang ‘ketiga” lebih menarik perhatian suaminya.

Proses hidup dan ujian iman Lasmini memang panjang. Sejak kecil sudah cacat fisik. Keterampilan yang dia punya hanya menjahit. Setelah menikah justru ditinggal suami karena ada orang “ketiga”. Anak lelaki sulungnya termasuk normal secara fisik, tetapi anak kedua yang perempuan, kondisinya sama dengan dirinya, cacat kaki. Lasmini merasa hidupnya makin terpuruk. Tapi, perjalanan hidup yang pahit ini justru membawa Lasmini lebih dekat pada Tuhan. Ujian ini membuatnya lahir baru di dalam Kristus dan sadar bahwa Tuhan selalu menyertai. Lasmini benar-benar mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Dia merasakan betul, keterampilannya sudah diberkati Tuhan dan itulah yang bisa memberikan penghasilan untuk menghidupi dirinya dan kedua anaknya. Bahkan biaya kehidupan sehari-hari didapat dari penghasilannya sebagai penjahit ini.

Suatu ketika wanita 38 tahun ini mendengarkan siaran radio yang membahas Firman Tuhan dari program Cahyaning Agesang. Sekalipun sangat sederhana, tetapi ia memahami bahwa kemegahan yang sesungguhnya adalah ketika orang mengenal dan memahami Tuhan Yesus. Lasmini mengenal Tuhan Yesus sebagai kekasih sejati dan Roh Penghibur yang menemani. Hidupnya penuh arti bersama Tuhan. Dia  bersuka  cita  sebab  Tuhan menjadi bagian dalam hidupnya. Siaran program Cahyaning Agesang itu memberi pelajaran lebih tentang kekristenan. Lasmini belajar dan mau mengampuni suaminya meskipun sang suami tidak meminta maaf. Sekalipun dia dan anak-anak “ditelantarkan” oleh suami, tetapi dia merasakan Tuhan sudah memulihkan hatinya sehingga tidak ada lagi sakit hati, bahkan dia terus mendoakan suaminya, supaya mengenal dan memahami Tuhan Yesus lebih dalam lagi.

Pengalaman rohani ini menjadi pelajaran kehidupan yang penting bagi pertumbuhan iman Lasmini. Sekarang, ibu dua anak ini memuji Tuhan dan senang menceritakan tentang Sang Raja Damai itu. Lasmini juga senang  berbagi kesaksian hidupnya, yang membuktikan penyertaan Tuhan yang selalu ada untuk dirinya dan anak-anak. Lasmini semakin yakin, pusat dan sumber kehidupan adalah Tuhan, dan bukan harta dan kekuatan manusia. Lasmini menyadari bahwa hanya dengan hati bersyukur, kepahitan dan kekecewaan diubahkan Tuhan Yesus menjadi rasa aman dan tentram. Inilah yang membuat dirinya bisa bersukacita dan bisa menjalani hidup dengan penuh harapan. Lasmini juga ingin terus belajar, dalam keadaan apapun dia ingin selalu bersyukur menikmati anugerah dari Tuhan.

Melalui beberapa SMS nya kepada tim YTWR, Lasmini juga pernah menuliskan, “Melalui siaran yang saya dengar, ada banyak berkat yang membuat iman saya makin kuat. Saya jadi lebih mengerti kalau hidup saya ada dalam rencana Tuhan dan setiap peristiwa yang saya hadapinya ada dalam rencana Allah yang penuh dengan damai sejahtera. Kalau saya seperti ini dan ada sampai sekarang ini, itu hanya karena Tuhan Yesus yang sudah memberikan kelahiran baru dan hidup yang kekal untuk saya. Terpujilah Tuhan Yesus Kristus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *