Ironi Perayaan Natal

Menjelang Hari Natal, beberapa tahun lalu, melalui telepon saya diwawancarai oleh wartawan “RRI World Service – Voice of Indonesia”. RRI Jakarta ketika itu memproduksi paket Feature Natal untuk disiarkan kepada seluruh pendengar Indonesia secara internasional. Ada tiga pertanyaan yang diberikan kepada saya sebagai seorang Pendeta GKJTU. Pertama, tentang makna Natal. Kedua, tentang Pesan Natal. Ketiga, tentang makna serta pesan Natal itu dihubungkan dengan kehidupan bangsa Indonesia.

Sebagai kesimpulan dari keseluruhan wawancara itu, saya mengatakan demikian. Perayaan Natal sesungguhnya adalah perayaan kelahiran Yesus Kristus sebagai Manusia, lebih 2000 tahun lalu di sebuah kota kecil bernama Betlehem, di Israel. Makna kelahiran Yesus adalah penyederhanaan hidup demi tujuan paling mulia yakni keselamatan umat manusia. Pesannya adalah pilihan untuk hidup sederhana dengan komitmen pengorbanan demi orang lain yang membutuhkan keselamatan, yang ujungnya adalah pemuliaan Allah. Hubungannya dengan bangsa kita, adalah ketika setiap orang Kristen committed untuk berkata benar, melakukan kebenaran dan kebaikan, atau dengan ikhlas menjadikan dirinya berguna di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, umat Kristen seharusnya menjadi garam dan terang Kristus untuk bangsa Indonesia dan seluruh rakyatnya.

Lalu, apa ironi Perayaan Natal di masa kini? Kelahiran Yesus adalah sebuah fakta perendahaan diri Allah, menjadi Manusia, dengan segala kesederhaannya, agar dapat dijangkau dan disentuh oleh manusia berdosa. Tetapi Perayaan Natal hari-hari ini lebih menunjukkan indikator peninggian diri pemimpin dan umat Kristen yang merayakannya, dengan segala kemewahan sebisa mungkin. Sayangnya ini justru membuat gap dengan kaum yang terhilang semakin menganga lebar. Akhirnya justru semakin sulit komunikasi satu sama lain.

Pada kelahiran Yesus, orang-orang terpinggirkan dan tidak diperhitungkan, yakni para gembala di padang Efrata, serta kelompok terpandang yang sangat disegani, yakni ilmuwan astrologi yang dibanggakan dari Persia ─sebuah negeri besar dan jauh di Timur─ datang membawa diri menyembah bayi Yesus dengan persembahan yang amat berharga. Namun, di masa kini, banyak orang dari berbagai latar belakang berbondong-bondong dengan “sejuta” penampilan yang mempesona datang merayakan Kelahiran Yesus di tempat terhormat, dengan kemewahan yang mengagumkan dan serba mahal. Sayangnya, orang-orang datang dengan persembahan ala kadarnya saja, padahal seharusnya untuk sebuah pekerjaan besar pemberitaan Yesus Juruselamat ke seluruh dunia, atau untuk mengangkat hak hidup orang-orang yang tak berdaya serta mengentaskan orang-orang dari dalam tekanan dan penderitaan.

Maka, tampaknya, Perayaan Natal tidak lagi identik dengan kesederhanaan dan pengorbanan demi keselamatan manusia, sebaliknya identik dengan kemewahan dan kemuliaan para pengikut Yesus. Perayaan Natal tidak lagi menjadi momentum penyerahan diri dan persembahan berharga untuk Yesus sang Raja, melainkan hampir semata-mata menjadi ajang kreasi seni untuk prestise dan martabat manusia. Apakah betul adanya ironi-ironi Perayaan Natal ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *