Mengapa Disebut Orang Beriman?

Orang beriman  adalah orang yang hidup dan tindakannya senantiasa diwarnai dan dimotivasi oleh percayanya kepada Kristus, dan bukan sekedar oleh alasan keagamaan yang cenderung lahiriah. Seorang yang beriman adalah seorang yang religius, yaitu orang yang selalu bersandarkan  hidupnya pada Kristus dan menyadari bahwa setiap peristiwa hidupnya merupakan karya Kristus yang menyelamatkan.

Iman dalam bahasa Ibrani adalah “aman” yang dalam Perjanjian Lama berarti ‘berpegang teguh’ pada keyakinan yang dimiliki atau berketetapan hati untuk meyakini sesuatu karena sesuatu itu dapat dipercaya dan diandalkan. Kata iman selalu dikaitkan dengan kepercayaan kepada Allah. Karena itu ‘beriman kepada’ tidak dapat disamakan dengan ‘percaya kepada.’ Kata Ibrani yang kedua  batakh  yang diartikan mempercayai DIA dan mempercayakan  seluruh hidup kepada DIA. Iman dimaksudkan untuk menunjukkan adanya hubungan manusia dengan Allah. Hubungan yang didasarkan pada sikap atau tindakan manusia yang percaya dan mempercayakan hidupnya kepada Allah. Iman bukanlah sesuatu yang bisa kita sulap supaya menjadi ada. Juga, bukan sesuatu yang lahir bersama-sama dengan kita. Iman juga bukan hasil dari ketekunan seseorang dalam belajar atau mengejar kerohanian. Surat Efesus 2:8-9 menjelaskan bahwa iman adalah karunia dari Allah; bukan karena kita pantas untuk mendapatkannya, ataupun merupakan hasil pekerjaan kita. Juga bukan karena kita layak untuk memilikinya. Iman bukan berasal dari diri kita sendiri; iman berasal dari Allah. Iman tidak diperoleh dengan kekuatan atau kehendak bebas kita. Iman dianugerahi kepada kita oleh Allah, bersama dengan kasih-karunia dan belas kasihan-Nya, sesuai dengan tujuan dan rencana-Nya yang kudus.

Memperhatikan pengertian kata iman di atas, maka kita harus memahami dengan baik dan benar benar mengapa disebut orang beriman.

  1. Relasi yang intim dengan obyek iman

Relasi atau hubungan yang akrab dengan obyek iman yakni Tuhan Yesus adalah hal yang wajib yang harus dilakukan oleh orang beriman. Tujuan dari relasi ini adalah pengetahuan dan pengenalan akan Tuhan Yesus yang telah menganugerahkannya. Dan untuk mewujudkan relasi ini harus dinyatakan dalam persekutuan atau ibadah yang di dalamnya doa dan membaca Firman Allah secara intensif .

Berdoa harus dilakukan karena orang beriman membutuhkan hubungan yang terus-menerus dengan Tuhan. Seperti yang dikatakan oleh Marthin Luther “Doa adalah nafas hidup orang percaya” doa bagaikan oksigen yang diperlukan oleh tubuh manusia melalui paru-paru dan darah. Bila tubuh tidak mendapat oksigen, maka tubuh akan mati. Begitu juga tanpa doa kehidupan rohani akan mati.

Membaca Alkitab adalah suatu upaya untuk memahami kehendak Allah, dan bagi orang percaya  Firman Allah menjadi pedoman hidup. Jika dengan tekun dan teratur membaca Alkitab, orang beriman makin mengenal Tuhan dan memahami kehendakNYA ( Mazmur 119 : 105 ). Jadi membaca Firman Allah menjadi kegiatan yang sangat penting bagi kehidupan orang beriman. Disebut orang beriman karena adanya refleksi iman dalam membaca Alkitab dan berdoa secara intens.

Relasi yang intim dengan Tuhan Yesus ini akan membawa dampak positif bagi perilaku dan tindakan orang beriman. Seringkali kita mendengar kata-kata sindiran  dalam masyarakat terhadap orang percaya: “Rajin beribadah tetapi rajin pula korupsi atau banyak pengetahuannya tapi kelakuan tidak berubah.

  1. Rendah hati sebagai perilaku orang beriman

Orang yang rendah hati adalah orang sepenuhnya bergantung kepada Tuhan sebagai bentuk totalitas ketaatan kepada Tuhan Yesus tanpa syarat. Sebab rendah hati membawa kehormatan (Amsal 29 : 23), dihargai oleh surge (Matius 18 : 4) dan pasti akan ditinggikan (Matius 23 : 12).

  1. Orang beriman berani melangkah

Orang beriman adalah orang yang dapat membuktikan iman dengan perbuatan nyata. Berbiacara memang mudah, tetapi perbuatan nyata dengan tulus adalah sulit dilakukan. Iman itu aktif dan dinamis serta terus bergerak. Orang beriman tidak takut melankah maju, seperti para Majus (Maju Terus). Orang beriman adalah orag yang mempercayakan seluruh hidupnya kepada Tuhan yang dipercayainya dan dapat diandalkan sebagai sumber hidup manusia.

  1. Relasi dengan sesama sebagai bukti iman

Relasi horizontal atau sosial adalah refleksi iman kepada Tuhan Yesus. Bapa Gereja Agustinus sering berbicara tentang persahabatan. Ia menggunakan istilah amicitia ketika berbicara tentang relasi teman. Amicitia mengandung banyak pengertian, akan tetapi istilah tersebut umumnya menunjuk pada sesama sebagai ikatan relasi yang mempersatukan dua pribadi dalam rasa simpati satu sama lain. Relasi sesama ini tidak hanya dinyatakan dalam bentuk simpati dan empati tapi juga partisipasi. Seperti sebuah lagu dari Ambon “Ale rasa beta rasa”, kamu rasakan, saya juga rasakan. Apa yang kamu alami saya juga turut mengalaminya.

Orang beriman haruslah membuktikan imannya tidak hanya dalam relasi vertical-internal tetapi juga horizontal melalui perilaku dan tindakan nyata. Semua orang akan melihat dan mengakui bahwa engkaulah orang beriman kepada Tuhan Yesus.

Ditulis oleh: Fredrik Nathan Masela, M. Div (Anggota Badan Pembina YTWR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *