Persekutuan Yang Indah

Apakah yang dimaksud dengan “Persekutuan yang Indah” ? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “persekutuan” diartikan sebuah wadah perhimpunan yang memiliki sebuah tujuan dan ikatan antara satu anggota dengan anggotanya yang lain.

Jadi, persekutuan di sini bukanlah sebuah gerombolan orang yang tanpa tujuan yang jelas dan tanpa ikatan satu dengan yang lain. Bukan pula sekumpulan orang yang sedang berkumpul di sebuah tempat, misalnya kumpulan orang di terminal atau di bioskop di mana satu dengan yang lain tidak saling mengenal. Banyak orang Kristen yang melihat persekutuan di gereja seperti nonton bioskop. Datang beribadah di hari Minggu tapi tidak peduli kiri kanan. Baginya, yang terpenting adalah mendengar Firman Tuhan. Selesai ibadah, langsung pulang. Tidaklah salah, kita fokus pada Firman Tuhan. Namun relasi antarsesama juga dibutuhkan dalam sebuah persekutuan. Jika tidak, maka dapat dikatakan, itu bukan persekutuan.

Lalu apa itu “indah”? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “indah” adalah keadaan enak dipandang. Jadi, kalau kita berkata “persekutuan yang indah”, itu berarti persekutuan itu harus enak dipandang oleh orang, baik dari dalam maupun dari luar. Keadaan bagaimanakah yang dikatakan sebagai keadaan yang enak dipandang? Bacaan kita mengatakan bahwa sebuah persekutuan dikatakan indah atau enak dipandang adalah apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.

Dalam konteks persekutuan, saudara-saudara yang dimak-sud adalah anggota-anggota dalam persekutuan itu. Mereka harus diam dan hidup bersama, berbagi suka-duka dan berbagi perasaan. Bagaimana caranya? Dengan “rukun”. Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa hidup “rukun”? Tapi sebelum kita lebih jauh sampai ke sana, kita bertanya dahulu, apakah “rukun” itu? KBBI menerangkan bahwa “rukun” itu bisa diartikan sebagai keadaan tidak bertengkar atau bisa disinonimkan dengan kata damai.

Jadi, kalau pertanyaannya “bagaimana kita bisa hidup rukun”, maka itu sama dengan pertanyaan “bagaimana kita bisa hidup dalam damai”. Dalam bahasa Ibrani, “damai” itu adalah “syalom”. Kata syalom ini bisa diartikan sebagai keadaan yang selaras dan serasi atau sehati sepikir antara satu orang dengan orang lain. Kalau begitu, pertanyaan selanjutnya adalah: “Bagaimana kita bisa hidup sehati sepikir itu?” Maka Filipi 2:1–10 adalah jawabannya.

Kalau kita simak baik-baik nasihat Paulus kepada jemaat di Fi-lipi ini, kita akan menemukan, bahwa kata kunci untuk sebuah kehidupan yang sehati sepikir, bahkan dikatakan untuk kehidupan dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, adalah KERENDAHAN HATI. Kerendahan hati inilah yang sejujurnya harus diakui paling sulit dilakukan. Apa itu merendahkan hati? Filipi 2:2b mengatakan bahwa merendahkan hati itu berarti tidak menganggap diri kita yang lebih utama dari orang lain. Orang lain ditempatkan sederajat dengan kita atau mungkin lebih utama dari diri kita sendiri. Itu yang dinamakan kerendahan hati.

Sekali lagi, itu pasti sulit kita lakukan. Karena apa? Karena kenyataannnya keinginan atau kehendak kitalah yang maunya didahulukan. Bukan keinginan atau kepentingan orang lain, atau kepentingan bersama. Coba perhatikan. Adanya percecokan, perselisihan bahkan peperangan yang terjadi di sekitar kita, baik dalam keluarga, masyarakat, bahkan gereja kita, apakah penyebabnya? Tidak lain karena adanya kehendak atau kepentingan pribadi yang dipaksakan. Tidak ada peduli akan kepentingan orang lain.

Saya kira demikian juga dalam kehidupan keluarga dan persekutuan kita. Biasanya konflik terjadi karena tidak ada yang mau mengalah. Semuanya merasa diri paling benar. Kita berkata: “Pokoknya, sayalah yang paling benar dan kamu salah.” Kita tak punya kerendahan hati untuk melihat, mungkin kitalah yang salah. Ataupun kalau kita benar, mungkin kebenaran kita tidak seratus persen benar dan kesalahan orang lain juga tidak seratus persen salah. Karena sesungguhnya tak ada orang yang sempurna di dunia ini. Setiap orang pasti tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Setiap orang pasti punya kesalahan dan kebenaran. Namun, jika kita mau sedikit merendahkan hati, semua masalah perselisihan atau percecokan dapat diselesaikan.

Rasul Paulus memberi contoh dengan menunjuk kepada Yesus sendiri. Untuk mendamaikan manusia dengan Allah, Yesus mau merendahkan hati-Nya, bahkan merendahkan diri-Nya. Ia mau merendahkan diri-Nya hingga menjadi sama dengan manusia, agar manusia dapat bersekutu kembali dengan Allah Bapa di Sorga. Ia mau menjadi hamba yang direndahkan dan dihina untuk menyambung kembali hubungan Allah dengan manusia.

Coba bayangkan kalau Yesus tetap berada di takhta-Nya, tidak mau turun. Kalau demikian maka saudara dan saya pasti tak akan memperoleh keselamatan. Kedamaian dengan Allah tidak akan pernah diperoleh dengan usaha manusia. Kalau Yesus saja mau merendahkan hati-Nya, bahkan merendahkan diri-Nya, kenapa kita tidak? Janganlah terlalu mempertahankan gengsi? Jangan terlalu “jual mahal” untuk kerendahan hati. Sekali-sekali, cobalah menunduk demi kedamaian. Belajarlah untuk menganggap yang lain itu juga penting.

Nah, coba bayangkan kalau dalam sebuah persekutuan, se-tiap orang saling memperhatikan dan mendoakan, saling mengasihi dan merendahkan hati, mau juga mendengar sesamanya dan tidak hanya mau berbicara. Pokoknya, kalau setiap orang saling menempatkan orang lain lebih utama dari dirinya sendiri, maka persekutuan yang indah itu tentu akan dirasakan. Dan, jika hal itu terjadi, maka akan terjadi sebagaimana Mazmur 133 mengatakan: berkat-berkat Allah akan mengalir dalam persekutuan tersebut, sama seperti embun dari gunung Hermon ke atas gunung Sion.

Jadi, ingatlah! Persekutuan indah tidak akan terwujud tanpa kerendahan hati. Kerendahan hati adalah prasyarat untuk persekutuan yang indah, tepat sebagaimana Yesus telah merendahkan diri-Nya demi sebuah persekutuan yang indah di antara manusia dan Bapa di sorga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *