Perlindungan Terhadap Anak Bangsa

Memperbincangkan tentang anak (terutama anak sendiri) semestinya menjadi suatu perbincangan yang menyenangkan apalagi jika anak-anak tersebut tumbuh dengan sehat, memiliki kemampuan yang membanggakan hingga mendapatkan suatu prestasi di tingkat lokal, nasional bahkan Internasional. Namun di sisi lain, kita sebagai orang tua akan sangat sedih jika melihat anak kita sendiri ataupun anak orang lain yang menangis karena tidak bisa makan, atau tidak dapat melanjutkan sekolah atau yang lebih menyedihkan jika anak tersebut adalah korban suatu kejahatan. Dan yang tidak kalah memprihatinkan manakala kita harus menghadapai kenyataan di mana angka kejahatan semakin meningkat dan sebagian besar pelakunya adalah anak.

Apakah anak-anak Indonesia memang tidak mendapatkan perlindungan dari orang tua, masyarakat atau bahkan negara? Padahal kita tahu bahwa tongkat estafet untuk menjadi suatu bangsa yang besar dan kuat terletak pada generasi penerus yang berkualitas secara fisik, psikis dan moral. Untuk apa jika perekonomian negara bagus, atau bahkan negara tidak memiliki hutang, kekayaan alam berlimpah ruah jika generasi penerus bangsa ini dirusak oleh pornografi, kecanduan narkoba, seks bebas, perkosaan, bullying, tawuran dan masih banyak hal yang membuat generasi kita hancur. Menjadi sangat penting untuk menilik kembali peran gereja dalam membina dan melindungi laskar-laskar muda Kristen.

Sebenarnya Indonesia sejak tahun 2003 telah mensahkan suatu peraturan yang memiliki tujuan untuk melindungi tunas muda bangsa Indonesia yakni melalui Undang-Undang No 23 tahun 2003 yang memiliki 3 landasan filosofis yakni: 1. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia; 2. bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya; 3. bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan.

Artinya, kedudukan anak yang sangat strategis untuk masa depan Indonesia sudah diambil alih oleh negara sehingga paradigma yang selama ini melekat pada masyarakat Indonesia bahwa anak adalah domain orang tua yang seakan-akan berada di bawah kekuasaan orang tua dan dapat diperlakukan sekehendak hati orang tua sudah harus diubah, kerena sekarang anak adalah aset negara yang harus dan wajib untuk dilindungi. Dalam perjalanannya dirasakan ada beberapa hal yang memerlukan perubahan untuk penguatan posisi anak, maka Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 ini mengalami amandemen atau perubahan pada beberapa pasalnya dan menjadi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak.

Yang harus diketahui pertama-tama ialah  berapa usia seseorang yang dapat disebut anak di Indonesia. Menurut pasal 1 angka 1: Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Jadi menurut UU Perlindungan Anak mereka yang sudah berusia 18 tahun dianggap sudah dewasa secara hukum dan dapat melakukan perbuatan hukum secara mandiri. Di dalam UU Perlindungan Anak ini ada 4 prinsip hak anak yang harus diketahui untuk menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia, yaitu: a. non diskriminasi; b. kepentingan yang terbaik bagi anak; c. hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan d. penghargaan terhadap pendapat anak.

Ke empat prinsip ini kemudian dijabarkan dalam pasal 4 sampai dengan pasal 18, beberapa hak tersebut diantaranya: hak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang; berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya; berhak memperoleh pendidikan; khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya; berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan dan penyiksaan. Dalam menjaga agar hak-hak ini ditaati oleh semua pihak terutama dari inner circle keluarga yaitu orang tua atau wali, maka dalam UU ini dicantumkan dalam pasal 13 ayat (2) jika terjadi adanyaperbuatan sebagai berikut: a. diskriminasi; b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; c. penelantaran; d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan; e. ketidakadilan; dan f. perlakuan salah lainnya. Dalam hal orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka mereka sebagai pelaku akan dikenakan pemberatan hukuman. Ini menunjukkan bagaimana Negara sangat melindungi anak-anak  Indonesia.

Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa secara de jure (hukum), Indonesia yang tunduk pada Konvensi Internasional terkait dengan Konvensi Hak Anak, telah meratifikasi konvensi tersebut ke dalam UU Perlindungan Anak dan merumuskan dalam setiap pasalnya. Dalam hal ini, Indonesia telah berusaha untuk memberikan perlindungan  hukum bagi setiap anak yang memiliki kewarganegaraan Indonesia agar secara konstitusional mendapatkan haknya secara utuh dan terlindungi. Namun secara de facto (fakta hukumnya), apakah benar anak-anak di Indonesia sudah mendapatkan secara utuh haknya? Ulasan ini sebenarnya cukup panjang karena berbicara tentang perlindungan terhadap anak, maka ada 3 ruang lingkup anak yang harus dilindungi, yakni: 1. Anak secara umum; 2. Anak sebagai pelaku tindak pidana dan 3. Anak sebagai korban. Pada tulisan kali ini, hanya dibatasi pada ruang lingkup yang pertama saja yaitu perlindungan terhadap hak anak secara umum.

Berdasarkan pada beberapa data penelitian tentang hak anak, ternyata belum semua anak Indonesia dapat menikmati haknya. Contohnya, masih ada anak Indonesia yang tidak dapat menikmati haknya untuk tumbuh kembang secara fisik dengan baik karena gizi buruk yang mereka alami karena ketidakmampuan finansial dari orang tua untuk memberikan makanan yang bergizi. Namun di pihak lain, ada banyak orang tua yang secara finansial mampu tetapi mereka tidak memperhatikan asupan gizi yang baik untuk tumbuh kembang anak-anaknya dengan memberikan makanan yang terkesan mewah tetapi termasuk dalam kategori “junk food”. Hak untuk memperoleh pendidikan juga masih menyimpan banyak persoalan.

Anak-anak Indonesia di 34 propinsi yang tidak sekolah sehingga tidak menyelesaikan wajib sekolah 12 tahun sesuai yang dicanangkan oleh Pemerintah. Kondisi perekonomian orang tuanya yang berada di bawah garis kemiskinan menempati posisi teratas, namun ada juga yang  putus sekolah akibat pergaulan yang tidak benar sehingga malas dan tidak mau belajar di sekolah. Masih terdapat diskriminasi terhadap anak di beberapa tempat di mana mereka dipaksa untuk mengikuti kegiatan keagamaan pada suatu sekolah tertentu yang bukan agama anak tersebut. Jika tidak mengikuti keinginan sekolah maka siswa tersebut terancam tidak naik kelas bahkan dikeluarkan dari sekolah.

Ada 3 pihak yang diamanatkan oleh Undang-Undang memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan terhadap anak yaitu: negara, masyarakat dan orang tua atau keluarga. Masing-masing pihak tentu memiliki peranan yang berbeda. Negara memberikan perlindungan melalui peraturan yang ditetapkan. Orang tua jelas memiliki peranan yang signifikan karena merekalah yang mengetahui kondisi dan sifat khusus dari masing-masing anak. Dan yang tidak kalah penting adalah masyarakat. Komunitas gereja adalah bagian dari masyarakat yang harus juga mengambil peranan untuk berkontribusi di dalam memberikan perlindungan terhadap hak-hak anak melalui pelayanan komisi anak dengan berbagai cara yang ada dalam program masing-masing gereja.

Memberikan makanan yang sehat pada anak-anak sekolah minggu. Mengajar ketrampilan pada anak-anak sesuai bakat dan talentanya untuk dipakai melayani Tuhan. Memberikan beasiswa bagi anak-anak jemaat yang kurang mampu sehingga tidak ada yang putus sekolah. Membuat taman bermain dan taman bacaan sehingga anak-anak memiliki pengetahuan yang banyak dan tidak terjebak dalam permainan game dan gadget. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menolong anak-anak kita bertumbuh menjadi anak yang cerdas dan berkualitas serta memiliki hati yang takut akan Tuhan. Anak-anak kita, anak-anak di sekitar kita, semua anak adalah Anak Bangsa yang harus kita lindungi. Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus menyertai kita dan anak-anak Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *