Kuasa dan Kekuasaan

KUASA berarti kemampuan dan kekuatan untuk berbuat sesuatu serta wewenang atas dan untuk menentukan sesuatu. Misalnya dalam hal memerintah, mewakili, mengurus suatu kelompok atau organisasi. Kuasa itu sangat dibutuhkan, disukai dan dicari, sehingga orang bisa saja berjuang keras untuk memperolehnya. Kuasa juga berarti pengaruh dari seseorang karena jabatannya, martabatnya atau status tertentu. Dan, berkuasa berarti memiliki kuasa untuk menentukan dan memerintahkan orang lain melakukan sesuatu menurut kehendak yang berkuasa. Jadi, kuasa itu adalah sesuatu yang istimewa, sangat besar, dan dapat dengan mudah meciptakan perubahan dalam kehidupan manusia, secara pribadi, kelompok masyarakat, maupun sebuah bangsa.

Namun, tidak ada kuasa atau kekuasaan yang lahir atau diciptakan oleh diri sendiri untuk menguasai orang lain. Kuasa itu diberikan kepada seseorang oleh orang-orang yang, karena kesadaran dan harapan tertentu, bersedia memberi diri berada di bawah kekuasaan seseorang yang dipilihnya menjadi orang yang berkuasa. Jadi, kuasa itu diberikan kepada seseorang bukan tanpa tujuan dan harapan. Dan untuk mengawasi agar kuasa itu tidak disalahgunakan (abuse of power), maka kuasa itu harus ada batasnya. Abuse of power sangat mungkin terjadi pada seorang yang berkuasa, kalau kuasa atau kekuasaan itu diberikan begitu saja tanpa pertimbangan yang luas, obyektif dan rasional. Jadi, haruslah berhati-hati, agar tidak terlanjur memberikan kekuasaan tanpa pertimbangan yang matang, yang pada akhirnya mengakibatkan situasi rentan untuk terjadinya abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan.

Dari sisi yang lain, sesungguhnya tidak ada kuasa atau kekuasaan yang diberikan tanpa batas, yang boleh digunakan sewenang-wenang. Karena itu kuasa dan semua batasan kekuasaan yang diperlukan biasanya diatur dalam Undang-Undang atau Peraturan, kalau ini mengenai sebuah negara atau organisasi atau bahkan dalam lembaga gereja. Batasan dan pengawasan atas kekuasaan juga melekat pada nilai-nilai dan etika yang dianut bersama. Dan, utamanya, nilai-nilai yang ada pada diri seorang pemimpin akan (seharusnya) lebih efektif untuk mengawasi dirinya yang berkuasa.

Tidak ada kuasa dan kekuasaan di luar pemimpin dan kepemimpinan. Kuasa itu identik dengan pemimpin, dan kekuasaan identik dengan kepemimpinan. Maka, dalam hal pemberian kekuasaan kepada seseorang, harus ada kriteria dan kualifikasi bermutu tinggi untuk dipenuhi. Ini akan memungkinkan rasa tanggung jawab serta komitmen yang tinggi dan kuat untuk memimpin. Penggunaan kekuasaan berdasarkan kriteria yang bermutu dan nilai etika yang tinggi akan menjanjikan harapan dan menjamin bahwa kekuasaan itu tidak diberikan ke alamat yang salah, sehingga mengecewakan banyak orang. Sebaliknya kekuasaan seseorang yang dipercaya memilikinya, yang dijalankan secara benar dan tepat, akan membawa kesejahteraan bagi banyak orang yang berada di bawah kekuasan atau kepemimpinannya.

*Ditulis oleh: Pdt. Fredrik Makitan, M.A – Anggota Pendiri YTWR

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *