Wanita dan Pelayanan Kristiani

Dibesarkan dalam budaya yang mayoritas patriarki seringkali menghambat wanita untuk berkembang. Perannya dibatasi oleh aturan-aturan yang dibuat oleh masyarakat seperti sekedar mengurus urusan rumah tangga dan bukan duduk di pertemuan-pertemuan penting di komunitas untuk membuat keputusan. Tidak hanya terjadi dalam konteks kehidupan sosial, pertanyaan mengenai adakah tempat bagi wanita dalam pelayanan Kristiani pun perlu direnungkan.

Kita cenderung menerima bahwa secara fisik wanita terlihat lebih lemah dibandingkan pria sehingga menghambat untuk memahami bahwa Tuhan juga berkarya lewat para wanita. Dalam Kejadian, baik wanita dan pria memiliki kedudukan yang sama sebagai gambaran Allah (Kej 1:27). Gambar dalam Bahasa Ibrani menggunakan kata “tselem” yang dimaknai sebagai perwujudan dari sesuatu atau seseorang yang tidak hadir. Dengan kata lain, manusia baik itu pria ataupun wanita menjadi tanda kehadiran Allah. Tidak ada satu pun yang lebih tinggi dibanding lainnya karena mendapatkan tugas yang sama dari Allah. Proses penciptaan juga menunjukkan bahwa Allah menciptakan wanita dengan cara yang sama bahkan lebih spesial dibanding laki-laki. Kata “yatsar” (membentuk) dan “banna” (membangun) menggambarkan Allah membentuk dan membangun wanita dari tulang rusuk pria dengan tanganNya sendiri. Wanita bahkan diberikan tugas sebagai penolong yang sepadan (etser kenegdo). Allah menciptakan keduanya sama tetapi berbeda fungsinya.

Sayangnya, budaya yang dibentuk oleh masyarakat menggeser posisi wanita menjadi lebih rendah termasuk dalam pelayanan Kristiani. Pembatasan peran wanita dalam pelayanan, berkhotbah di mimbar, memimpin jemaat maupun teks Alkitab yang terkesan memberi perhatian khusus pada kaum lelaki dan menomorduakan wanita.

Pelayanan Kristiani berbeda dengan pelayanan yang lainnya karena didorong oleh motivasi untuk melayani Kristus melalui pelayanan terhadap sesama. Pelayanan Kristen bukan altruisme atau keinginan untuk berbuat baik maupun bukan untuk membayar jasa. Namun, suatu bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yesus. Di sisi lain, pelayanan kristiani adalah sebuah ketaatan kepada Kristus. Allah yang menghendaki kita melayani Dia bukan karena keinginan kita. Oleh sebab itu, pelayanan adalah sebuah panggilan.  Setiap orang percaya dipanggil Allah untuk melayani.  Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Allah memanggil mereka untuk bekerja dan mengusahakan taman itu.

Perjanjian Lama, di mana budaya patriarki Yahudi begitu kuat, mencatat dengan sangat baik bagaimana Allah memanggil wanita untuk berperan dalam perkembangan kehidupan rohani Bangsa Israel. Begitu juga dengan Perjanjian Baru yang menceritakan peran wanita dalam pelayanan Kristiani.

Debora, hakim sekaligus nabiah, seorang pemimpin wanita yang luar biasa. Sebagai pemimpin Israel, ia menyelamatkan bangsanya dari penindasan Sisera. Ia menjadi satu-satunya hakim perempuan di Israel. Tugasnya strategis yaitu berhubungan dengan hukum, administrasif sekaligus juga menjadi pemimpin militer yang berkharisma. Debora juga mendapat kepercayaan sebagai nabiah, di mana orang-orang dapat datang kepadanya untuk meminta keadilan.

Miriam saudara Musa dan Harun, disebutkan dalam kitab Keluaran sebagai seorang nabiah. Ia juga turut bersama Musa membawa Israel keluar dari Mesir. Miryam bertindak sebagai pemimpin pujian kepada Allah dan hal ini menjadi salah satu ciri khas  dalam ibadat bangsa Israel.

Perempuan identik dengan naluri keibuan sebagai sosok pendidik yang dekat dengan anak-anaknya dan yang paling peka terhadap masa depan anak-anaknya. Hal ini nampak dalam tokoh Ribka. Secara tidak langsung menunjukkan bahwa kedekatan ibu dan anak adalah alami dan bagaimana sosok ibu sangat berperan dalam kehidupan anaknya, peran penting dalam pendidikan keluarga.

Di Perjanjian Baru, peranan khusus kaum wanita dalam pelayanan pemberitaan Injil ialah sebagai penolong, pembina, dan pembawa firman Allah. Lidia menjadi penolong dalam merintis jemaat di Filipi dengan membuka rumahnya untuk tempat ibadah; Ada juga Priskila bersama suaminya menjadi pembina sidang di Efesus; Febe adalah pemberita firman Tuhan yang setia dan penuh tanggung jawab.

Kaum wanita adalah pendamping  yang setia dan bukan saingan bagi laki-laki dalam pelayanan pemberita firman atau misi. Berdasarkan penguraian tentang kehadiran wanita dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka tema “ Wanita dan Pelyanan Kristiani “ menggambarkan bahwa wanita memiliki posisi yang sama penting dalam pelayanan kristiani dengan laki – laki. Pelayanan yang dimaksud bukan hanya dalam ruang lingkup yang sempit , wanita dituntut hadir dalam semua ranah baik gereja,keluarga dan masyarakat.

Kehadiran wanita dan pelayanannya  tidak mengurangi citra dirinya, wanita  perlu mengembangkan potensi dirinya karena dia adalah ciptaan Allah yang mulia. Sebagai tselem Allah atau sebagai gambar Allah, wanita mampu memberi dampak positif dengan menjadi teladan. Keteladanan dalam sikap dan tutur kata, keteladanan dalam pekerjaan dan pelayanan, keteladanan sebagai roll mode dalam keluarga dan masyarakat. Kekuatan seorang wanita dalam mengekspresikan dirinya dimulai dari keluarga. Keluarga yang taat kepada Tuhan,keluarga yang harmonis,  keluarga yang memberkati orang lain,dan seterusnya.

Mulai dari keluarga: ia mendampingi suami bersama – sama  menuntun, membimbing, dan mendidik anak-anak. Sebagai hamba Tuhan melayani di gereja, ia memberitakan Firman Tuhan bagi Jemaat, mengajar jemaat, melalui berbagai sarana atau media yang tersedia, agar jemaat bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus sebagai Kepala Gereja. Kehadiran wanita dalam masyarakat, ia hadir sebagai guru mendidik dan mencerdaskan anak didik dengan bertanggung jawab, dalam pemerintahan negara ia hadir sebagai Debora zaman ini untuk berkontribusi membangun etika moral masyarakat, menjaga ketahanan masyarakat, tidak menjadi penyebar berita hoax, meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan berbagai ketrampilan yang dimilikinya agar terhindar dari kemiskinan , membantu pemerintah untuk melestarikan budaya dan menjaga lingkungan alam.

Wanita juga turut hadir  dan berpatisipasi dalam lembaga – lembaga swadaya masyarakat untuk mengupayakan kesejahteraan masyarakat, wanita hadir dan melayani sebagai pelayan Kristen dalam membangun politik bangsa yang jujur dan tulus demi kepentingan banyak orang dan bukan kepentingan diri sendiri. Dengan memiliki kesadaran penuh bahwa panggilan dan tanggungnjawab wanita dalam pelayanan begitu luas, maka sebagai seorang wanita perlu mempersiapkan diri secara kognitif, yaitu belajar dan memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi sesuai perkembangan zaman, mempersiapkan diri secara psykomotorik, berarti seorang wanita memiliki mental yang kuat dan daya juang yang tinggi, serta tidak mudah menyerah pada situasi apapun, mempersiapkan diri secara afektif, berarti seorang wanita mampu  memiliki karakter  atau integritatas hidup yang baik agar wanita mampu mengaktualisasikan diri dalam pelayanan. Inilah citra wanita dan tugas wanita dalam pelayanan kristiani.

 

Ditulis oleh:

Fredrik Nathan Masela, M. Div (Ketua STT Providensia Adonay Batu dan Anggota Badan Pembina YTWR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *