Kasih Yang Terbesar

Setelah beberapa kali membaca Yohanes 15:13, muncul sebuah pertanyaan dalam benak saya. Mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa kasih yang terbesar adalah kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya? Kalau kalimatnya sampai pada kata-kata “memberikan nyawanya” saja, tentu saya sepakat. Karena nyawa adalah yang paling berharga dalam diri manusia. Nyawa adalah hidup itu sendiri dan hanya satu. Apabila ada orang yang mampu memberikan nyawanya, itu berarti ia memberikan segala yang dimilikinya bahkan kehidupan yang satu-satunya yang ia miliki. Jadi, jelaslah di sini bahwa “memberikan nyawa” adalah kasih yang terbesar.

Namun, ayat ini tidak berhenti pada kata-kata “memberikan nyawanya” saja. Kalimatnya berlanjut dengan kata-kata “untuk sahabat-sahabatnya”. Dan di sinilah letak pertanyaan saya. Mengapa dikatakan Yesus, “untuk sahabat-sahabatnya”? Apakah seorang yang memberikan nyawanya untuk anaknya yang dikasihi bukan kasih yang terbesar? Apakah seorang yang memberikan nyawanya untuk orang tuanya sendiri bukan kasih yang terbesar? Apakah seorang yang memberikan nyawanya untuk suami atau isterinya bukan kasih yang terbesar? Apakah seorang tuan yang memberikan nyawanya untuk hambanya bukan kasih yang terbesar? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya harus membaca ayat-ayat sebelum dan sesudah dari Yohanes 15:13 ini.

Di dalam ayat 9 dan 10, kita menemukan perintah Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya (termasuk kita) untuk tinggal di dalam kasih-Nya. Kata kasih di sini adalah terjemahan dari kata “agape” dalam bahasa Yunani. Tuhan Yesus ingin murid-murid-Nya tinggal di dalam agape-Nya agar sukacita-Nya ada di dalam  murid-murid-Nya dan sukacita murid-murid-Nya menjadi penuh (Yoh 15:11). Tinggal di dalam agape-Nya berarti hidup di dalam agape-Nya.

Pertanyaan lebih lanjut adalah bagaimana caranya agar murid-murid Yesus (kita semua) dapat tinggal di dalam agape-Nya? Agape adalah kasih yang rela berkorban. Siapakah yang sanggup hidup dengan standar agape Yesus? Jawabannya terdapat pada ayat 10a. Murid-murid akan tinggal di dalam Yesus, jikalau murid-murid menuruti perintah Yesus. Apakah yang dimaksud dengan perintah Yesus? Ayat 12 menjelaskan: “Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”. Artinya, untuk tinggal dan hidup dalam agape Yesus, murid-murid harus mengasihi sesama. Alasannya, bagi Yesus adalah “Tidak ada kasih (agapẽn) yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (philõn). Bagi Yesus, “agape” itu adalah “filia”. Agape bukanlah suatu tingkat kasih yang lebih tinggi dari filia. Keduanya setara namun berbeda dimensi. Filia adalah kasih persahabatan atau persaudaraan. Filia yang memberikan nyawanya adalah agape yang terbesar.

Dengan kata lain, memandang dan mengasihi sesama sebagai sahabat atau saudara adalah wujud dari tinggal dan hidup di dalam agape Yesus. Hal ini sama seperti yang telah dilakukan oleh Yesus. Ia tidak lagi menyebut murid-murid atau kita ini sebagai hamba, melainkan sebagai sahabat (philos) tersebut dalam Yoh 15:15. Pada ayat 14, Yesus bahkan dengan tegas mengatakan “Kamu adalah sahabat-Ku (philos) jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”. Perintah Yesus yang dimaksud adalah mengasihi (filia) sesama.

Jadi, ucapan Yesus, bahwa “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13) harus dilihat dalam konteks keseluruhan perikop. Tidak boleh hanya dibaca tanpa memperhatikan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Ucapan Yesus ini tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa kasih yang terbesar adalah hanya untuk sahabat saja. Tetapi, kasih yang terbesar adalah kasih yang memandang dan mengasihi sesama seperti sahabat atau saudaranya sendiri, bahkan rela berkorban bagi mereka.

Kasih (agape) yang terbesar adalah Kasih (filia) yang rela berkorban bagi sesama. Sesama yang dimaksud bukan hanya orang tertentu saja. Sesama itu adalah siapa saja. Orang yang dekat dengan kita sampai orang yang jauh dari kita. Sesama itu adalah semua manusia tanpa memandang latar belakang suku, ras, agama, tingkat pendidikan maupun tingkat ekonomi. Kasih seperti inilah perwujudan dari perintah Yesus dan perwujudan dari hidup dalam kasih Yesus. Jadi, untuk tinggal dalam “agape” Yesus, kita harus “filia” sesama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *