Damai di Hatiku

Ketika damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati, maka kekecewaan, kesedihan dan kesepian akan memudar. Dendam dan benci terhalaukan. Manusia akan lebih sudi dan sanggup mengerti dan menerima satu akan yang lain. Memaafkan dan mengampuni bukan lagi menjadi persoalan yang terlampau sulit. Manusia tak akan lagi tega saling menghukum apalagi saling menyingkirkan.

Insan-insan beriman akan pula bersukacita dan bersyukur atas kehidupan yang dianugerahkan Tuhan Yesus ini. Sesungguhnya damai atau damai sejahtera itu adalah bagian dan kelengkapan dari suatu kehidupan yang telah dibaharui oleh karena iman dan kasih kepada Tuhan Yesus Kristus.

Kutipan ayat Firman Tuhan di atas menunjukkan bahwa damai atau damai sejahtera itu sudah ada, yang berasal dari Yesus Kristus, yang disebut sebagai damai sejahtera Kristus. Jadi bukan damai sejahtera yang datang dari sumber-sumber lain, atau diciptakan oleh manusia. Damai sejahtera Kristus inilah yang harus mendominasi kehidupan manusia, dan harus mendapat tempat seluas-luasnya untuk memerintah dalam hati manusia. Kata “hendaklah” merupakan kata perintah secara halus, yang harus ditaati bukan secara terpaksa, melainkan dengan kesediaan atau pilihan bebas dari suatu kesadaran yang dalam akan tujuan damai sejahtera itu diberikan.

Lalu, bagaimana damai itu disadari dalam diri orang beriman, dapat menyentuh semua segi dalam kehidupan riil, dan dapat berpengaruh dalam kehidupan antarsesama untuk menyatakan hadirnya Kerajaan Allah dalam dunia ini? Sebelumnya kita perlu menyimak apa makna kata damai itu dalam pengertian umum. Menurut KBBI, damai itu adalah keadaan tidak ada perang, situasi tanpa permusuhan, atau tidak ada kerusuhan. Sebaliknya damai itu menunjukkan adanya keadaan tenang, aman, tenteram, dan rukun.

Damai ini memang ada dalam diri setiap orang, tetapi pada saat yang sama ketidakdamaian itu pun ada dalam diri insan yang manusiawi itu. Damai dan tidak damai itu seakan masih tersimpan dan tersembunyi sehingga tidak disadari, dan tidak mempunyai pengaruh apa-apa.

Damai atau tidak damai itu sebenarnya sudah dimulai dari pikiran dan sikap hati seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Damai atau tidak damai itu juga ada dalam pikiran dan sikap satu kelompok orang terhadap kelompok yang lain. Kalau tidak ada pertengkaran, tidak ada perang belum berarti sudah ada damai. Sebaliknya damai pun dapat bergema dan berpengaruh mengubah kehidupan seseorang sekalipun dalam situasi yang tidak mendukung.

Dilihat dari sudut pandang yang berbeda, damai yang sudah dimiliki seseorang pun bisa hilang karena berbagai alasan. Menyalahkan dan disalahkan orang lain, melukai dan dilukai orang lain, merekayasa perbuatan-perbuatan dengan cara sehalus apa pun untuk mengorbankan orang lain, demi kepentingan diri, dan lain sebagainya, semua ini akan menghapuskan rasa tenteram dan damai di hati orang. Dan bahkan yang bersangkutan akan dengan sendirinya merasa seperti dikejar dosa dan merasa terhukum. Demikian pula rasa tidak percaya diri, perasaan tidak berdaya, pesimis dalam dalam perjuangan hidup, semua ini akan menghilangkan ketenangan dan ketenteraman, serta menciptakan rasa tidak aman dan tidak nyaman, atau menghilangkan damai itu sendiri yang seharusnya telah dimiliki.

Damai itu juga sekaligus bergantung kepada bagaimana pikiran seseorang, yang dapat mempengaruhi sikapnya baik terhadap persoalan yang ada maupun terhadap orang-orang yang terkait dengan persoalan yang sedang terjadi. Maka kita dapat melihat di sini, bahwa pikiran dan sikap itu telah memiliki andil besar dalam hal menciptakan perasaan damai atau tidak damai dalam diri seseorang. Jadi, semua pikiran dan perasaan tidak damai dan tidak tenteram yang menimpa seseorang, sebenarnya adalah akibat dari apa yang dipikirkannya dan apa yang sesungguhnya merupakan sikap pribadinya, baik terhadap seseorang atau terhadap suatu persoalan atau peristiwa tertentu. Dan bahwa pikiran, perasaan dan sikap yang negatif apalagi tidak benar, itulah yang akan menjadi biang ketidakdamaian dalam diri manusia. Dan kalau hal ini terus ditolerir, tidak diatasi sejak dini, maka akan berakibat hal-hal yang lebih gawat.

Kita perlu berpikir positif, dan mengembangkan pikiran positif dalam hidup bersama orang lain. Berpikir positif dimulai dengan mulai berusaha mengerti orang lain apa adanya, serta mengerti persoalan yang ada secara tepat, apa adanya, tidak dikurangi, dan tidak pula dilebih-lebihkan, juga tidak menyimpang dalam analisa dan penafsiran atas persoalan itu. Kemudian kita seharusnya mengembangkan sikap yang positif pula, artinya menerima keadaan yang sebenarnya, dan menerima satu akan yang lain sebagai insan manusiawi yang masing-masing memiliki kekurangan tetapi juga kelebihan yang akan saling menguntungkan dan membawa hal-hal yang lebih berguna bagi semua pihak.

Ini berarti kita sendiri menghindari pergesekan atau perseteruan demi mendapatkan kenyamanan dan ketenteraman, dan menghindari konflik untuk mendapatkan kedamaian. Demikianlah usaha-usaha kita untuk menikmati apa yang disebut damai itu. Usaha-usaha dalam cara berpikir, cara bersikap dan berperilaku, sepatutnya didasarkan pada damai sejahtera Kristus yang sudah dianugerahkan saat kita percaya dan menyerahkan diri kita secara total kepada Kristus. Dan hal itu akan menunjukkan bahwa kita sedang memberi kesempatan pada damai sejahtera Kristus itu untuk memerintah dalam hati dan seluruh kehidupan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *