Mengulik Sejarah Merajut Asa

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”

-Mazmur 136:1-

Tahun ini YTWR sudah menjalani kiprahnya di Indonesia selama lebih dari 19 tahun.  Dalam perjalanan 19 tahun pelayanan itu, tentu saja ada begitu banyak peristiwa yang dijalani.   Dimulai dengan ketika beberapa hamba Tuhan mengatakan “ya” kepada panggilan Tuhan untuk memulai pelayanan ini, dan kemudian dari situlah pelayanan ini mulai berkembang.  Tidak selamanya perjalanan pelayanan YTWR mengalami masa-masa “cerah”, tetapi beberapa kali organisasi ini juga diperhadapkan kepada masa-masa yang tidak mudah.  Namun di dalam semua yang dialami itu, ada satu hal yang terus bisa dirasakan secara nyata, yang juga dirasakan oleh penulis kitab Mazmur 136, ketika ia mengatakan, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Mazmur 136 merupakan pasal yang sangat istimewa, karena Mazmur ini juga menjadi Mazmur yang sangat mewarnai kehidupan bangsa Israel.   Mazmur ini dinyanyikan ketika mereka sedang “mengulik sejarah,” yaitu ketika mereka memandang kepada masa lalu perjalanan bangsa mereaka.  Dan ketika ketika mereka sedang “merajut asa”, yaitu saat mereka memandang ke depan, kepada masa-masa yang tidak mereka pahamii dan yang diwarnai dengan ketidakpastian.

Dalam 2 Tawarikh  7:3-6, bangsa Israel di bawah pimpinan Raja Salomo menyanyikan lagu pujian ini.  Saat itu mereka sedang berdiri di depan rumah Tuhan yang baru saja selesai dibangun.  Dalam pasal sebelumnya, yaitu pasal 6, bangsa itu “mengulik sejarah,” mengingat kembali semua yang mereka lalui sejak mereka masih berada di tanah asing, ketika mereka mengadakan perjalanan melalui kerasnya padang gurun, ketika mereka menghadapi raja-raja bangsa-bangsa lain yang gagah perkasa.  Di dalam semuanya itu, mereka ingat bahwa ada kalanya mereka menjalani masa-masa sulit dan ada kalanya mereka menjalani masa-masa menyenangkan.  Mereka bisa melihat pertolongan Tuhan, dan dengan segenap hati menyerukan, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Dalam 2 Tawarikh 20, bangsa Israel di bawah pimpinan Raja Yosafat juga menyanyikan lagu pujian ini.  Tetapi situasinya sangat berbeda dengan sebelumnya.  Saat itu, eksistensi mereka sebagai sebuah bangsa sedang berada di ujung tanduk.  Mereka sedang menghadapi serangan dari bani Amon dan bani Moab, yang berkolaborasi dengan sepasukan orang Meunim (2 Tawarikh 20:1).  Tidak diketahui berapa besar jumlah pasukan yang sedang mendekati mereka, tetapi yang pasti, pasukan gabungan itu sudah membuat Raja Yosafat menjadi takut.  Dalam keadaan ketakutan demikian, ia dan bangsanya mencoba untuk “merajut asa,”  bukan dengan mengumpulkan pasukan yang lebih banyak atau dengan mengandalkan kekuatan diri mereka sendiri.  Mereka “merajut asa” dengan memandang kepada jaminan akan kebaikan Tuhan, dan sekali lagi, sebagai sebuah bangsa mereka bersatu hati menyanyikan lagu pujian ini, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”  Dan Allah membawa mereka melalui kemenangan yang sangat besar atas musuh-musuh mereka itu.

Tentu saja, lagu pujian ini bukanlah mantra yang ketika dinyanyikan akan melenyapkan semua masalah dan menghancurkan semua rintangan.  Bagian terpenting dari lagu pujian ini ada di dalam sikap hati yang mengakui kebaikan Tuhan yang tidak pernah berubah sampai selama-lamanya. Allah itu baik, karena Dia memang Allah yang sempurna di dalam kasih setia dan kebaikan.  Dia tetap baik, bahkan kalaupun kita tidak bisa melihat apa yang dibuat-Nya sebagai kebaikan bagi kita, karena kebaikan-Nya bukanlah berdasarkan hasil penilaian kita tetapi justru melampaui batasan akal budi kita.   

Ketika kita mengulik sejarah dan merajut asa, kasih setia Tuhan yang selama-lamanya itu yang menjadi jaminan bagi kita.  Dan apa yang sedang kita hadapi saat itu, yang berupa kesempatan atau tantangan, bisa kita hadapi dengan mengakui jaminan kesetiaan Tuhan.  Suatu saat, apa yang kita hadapi sekarang ini akan menjadi bagian dari sejarah, dan kita bisa mengingatnya dan mengangkat suara kita, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *