Nilai Dimulai dari Keluarga

Keluarga adalah tempat pesemaian nilai-nilai kehidupan, yakni nilai-nilai iman dalam kehidupan rohani dan nilai-nilai moral dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai kehidupan sebenarnya sudah mulai ditanam dalam diri seseorang sejak usia dini seseorang dalam pengasuhan orang tua. Dalam usia perkawinan pasangan suami-istri yang masih sangat muda, lahirlah anak-anak ciptaan Tuhan, dan bertumbuh sebagai makhluk sosial yang memiliki masa depan masing-masing. Anak-anak ini dipercayakan oleh Tuhan kepada orang tua, agar orang tua memelihara, mendidik dan membimbing mereka untuk mencapai apa yang diinginkan Tuhan demi suatu kehidupan yang berguna di dalam dunia ini.

Keluarga merupakan “miniatur kehidupan sosial”, bahkan merupakan “miniatur Kerajaan Allah” di bumi ini, dilihat dari sudut pandang kasih, kesucian, dan kehidupan bersama di mana Allah sendiri ingin tinggal di dalamnya. Hal yang paling utama dari Kerajaan Allah adalah suatu kehidupan yang memiliki keselamatan kekal yang tersedia bagi setiap orang yang percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Selanjutnya adalah bahwa Kerajaan Allah itu harus hadir di bumi. Perhatikan kutipan Doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan Yesus: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi ini seperti di Sorga”. Maka nilai-nilai sorgawi yang berasal dari Allah Bapa, yang dikenal dalam diri Tuhan Yesus Kristus, harus ada di bumi ini, menjadi pegangan hidup semua orang di bumi ini. Dan bagaimana itu terjadi? Harus dimulai dari sebuah keluarga. Jadi, keluarga yang sesuai dengan kehendak Allah, berada dalam dua dimensi, yakni dimensi kekekalan (di sorga) dan kekinian (di bumi).

Suami-istri dan ayah-ibu sesungguhnya memiliki “panggilan khusus”, yakni menjadi alat Tuhan demi pembentukan manusia sesuai kehendak Allah. Ini merupakan keseluruhan pekerjaan besar yang membawa manusia sampai kepada “menjadi serupa dengan Yesus Kristus” (Roma 8:29), seperti pada mulanya manusia diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah” (Kejadian 1:26-27). Maka setiap pasangan suami-istri sejak mereka mulai membangun rumah tangga, dan menjadi ayah-ibu saat mereka mulai melahirkan anak, memiliki fungsi utama yakni menjadikan semua anggota keluarganya menjadi orang-orang yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, bertumbuh sehat secara mental-spiritual dan menjadi “serupa dengan Kristus”. Inilah tugas yang harus terus dilakukan untuk menembusi perubahan dunia serta peradaban manusia dengan berbagai nilai baru yang ditawarkan. Inilah tujuan akhir Keluarga Kristen yang harus menjadi saksi Kristus, menjadi garam dan terang bagi dunia ini (Matius 5:13-16).

Harapan dan Tantangan

Sementara kita menaruh harapan pada the young parents, terlihat pula, bahwa tantangan yang dihadapi setiap pasangan orang tua sungguh besar dan beragam. Tantangan-tantangan baik jasmani maupun rohani ini ada dalam segala situasi, dalam berbagai segi, dan datang dari dalam maupun dari luar diri pasangan suami-istri dan orang tua itu sendiri. Semua tantangan ini tak kunjung berakhir, sehingga memaksa para orang tua harus senantiasa belajar dan berjuang mengembangkan kemampuan mereka untuk memikul tanggung jawab mereka. Setiap pasangan orang tua bertanggung jawab kepada masyarakat, tetapi terutama kepada Tuhan yang kepada-Nya setiap manusia harus bertanggung jawab (2 Korintus 5:10).

Peran dan fungsi yang amat penting serta tantangan yang sangat banyak dan berat ini menuntut, pertama-tama kesadaran suami-istri dan ayah-ibu untuk sungguh belajar, agar memiliki cukup pengetahuan, memiliki kesediaan untuk memperbaiki sikap, sekaligus kemauan untuk melakukan seluruh tanggung jawab itu. Akan tetapi pada kenyataannya, kelompok suami-istri dan ayah-ibu yang masih muda ini masih sangat minim memiliki pengetahuan tentang tanggung jawab dan peran istimewa mereka. Sebagai young couples, young parents, mereka memang tidak cukup terbekali sejak sebelum membangun sebuah keluarga. Kesibukan mereka mengejar pendidikan dan bekerja keras demi kebutuhan ekonomi atau sosial sudah merampas hampir seluruh waktu mereka. Sehingga mereka tidak lagi mempedulikan hal-hal mendasar secara rohani demi keluarga mereka.

Dengan memahami keadaan ini, berbagai macam pengetahuan tentang keluarga, kehidupan suami-istri serta hubungan orang tua-anak perlu diberikan secara sederhana, namun juga memungkinkan para orang tua dapat belajar sendiri, kapan saja, di mana saja. Inilah hal-hal yang mendorong perlunya sebuah pelayanan yang diperuntukkan khusus bagi kelompok suami-istri dan atau ayah-ibu, yang masih dalam usia perkawinan yang tergolong muda, antara 1-15 tahun, dengan perhitungan anak-anak masih pra-sekolah hingga belum sekolah menengah umum. Ini adalah waktu di mana anak-anak masih cukup dekat dan melekat kepada orang tua. Ini adalah suatu masa yang sangat memberi harapan, potensial untuk pembentukan manusia sesuai keinginan Tuhan, tetapi sekaligus rawan, agar perlu ditangani secara ekstra hati-hati.

Pasangan muda dalam keluarga ini adalah pemeran terpenting dalam usaha penanaman iman dan nilai serta pembentukan karakter manusia sedini mungkin. Karena pada masa yang krusial dan kritis inilah kebutuhan-kebutuhan yang paling menentukan itu harus dipenuhi sementara pergumulan dan tantangan dari berbagai segi terus bertambah dan semakin berat.

Pengaruh Media

Tidak dapat disangkal, bahwa peran media massa, apalagi dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang tak terbendung, telah mengakibatkan suatu perubahan besar dalam kehidupan umat manusia. Walaupun dengan tujuan yang baik, dalam perkembangannya terlihat, bahwa media sudah seakan-akan menjadi suatu “agama” yang mengatur seluruh kehidupan manusia dengan latar belakang apapun. Media sangat berpotensi mengubah pikiran dan sikap manusia, juga gaya hidup manusia. Media tampaknya lebih dipercaya, dan terbukti lebih sanggup menyediakan informasi atau pengetahuan yang dibutuhkan manusia, tentang apa saja. Karena itu media selalu dicari hampir pada segala waktu hidup manusia itu.
Melalui media, suatu informasi kecil saja, benar atau tidak benar, bisa dengan sangat cepat diketahui, menjadi milik dunia, dan mempengaruhi kehidupan jutaan manusia dalam waktu singkat. Dunia maya atau cyber menjadi tempat pertemuan manusia dari segala penjuru, dari segala suku bangsa, agama, ras dan golongan. Juga dari segala usia dan status. Dan semuanya bisa saling berinteraksi secara langsung dalam hitungan detik, walaupun secara fisik masih jauh terpisah satu dari yang lain. Banyak pula pasangan muda dari latar belakang yang sangat berbeda, memulai atau membangun keluarganya dengan perantaraan media siber ini. Tren ini pun tidak berhenti, semakin berkembang.

Mesin pencari, Google, sudah mengambil alih peran banyak “guide”, pengajar, pendidik, pengkhotbah, dokter, konselor, “imam”, “nabi”, guru, ayah dan ibu. Apa saja yang ingin diketahui seseorang, google sanggup memberitahu dan mengajarkannya seketika itu juga. Ada sebuah sindiran mengatakan, if google cannot find it, it doesn’t exist. Maksudnya bahwa google bisa menjawab apa saja kebutuhan informasi. Jadi kalau sesuatu itu tidak ditemukan di google, maka sesuatu itu sesungguhnya tidak ada. Dengan kata lain, google bagaikan suatu makhluk baru “yang mahatahu” sekaligus sahabat “yang paling setia” dari setiap orang dalam dunia ini. Ini memang sebuah sindiran yang bisa membuat orang tersenyum. Namun pada saat yang sama memberikan warning, bahwa pembinaan dan pembentukan manusia tidak lagi terlalu diharapkan dari orang-orang terdekat yang penuh cinta, melainkan pada perkembangan peradaban dunia dengan perubahan nilai-nilai hidup, yang semuanya disediakan oleh media pada segala waktu.

Peran Kita

Keluarga merupakan tempat penanaman dan pesemaian nilai-nilai iman dan moral, maka kualitas sebuah keluarga merupakan syaratnya. Keluarga juga merupakan tempat di mana sebuah pengaruh yang baik berdasarkan kebenaran yang bersumber pada Tuhan Yesus Kristus mulai menyebar dan menerangi dunia luar. Dan pada saat yang sama, anak-anak dalam sebuah keluarga sebenarnya sedang dipersiapkan untuk menjadi utusan-utusan bagi pekerjaan keselamatan dan pembaruan dunia di masa depan. Jadi, keluarga juga merupakan pangkalan misi atau mission base demi pekerjaan keselamatan dunia. Sesungguhnya tugas perubahan ini harus dimulai dari keluarga dengan peran utama pasangan suami-istri atau ayah-ibu yang sungguh mengerti.

Kondisi keluarga muda, tantangan perubahan nilai, dan peran media massa telah membawa kita pada suatu kesadaran akan suatu kebutuhan yang krusial dan urgen. Maka perlu adanya program pelayanan khusus bagi pasangan muda, yang disiarkan melalui media (tradisional/mainstream dan modern/internet) yang bersifat masal sekaligus personal. Pemberitaan dengan materi-materi khusus untuk the young couples – the young parents, dalam usia perkawinan 1-15 tahun ini sudah seharusnya secara regular disampaikan melalui media, sementara pelayanan atau pembinaan langsung oleh gereja terus berjalan secara intensif.

Gereja dan media seharusnya menjadi good partner untuk menyelamatkan keluarga-keluarga muda, agar mereka tetap bertahan dalam iman, kebenaran dan nilai-nilai kekritenan, dan terus berjuang membentuk karakter Kristen menembusi perubahan zaman. Iman dan etika Kristen seharusnya menjadi milik dunia, dimulai dari Keluarga Kristen. Betapa pentingnya keluarga Kristen menjadi fokus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *