Servant Leadership

Seorang teman dari Finland menanyakan sesuatu yang bagi orang Indonesia adalah hal yang sangat biasa saja. Di sebuah rumah makan, ketika memesan minuman, saya memesan jus Sirsak. Dia bertanya: Apa itu?” Kemudian saya menjelaskan dalam bahasa Inggris, itu soursop. Namun ia tetap bertanya, seperti apa buah itu? Kemudian saya menunjukan kepadanya sebuah gambar buah sirsak. Berharap dia akan memahaminya, ternyata dia juga bingung, karena di negaranya tidak ada yang namanya buah Sirsak. Jadi dia tidak dapat membayangkan seperti apa buah sirsak itu, sekali pun ia mencoba mencicipi rasanya.

Servant Leadership merupakan sebuah istilah dalam kepemimpinan yang lebih popular dalam kalangan Kristen. Itu pun tidak semua orang memahami apa Servant Leadership itu. Mungkin jika diterjemahkan secara secara bebas, orang akan memahami sebagai “kepemimpinan hamba”. Ini pun juga akan membingungkan orang. Mengapa membingungkan? Karena dua kata yang dipergunakan jika diterjemahkan akan memiliki makna yang saling bertentangan. Kepemimpinan dan hamba. Kepemimpinan berkonotasi kekuasaan, sedangkan hamba selalu dikonotasikan sebagai pelayan atau budak yang tidak dapat di sejajarkan dengan seorang pemimpin. Yang satu ada pada level yang tinggi, sedangkan yang lain berada pada level yang paling rendah. Itu sebabnya jika dua kata ini dijadikan satu, maka akan membuat kebingungan para ahli kepemimpinan dunia.

Sebuah artikel yang ditulis oleh Pdt. Ruslan Christian, yang dipublikasikan oleh Yayasan Lembaga Sabda (YSLA) tentang Kepemimpinan Kristen VS Kepemimpinan Sekuler, mengutip tulisan Henry Pratt Fairchild yang menjelaskan, bahwa pemimpin -dalam pengertian luas- adalah seorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial de ngan mengatur, menunjukan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain. Semua itu dilakukannya melalui prestise, kekuasaan, atau posisinya. Merujuk kepada pengertian pemimpin tersebut di atas -yang di dalamnya ada usaha untuk mengontrol melalui kekuasaan atau posisi- maka kelihatan hal ini bertolak belakang dengan pengertian kata “hamba” sebagai obyek yang dikontrol oleh sebuah kekuasaan atau posisi.
Jika demikian, bagaimana kita dapat memahami maksud dari sebuah model kepemimpinan yang disebut Servant Leadership? Servant Leadership tidak dapat dipahami dengan kaca mata ilmu kepemimpinan dunia/sekuler. Sebab jika seseorang memaknai Servant Leadership dari kacamata kepemimpinan sekuler, maka cara pandang itu akan mengaburkan makna sesungguhnya dari Servant Leadership tersebut. Akibatnya, bisa jadi seseorang akan memakai baju pemimpin Kristen, namun menerapkan nilai-nilai kepemimpinan sekuler.

Servant Leadership harus dilandasi oleh nilai-nilai dari mana konsep tersebut dimulai. Servant Leadership dimulai dari seorang pribadi yang bernama Yesus. Servant Leadership bukanlah sebuah konsep sebagai hasil pikiran manusia. Servant Leadership adalah sebuah model kepemimpinan yang di contohkan oleh pribadi yang bernama Yesus. Yesus tidak mengajarkan ilmu-ilmu kepemim-pinan kepada para pengikut-Nya, atau memberikan teori-teori kepemimpinan melalui seminar-seminar atau khotbah-khotbah-Nya. Yesus memberikan contoh langsung tentang bagaimana sepatutnya yang harus dibuat atau dilakukan oleh seseorang memimpin.

Yesus menegaskan, bahwa cara memahami kepemimpinan bukanlah sama seperti cara dunia memahami kepemimpinan sebagai sebuah jabatan atau posisi. Coba lihat apa yang dicatat dalam Kitab Suci demikian: Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” (Matius 20:22).

Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:23-28).

Beberapa nilai dari kepemimpinan yang melayani telah dicontohkan langsung oleh Yesus. Servant Leadership bukanlah tentang posisi atau jabatan dalam sebuah pemerintahan atau organisasi. Bukan pula tentang otoritas untuk memerintah orang lain demi mencapai sebuah tujuan. Servant Leadership bukan pula berbicara tentang fasilitas dan atau kesenangan yang didapat dari sebuah jabatan. Servant Leadership adalah sebuah model kepemimpinan yang seratus persen berfokus pada apa yang telah dilakukan oleh Yesus.

Lalu, apakah yang telah dilakukan oleh Yesus? Yesus memberikan sepenuhnya kesuksesan, kebahagiaan, kenyamanan, dan kelengkapan kepada orang-orang yang dilayani. Bahkan dalam catatan Kitab Suci, diketahui bahwa Yesus bahkan telah memberikan nyawa-Nya sendiri bagi manusia. Dengan demikian, Servant Leadership bukanlah sebuah cara atau strategi bagaimana memimpin dengan baik. Tetapi Servant Leadership adalah sebuah tindakan memberi dan berkorban bukan untuk kepentingan diri sang pemimpin, melainkan memberi dan berkorban untuk kebahagiaan umat manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *