Wanita dan Salib Kristus

Wanita, dalam bahasa Alkitab lebih sering menggunakan kata : “perempuan”,  yang dalam bahasa  Aram: ‘ANTTA’ (Ibrani: אִשָּׁה – ‘ISYSYA), dalam bahasa Yunani menggunakan ‘γυναι – gunai’ dari kata dasar ‘γυνη – gunê’. Dalam budaya patriakh wanita  dianggap lebih rendah dari laki-laki, atau nomor dua (menurut pengajaran para rabi). Tetapi dalam pengajaran Tuhan Yesus Kristus  wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam karya keselamatan.  Dalam Kitab-kitab Injil tidak ada petunjuk bahwa Tuhan Yesus dalam pengajaran dan perbuatan-Nya memperlihatkan sikap wanita lebih rendah dari laki-laki. Hubungan Yesus dengan perempuan sesuai dengan ajaran-Nya bahwa Kerajaan Allah menciptakan suatu persekutuan kasih yang baru yang mencakup seluruh umat manusia  (Lukas 13:10-17). Tuhan Yesus melibatkan perempuan dalam  ajaranNya, Ia menjelaskan bahwa mereka termasuk juga sebagai sasaran ajaranNya. Ia menghormati wanita, memperlakukannya setara dengan laki-laki, menuntut norma-norma yang sama antara laki-laki dan wanita, dan menawarkan jalan keselamatan yang sama kepada mereka.

Hubungan antara Wanita dan Salib Kristus

Matius 27:55 – 56.  Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus.

Markus 15:40 – 41.  Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, di antaranya Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome.  Mereka semuanya telah mengikut Yesus dan melayani-Nya waktu Ia di Galilea. Dan ada juga di situ banyak perempuan lain yang telah datang ke Yerusalem bersama-sama dengan Yesus.

Lukas 23:49. Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu.

Dari ketiga Injil menuliskan banyak wanita yang berdiri melihat dari jauh ketika Yesus disalibkan. Mereka adalah pribadi yang telah mengalami perjumpaan dengan Yesus seperti yang dituliskan dalam  Injil Yohanes 8:2-3 , “dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

Kitab-kitab Injil memuat banyak cerita mengenai  perjumpaan Yesus dengan wanita. Yesus mengampuni, menyembuhkan dan mengajar mereka. Kemudian pada gilirannya mereka melayani Yesus dengan mempersiapkan keperluan perjalanan,  memberikan tumpangan sebagai bentuk dalam memperlihatkan kasih kepada Yesus. Dengan kata lain itulah bentuk terima kasih mereka kepada Yesus. Para wanita ini  berkumpul di sana untuk menyaksikan penyaliban Juruselamat mereka, Yesus Kristus.  Mereka ada di sana karena mereka mengasihi Yesus.  Mereka telah dibebaskan dari dosa-dosa dan masa lalunya oleh  Yesus, dan mereka bertekad untuk tetap bersamanya sampai akhir. Ketika mengikuti Yesus ke Yerusalem, mereka tidak berharap untuk menyaksikan Yesus mati di kayu salib.  Mereka memiliki harapan yang jauh berbeda — bahwa Yesus akan dimahkotai raja Israel, mengambil takhta Daud, dan Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari penindasan Romawi.  Namun kenyataan sebaliknya yang dihadapi, mereka dihadapkan dengan realitas kejam yaitu peristiwa penyaliban. Sekalipun pandangan umum menyatakan bahwa wanita dipandang sebagai kaum yang lemah, namun dalam kelemahannya  kaum wanita memiliki kekuatan. Apakah itu?  Yaitu kesetiaan dalam mengiring dan mengikuti Yesus  dibuktikan hingga saat terakhir kehidupan Yesus di dunia.

Selain ketiga Injil yaitu Matius, Markus dan Lukas, Yohanes mencatat di dalam Injil  Yohanes 19:25, “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.” Hal ini menunjukkan bahwa  sekalipun para wanita itu berdiri dari jauh namun masih dalam jangkauan pandangan Yesus, sehingga ketika Yesus menyampaikan pesan-pesan dari atas kayu salib, mereka dapat mendengar dengan sangat jelas. Karena itu rasul Yohanes mengatakan di dekat salib Yesus.

Para wanita itu pasti sangat sedih karena peristiwa Yesus disalib, terlebih Maria, ibu Yesus. Pengalamannya di dekat salib Yesus menggenapi nubuatan dalam Injil Lukas 2:34-35, “Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”  Pastilah peristiwa Yesus disalib itu seperti pedang yang menusuk jiwa Maria, sangat menyakitkan.

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah para wanita yang dengan setia mengiring Yesus hingga akhir hidup Yesus di dunia ini, pertama ketika sudah mengalami perjumpaan dengan Yesus maka hidupnya diubahkan; kedua memiliki kerelaan dan kesukaan untuk melayani Yesus dan para murid dengan tenaga, waktu dan juga kekayaan dan ketiga sebuah kesetiaan yang dimiliki sampai akhir. Lantas bagaimana dengan kita?

 

Ditulis oleh: Anis Wahyuningsih (Tim Follow-Up YTWR)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *