Optimisme Pilihanku

Antara harapan dan kenyataan merupakan kondisi psikologis manusia yang mungkin ada, misalnya pada pergantian tahun atau pada hari-hari ulang tahun. Orang cenderung menantikan kapan harapannya menjadi kenyataan, dan yang dikuatirkan tak kunjung tiba. Namun kadang-kadang terjadi sebaliknya, yang diharapkan tak kunjung tiba, dan yang tidak diharapkan justru menjadi nyata. Atau yang menyedihkan menjemput, sementara yang menyenangkan tak pernah muncul; dan yang dicintai menjauh sementara yang dibenci mendekat dan menyapa. Yah, apa daya manusia yang lemah ini? Setiap periode waktu atau zaman yang berganti, memang selalu diliputi rahasia, sekalipun rencana dan kalkulasi tuntas tersusun rapi. Dan selalu juga ada suatu “kuasa” yang dapat memberikan kenikmatan, tetapi juga dapat mengizinkan penderitaan.

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap dalam suatu wilayah tak menentu? Bagaimana kita harus bersikap di antara optimisme dan pesimisme? Yang pasti bahwa, optimisme dan pesimisme dapat selalu berdampingan dalam diri setiap orang. Dan kerahasiaan masa depan justru akan mendorong untuk berpikir dan bersikap secara benar. Karena itu, keterbatasan manusiawi bukan alasan untuk menyerah kepada nasib, melainkan menyerah kepada suatu “kuasa” yang sanggup mengubah kehidupan ini.

Mungkin kita pernah melihat dan mengenal banyak orang di luar sana, yang secara fisik maupun mental sangat terbatas. Keadaan mereka yang kurang beruntung telah membuat mereka  mengalami bukan hanya penderitaan dan kekecewaan, tetapi juga depresi yang dalam, sehingga mereka tidak lagi memiliki semangat untuk hidup. Sekalipun demikian, mereka juga tidak membiarkan keadaan itu menjerumuskan mereka ke dalam suatu kejatuhan yang lebih dalam lagi tanpa harapan sama sekali. Mereka kemudian bangkit untuk memulai suatu babak baru dalam meneruskan kehidupannya dan menjadikannya berguna.

Kita tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi di tahun yang baru ini. Namun kalau kita memang sedang kecewa dan kehilangan harapan, berhentilah menangisi diri, lalu berjuang dengan kepercayaan diri. Kita seharusnya bergerak maju dengan segala kemampuan yang ada, dan berserah kepada Yang Mahakuasa, hingga mencapai tujuan akhir. Itulah optimisme yang akan sanggup menghadang semua tantangan atau “rasa sakit” apapun yang meradang. Jangan membiarkan pesimisme mendominasi apalagi memimpin hidup ini. Tetapi jadikanlah pesimisme yang masih tersisa itu sebagai peringatan dan nasihat. Kita yakin bahwa semua rahasia masa depan akan terkuak juga pada waktunya, dan kita bisa memastikan suatu prestasi yang diidam-idamkan. Tidak ada alasan untuk terus dalam kebingungan dan ketidakpastian, yang menempatkan kita pada persimpangan jalan tanpa penunjuk jalan berikutnya. Selalu ada harapan, dan harapan itu kelak menjadi kenyataan, tentu bagi kita yang tetap percaya diri dan tetap percaya serta menyerahkan diri kepada yang Mahakuasa.

Ditulis oleh: Pdt. Fredrik Makitan, MA (Anggota Pendiri YTWR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *