Dilema dan Keputusan Etik

Kita pasti ingat pepatah yang mengatakan: “Bagai makan buah simalakama. Dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati”. Tetapi, orang-orang modern lebih suka menggunakan satu kata saja, yaitu “dilema”. Dilema adalah satu pilihan yang harus diambil dari dua pilihan yang sangat sulit, yang tak satupun diinginkan karena semuanya menyusahkan. Pilihan itu tidak bisa dikompromikan namun tidak dapat dihindari dengan akibat buruk yang harus diterima.

Saya teringat akan salah satu keputusan etik yang amat berat, yang senantiasa kontroversial, yaitu apa yang disebut eutanasia. Eutanasia adalah suatu tindakan dengan sengaja mengakhiri kehidupan seseorang yang sakit berat, yang secara medis tidak mungkin lagi disembuhkan. Pilihan beratnya adalah keputusan untuk mempercepat kematian demi menghentikan penderitaan panjang yang tak tentu ending-nya, namun segera berakibat kehilangan. Dalam situasi ini, ada pergumulan batin yang bercampur aduk. Tidak rela kehilangan orang yang dicintai, juga tidak rela membiarkan penderitaan yang tak ada akhirnya itu dialami orang yang dicintai. Dan pada saat yang sama, orang takut kalau-kalau keputusan ini berakibat suatu pertanggungjawaban baru yang lebih berat, terhadap Tuhan dan sesama, atau mungkin pula terhadap hukum seandainya keputusan ini digugat pada suatu saat.

Dalam hal dilema, paling ringan ataupun paling berat, saya sesungguhnya tidak bermaksud memberikan jalan keluar atau mendiskusikan bagaimana mencari jalan keluar, ataupun menunjukkan suatu hikmat pengambilan keputusan yang tepat. Karena pengambilan suatu keputusan dalam suatu situasi dilematis membutuhkan banyak alat pertimbangan dan alat ukur walaupun hanya untuk suatu kasus saja.

Saya hanya mau mengatakan bahwa pengambilan keputusan dilematis tidak mungkin dapat kita lakukan tanpa suatu kesediaan yang tulus-ikhlas untuk melepaskan sesuatu yang sebenarnya tidak rela kita lepaskan karena mungkin sesuatu itu paling berharga dalam hidup kita. Pengambilan keputusan dilematis tidak mungkin dilakukan tanpa suatu kesediaan dan keberanian untuk menanggung risiko, sekalipun berat. Pengambilan keputusan dilematis tidak mungkin dilakukan tanpa kemauan yang kuat untuk mengabaikan keakuan dan kepentingan pribadi. Pengambilan keputusan dilematis tidak mungkin dapat dilakukan tanpa suatu kematangan dan kedewasaan mental dan spiritual. Pengambilan keputusan dilematis tidak mungkin dapat dilakukan tanpa kesediaan berkorban yang dituntut oleh keputusan itu.

Dan yang mungkin paling penting, sebagai orang ber-Tuhan, adalah percaya saja akan campur tangan ilahi yang dapat menjernihkan semua pertimbangan kita sekaligus memberikan kekuatan ekstra dalam pengambilan keputusan etis yang dilematis itu. Percayalah juga, bahwa bilamana kita sudah tiba pada situasi yang benar-benar siap, maka akan ada pembelaan ilahi atas keputusan kita. Artinya, ada kebenaran ilahi sebagai anugerah dari Yang Mahakuasa yang melampaui akal manusia, dan tak dapat disangkal oleh manusia.

*Ditulis oleh: Pdt. Fredrik Makitan, M.A – Anggota Pendiri YTWR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *