In Between

“In Between” atau “Di Antara”, adalah suatu posisi yang penting dalam kehidupan ini. Manusia ada hampir selalu pada posisi di antara, walaupun sering tidak disadari penting dan pengaruhnya. Berada di antara menyenangkan, namun kadang menyengat dan menyakitkan. Manusia berada di antara gelap dan terang, siang dan malam; di antara yang benar dan salah, baik dan jahat; di antara yang sulit dan gampang, bersih dan kotor.

  Bila berada di antara dua orang, yang satunya penolong, dan yang lain pelindung, maka hidup ini akan terasa aman dan tenteram. Tetapi kalau berada di antara dua orang, yang satunya pengasih, dan yang lain pembenci, tentu hidup ini akan tidak tenang. Juga, saat duduk di antara orang yang disenangi dan yang tidak kita sukai akan membuat perasaan tidak nyaman.

Seorang ibu selalu berada di antara anak dan ayah, dan seorang ayah selalu berada di antara anak dan ibu. Seseorang juga dapat berada di antara dua sahabatnya yang berbeda, di antara pimpinan dan bawahan, di antara diri sendiri dan orang lain di dekatnya, di antara masa lalu dan masa kini, di antara masa kini dan masa depan. Dan seseorang selalu berada di antara percaya dan tidak percaya, di antara suka dan tidak suka, di antara cinta dan benci, di antara beriman dan skeptis, di antara berserah kepada Tuhan dan bersandar pada kemampuannya sendiri.

Namun, dari antara semua posisi “di antara” yang dilukiskan di atas, saya menganggap keadaan yang paling menentukan adalah ketika kita berada di antara apa yang dipikirkan dan apa yang dilakukan. Posisi itu adalah posisi di mana kita harus menentukan sikap. Bersikap terhadap kebenaran dan ketidakbenaran, di antara kebaikan dan kejahatan. Bersikap di antara kepentingan orang lain dan kepentingan diri sendiri. Bersikap di antara hari ini dan hari depan, di antara eksistensi di sini dan di tempat lain di mana kita masih harus hidup dan melakukan sesuatu di dalamnya.

Posisi di antara pikiran dan perbuatan itu, yang akan menampilkan apa sebenarnya sikap atau attitude kita, dan menunjukkan nilai-nilai diri kita yang sebenarnya, kondisi iman dan kasih kita yang sebenarnya, juga kedewasaan rohani kita yang sebenarnya. Pilihan sikap yang benar dan tepat akan tampak dan berdampak dalam perilaku dan perbuatan kita. Namun, sikap yang benar dalam kepenuhan anugerah dan kasih Tuhan Yesus Kristus akan memberikan energi spiritual yang besar, yang menyanggupkan kita membawa terang, menebar kebaikan, dan menyerbak keharuman Kristus. Pilihlah dengan sukacita apa yang benar, baik dan tepat dalam posisi kita “In Between”, “Di Antara”. Dan lakukanlah itu dengan senyum.

Ditulis oleh: Pdt. Fredrik Makitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *