Simpati dan Empati

Simpati adalah suasana hati yang merasa suka, senang, sayang terhadap sesama atau seseorang dengan berbagai hal yang dimilikinya. Misalnya kesederhanaan, kerendahan hati, kesetiaan, bekerja keras, bertanggung jawab, melakukan hal-hal yang baik dan benar, sedia berkorban demi orang lain. Atau juga murah senyum, murah hati, lemah lembut, hormat terhadap siapa saja, dll. Simpati bisa juga timbul terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan hidup atau penderitaan. Jadi, keadaan-keadaan tersebut bisa menyebabkan adanya keprihatinan dan belas kasihan juga simpati dari seseorang atau sekelompok masyarakat yang melihatnya.

Sedangkan empati adalah suatu keadaan mental yang membuat seseorang merasakan sesuatu seperti yang dirasakan orang lain sebagai obyek rasa kasih dan sayangnya. Atau suatu keadaan di mana seseorang mengidentifikasikan dirinya dalam keadaan, perasaan atau pikiran yang dialami orang lain. Misalnya ikut bersedih, atau secara mental ikut menderita, dan sebaliknya ikut bergembira dan berbahagia dengan orang yang kepadanya ia berempati. Jadi, empati merupakan kelanjutan dari simpati yang bertumbuh dengan baik. Tadinya seseorang hanya merasa suka, senang dan sayang saja, sekarang ia malah sampai ikut merasakan seperti apa yang dirasakan oleh orang lain. Dan, kalau empati ini bertumbuh dengan baik, maka seseorang tidak akan segan-segan melakukan sesuatu bahkan berkorban demi orang lain. 

Simpati dan empati bisa merupakan sifat alamiah, yang memang sudah ada pada diri seseorang sebagai ciptaan Tuhan. Manusia diciptakan dengan kemampuan menyayangi, menyukai dan mengasihi sesamanya. Manusia diciptakan dengan kemampuan berbelas kasihan, bersimpati dan berempati terhadap orang lain. Manusia juga memiliki kemampuan berbuat baik untuk kepentingan orang lain. Tetapi mungkin saja semua itu terjepit atau tertekan oleh berbagai sebab yang menghambat pertumbuhan simpati dan empati itu. Misalnya karena situasi yang kurang ideal dalam keluarga, dalam lingkungan masyarakat, hal-hal mana telah mengakibatkan berkembang apa yang sebaliknya, yakni egoisme, egosentrisme, pementingan diri, dll.  

Namun, tidak perlu kuatir. Jalan masih terbuka. Jikalau seseorang ingin agar simpati dan empati itu kembali bersemi dan bertumbuh dalam dirinya, mulai saja menaruh perhatian terhadap orang lain, yaitu mereka yang masih kurang beruntung, yang sedang menderita, yang berjuang keras dalam kesulitan untuk mempertahankan hidupnya, yang sekalipun dalam keterbatasan tetap berjuang menjadikan dirinya berguna bagi orang lain. Apabila mulai timbul simpati dan empati itu, sekecil apapun, dan ada kesempatan untuk berbuat baik bagi mereka yang menderita dan membutuhkan bantuan, jangan sia-siakan kesempatan itu. Bagaikan menyiapkan tanah yang baik, biarkanlah dan peliharalah sebuah tanaman yang baik untuk bertumbuh, berbunga, dan akhirnya berbuah untuk dinikmati siapa saja yang membutuhkannya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *