Refleksi: Damai itu indah

Bulan Desember, bagi umat Kristen di seluruh dunia, merupakan bulan istimewa karena pada bulan inilah dirayakan Natal sebagai bentuk penghormatan akan kedatangan Yesus ke dunia.  Gereja-gereja telah membentuk panitia untuk merancang perayaan Natal yang istimewa.  Berbagai latihan pun dilakukan untuk mengisi acara baik itu drama, paduan suara, dan lain-lain.

Setiap tahun perayaan Natal selalu dirayakan dengan biaya yang sangat besar. Dan tentu umat pun dengan gembira dan sukacita menyambutnya.  Namun, apa sebenarnya hakekat dari Natal itu sendiri?  Bukankah Natal merupakan momentum Allah mewujudkan cinta-Nya kepada umat Manusia?  Umat Manusia yang bagaimana? Umat manusia yang telah memberontak kepada-Nya. Umat Allah yang telah meninggalkan-Nya dengan mengikuti ilah lain, bahkan mengikuti jalannya sendiri.  Tapi Allah mencari manusia dan bersedia berdamai melalui Yesus Kristus.  Ini berarti bahwa Allah sangat mencintai Kedamaian. Nah, bagaimana dengan manusia yang telah menerima pendamaian dari Allah?  Sepatutnya juga hidup berdamai dengan sesama.

Sangat menarik bahwa penerapan damai itu ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Damai itu memang indah, namun damai juga sangat mahal harganya.  Dalam Amsal 25:20-21, dan Roma 12:20-21, disampaikan sebuah narasi yang menyatakan bahwa damai itu indah sekaligus mahal.  Indah karena damai selalu berdampak bagi kesejahteraan umat.  Mahal karena tidak bisa hanya ada dalam tataran narasi ucapan ataupun tulisan.

Damai harus terwujud dalam sebuah tindakan nyata:”Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu.” Inilah contoh sebuah tindakan pro-aktif untuk melakukan sebuah aksi nyata yang dimulai dengan memberi sesuatu yang berguna bagi musuh. Kata,”berilah” memiliki makna lugas dari sebuah tindakan yang menguntungkan. Ketika seseorang tersakiti, maka akan ada kepahitan dalam hati.

Kepahitan akan memenjarakan seseorang untuk membuka diri dengan orang lain.  Akibatnya, dia akan hidup dalam dunianya sendiri, dan menikmati tusukan-tusukan kepahitan yang makin lama membuatnya hidup dalam kegelapan. Melepaskan diri dari penjara kepahitan, tidak dapat hanya dilakukan dengan sebuah niat belaka. Kepahitan akan dapat dihancurkan hanya melalui sebuah rekonsiliasi dua pihak yang berseteru. Dan tindakan rekonsiliasi tersebut akan menemukan kuasanya ketika dua pihak bertemu dan saling memberi.

Itulah sebabnya, Kitab suci dengan sangat jelas memberikan solusi untuk mengakhiri konflik yaitu dengan melalui rekonsiliasi produktif dalam bentuk-bentuk yang dapat dirasakan oleh kedua belah pihak.  Dalam beberapa kasus, sebuah konflik bisa diselesaikan melalui meja perundingan.  Bahkan konflik besar pun dapat diselesaikan dalam sebuah jamuan makan bersama.  Kata kunci yang hendak ditekankan dalam bagian ini adalah bahwa damai itu indah.  Damai itu adalah hak setiap orang, dan damai itu mensejahterakan semua orang.  Namun, damai itu juga mahal tatkala setiap orang hanya mementingkan dirinya sendiri dan menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya.

Dalam Filipi 2:3, dituliskan, ”…dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” Dari ayat tersebut dapat kita pahami bahwa sikap menghargai dan menghormati orang lain sebagai pribadi yang istimewa adalah sebuah pintu masuk terciptanya sebuah perdamaian.

Dan karena sikap menghargai inilah maka seseorang akan dapat dengan mudah untuk memberi bagi sesamanya.  Dalam konteks Kitab Amsal 25:21-22, penghargaan seseorang terhadap orang lain –terlebih lagi terhadap musuh- adalah melalui pemberian makan dan minum.  Pemberian makan dan minum ini adalah simbol penghargaan terhadap sebuah kehidupan yang adalah hak bagi semua orang. Ketika seseorang memberikan kehidupan bagi sesamanya tanpa memandang latar belakang, bahkan musuh sekali pun, maka pada saat yang bersamaan ia sedang menaburkan benih-benih kedamaian dalam kehidupan umat manusia.

Damai itu Indah akan menjadi sesuatu yang nyata dalam kehidupan umat manusia secara khusus umat Kristen ketika setiap pribadi bersedia berbagi dengan kerendahan hati. Memberikan orang lain ruang untuk hidup pada hakekatnya telah melaksanakan cinta kasih Tuhan bagi dunia ini. Indahnya dunia dan tumbuhnya kedamaian di setiap pribadi, setiap keluarga, setiap masyarakat itu dimulai dari sikap saling menghargai sesamanya.

Mendapatkan damai adalah dambaan setiap mahluk dan ada harga yang harus dibayar. Pengorbanan untuk melepaskan seluruh ego dan melangkah dengan kerendahan hati menuju gerbang rekonsiliasi adalah harga yang harus dibayar. Dan Kristus telah mencontohkan dalam sebuah tindakan nyata tatkala Ia mencari manusia yang memberontak kepada-Nya dengan rangkulan kasih sayang. Damai itu Indah dan akan menjadi milik setiap pribadi secara khusus umat Kristiani ketika merayakan Natal jika hatinya selalu terbuka untuk mengampuni dan memberikan kebaikan-kebaikan kepada orang-orang termasuk yang memusuhinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *