Sebuah Pilihan di Jumat Agung

Anak Manusia yang tak berdosa dan penuh cinta itu, menderita dalam raga dan jiwa, sampai IA mati dalam kesendirian dan kesedihan, dalam kesepian dan kehinaan, sampai pada batas kedalaman yang tidak lagi dapat dipahami oleh siapa pun yang ada di bumi ini.

Namun, suatu ketika, sebelum peristiwa yang memilukan itu terjadi, pada lebih dari 2000 tahun yang lampau, di tanah yang berdebu di kota Yerusalem, menjelang pesta tahunan terbesar bangsa Yahudi, di kelilingi sejumlah orang yang terus mengikuti-Nya karena “haus dan lapar akan kebenaran”, IA, sang Anak Manusia pernah mengatakan ini: “…jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah …untuk itulah Aku datang …apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku”.

Di suatu kegelapan malam yang dingin, di sebuah taman kecil di Getsemani, di pinggiran kota Yerusalem; sesungguhnya itu malam terakhir yang mengantar sang Anak Manusia meniti sesi-sesi akhir dan menjemput detik-detik paling akhir dari kehidupan-Nya sebagai Manusia biasa. Dengan peluh bercampur tetes-tetes darah dari totalitas kegentaran seorang Manusia, IA merintih dan menjerit kepada Bapa-Nya yang di surga, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”.

Lalu, kenapa Anak Manusia memilih jalan ini? Bertahun-tahun lamanya pertanyaan ini telah menggangguku sebelum saat pencerahan dari surga itu datang menghalau pekatnya kegelapan yang menyelimuti nalar dan nuraniku. Kebimbangan tanpa jawaban yang kualami dahulu ini mungkin pula dialami banyak orang lain. Kenapa …, dan kenapa … sang Anak Manusia harus menderita dan mati dengan cara seperti yang dikisahkan Matius, Markus, Lukas dan Yohanes itu?

DIA, Anak Manusia, memang mengasihi Bapa-Nya dengan sepenuh hati, IA menghormati sepenuhnya dan committed menaati kehendak Bapa-Nya sampai kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun. IA mengenal hati BAPA yang mencintai setiap insan dan merindukan untuk mendapatkan kembali semuanya yang telah hilang karena dosa. Sang BAPA sangat menghargai dan mengasihi semua ciptaan-Nya. Sang Anak Manusia tahu betul semua itu; karena IA, dalam “kekekalan”, memang sudah ada sebelum semuanya diciptakan, dan semua ciptaan sesungguhnya ada di dalam DIA.

IA tahu, tak seorang pun manusia yang oleh dirinya sendiri atau dengan bantuan siapa pun “orang hebat” di bumi ini sanggup menghapus aib dalam hidupnya, menyelamatkan dirinya dari hukuman kekal, atau mengubah dirinya menjadi seperti yang diinginkan sang BAPA, lalu bangun dan kembali kepada sang BAPA. IA tahu, bahwa hukuman Allah atas dosa manusia tidak mungkin dapat dihindari. Karena, tak kan pernah ada kompromi antara kesucian Allah dan dosa manusia. IA tahu, manusia tak mungkin sanggup menanggung hukuman yang teramat sangat berat itu; dan manusia tak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri. Kecuali satu saja, satu-satunya, The Only One, yang sanggup melakukan itu menurut ukuran sang BAPA, dan…,
Sang Anak Manusia tahu betul semua itu.

IA tahu persis, Diri-Nya adalah ANAK DOMBA, yang harus dikorbankan, untuk menebus dan memperoleh kembali secara utuh semua insan ciptaan yang tertawan dan terus merintih dalam kesengsaraan dosa, sekalipun mereka itu tidak menyadarinya. IA tahu, bahwa hanya Diri-Nya yang berkenan kepada Allah sang BAPA, dan hanya di dalam DIA, BAPA mendapatkan kembali semuanya. IA pun, dari kekal sampai kekal, sungguh mengasihi semua manusia yang berdosa, tanpa pandang bulu. Hati semacam itu sama dengan hati BAPA-Nya. Sang Anak Manusia tahu betul semua itu.

Maka, IA dengan sadar, rela, mau, dan dalam kasih-Nya yang tak terduga luas dan dalamnya, memilih jalan ini. Anak Manusia memutuskan untuk menempuh jalan ini: Jalan kesengsaraan dan kematian, bukan karena terpaksa, bukan karena terdesak, bukan karena terjebak.
Sang Anak Manusia memang memilih jalan ini.

Untuk siapa semua ini? Untuk aku kan? Tapi, untuk kau juga! Dan, untuk kita semua tentunya. Betapa bahagianya hari ini. Aku sadar lagi, apa arti hari ini bagiku. Sebuah makna buat kau juga, dan makna untuk kita semua …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *