Belas Kasihan Yesus Bagi Masyarakat Marginal

Kehadiran Yesus di dunia untuk memberitakan kerajaan Allah, bukan hanya memulihkan orang sakit dan menderita, memberikan pengajaran keselamatan, tetapi juga membela orang miskin dan disingkirkan oleh masyarakat.  Mereka adalah kaum marginal yang dimanfaatkan untuk kepentingan orang-orang berkuasa. Yesus datang untuk membela, merangkul, bergaul bersama mereka untuk menunjukkan betapa   kasih Allah yang dikaruniakan  bagi mereka. Yesus menyampaikan,  “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Markus 2:17). Untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan penderitaan kaum yang tersisihkan, tindakan Yesus adalah mendekatinya.

Wanita tuna susila termasuk orang yang disingkirkan masyarakat.  Sekalipun  sebenarnya bahwa apa yang dilakukan Yesus terhadap orang berdosa ini dan yang dianggap najis tidak sesuai dengan adat budaya pada waktu itu, tetapi Yesus berani menentang dan merombak segala peraturan yang dianggap salah, karena yang terpenting adalah keselamatan manusia.  Yesus ingin menyatakan rasa solidaritas dan menawarkan rahmat pengampunan Allah. Karenanya Ia datang membawa belas kasihan Allah, dan dengan tegas menyampaikan,  “Yang Ku-kehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan; karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Matius  9:13).

Yesus peduli dan menolong kelapan ketika lima ribu orang memerlukan uluran tangan kasihNya (Yohanes 6:1-15). Hati Yesus  tergerak oleh belas kasih melihat orang-orang kelaparan. Dengan lima roti dan dua ikan, dari  sesuatu yang kecil dimulai dengan ucapan syukur  Yesus mengucap syukur. Sebuah perkara besar dimulai dari sesuatu yang kecil yang menyertakan Allah sehingga terjadilah karya yang besar. Praktisnya adalah bahwa Yesus tidak membiarkan penderitaan terjadi kepada orang beriman dan Dia akan menolong asal manusia datang, berharap serta percaya kepadaNya.

Pada peristiwa  Lukas 19:1-10 menyebutkan mengenai Yesus yang hadir menyambut orang berdosa Zakeus si pendek yang kaya, seorang pemungut cukai, namun disingkirkan dalam masyarakat karena dianggap pendosa, serta mendapat cap sebagai antek penjajah. Tindakan Yesus di sini memberi kesempatan untuk datang dan bertobat.  Yesus tidak membiarkan manusia jatuh dalam dosa tetapi Dia berbelas kasih untuk menolong dan membebaskan dari dosa, namun  dibutuhkan keterbukaan hati untuk menerima Dia dan memohon pengampunan dosa dari Yesus sendiri. Sebuah pertobatan adalah tindakan yang nyata untuk diwujudkan dalam sikap manusia.

Terhadap seorang yang kedapatan berzinah, yang dalam adat  Yahudi harus dihukum mati karena ketahuan berzinah, tetapi  Yesus menyapa dan membelanya.  Yesus tidak terpancing untuk menghukum. Dan bahkan dengan kasihNya  mengajak orang sekelilingnya untuk melihat dan merenungkan perbuatan dirinya masing-masing sebelum menghakimi orang lain (Yohanes  8:1-11). Bisa saja saat seseorang sedang menggosip kesalahan orang lain, namun sebenarnya  justru dirinyalah yang  yang lebih berdosa dari orang yang sementera diperbincangkan sebagaimana dikatakan Yesus, “Mengapakah engkau melihat debu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok kayu di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” (Lukas  6:41).

Orang yang tersisihkan, ditinggalkan keluarga, miskin dalam hidupnya  menjadi sorotan dalam perjalanan hidup Yesus.  Namun kepada mereka Yesus menyampaikan kabar bahagia, “Berbahagialah, kamu yang miskin, lapar menangis karena kamulah empunya kerajaan surga, kamu akan dipuaskan … “ (Lukas 6:20-21). Mengapa orang yang miskin atau sengsara dinyatakan berbahagia oleh Yesus?

Sebab justru mereka yang miskin, menderita dan tidak memiliki apa-apa, tidak berdaya di dunia ini, akan mengharapkan segala sesuatunya dari Tuhan sebagai satu-satunya untuk berharap dan bersandar. Tuhan menjadi segalanya, karena itulah mereka dinyatakan berbahagia oleh Yesus. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Itulah janji Yesus yang ditawarkan kepada manusia. Betapa baiknya Dia !

Pada zaman itu di negeri Israel ada anggapan bahwa penyakit kusta adalah penyakit kutukan. Tuhan mengutuk penderita penyakit kusta, karena itu orang kusta  harus disingkirkan dari tengah masyarakat. Penyakit yang menjijikkan, menular, membawa kematian, belum ada obat-obatan seperti sekarang untuk menyembuhkannya. Perintah Tuhan untuk menjauhkan mereka dari masyarakat sesungguhnya adalah demi kebaikan semua orang, termasuk si penderita itu sendiri. Di sinilah Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang kusta dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya (Matius 8:3)

Seperti juga Yesus yang adalah Kepala Gereja, apa yang dilakukan oleh Yesus juga harus dihadirkan oleh setiap orang yang percaya. Gereja mengemban tugas hadir di dunia dengan merangkul dan mendampingi yang miskin, yang hidup dalam penderitaan serta tersisih dari masyarakat.

*Ditulis oleh: Otty Priambodo, S.Th – Sekretaris YTWR

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *