Pengharapan Yang Pasti

Oleh: Otty Priambodo, S.Th

Kita telah meninggalkan tahun 2020 yang tercatat dalam sejarah sebagai  masa penuh dengan kesulitan. Tahun penuh ujian karena Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) telah menyebabkan krisis global dan berdampak pada semua sektor kehidupan.  Situasi atau kondisi yang tidak hanya mendera negara Indonesia, tetapi hampir seluruh negara di dunia. Hal ini  membuat segala hal menjadi semakin sulit diyakini dengan kebenaran yang hakiki. Bahkan bisa dikatakan bahwa yang lebih mudah dipahami saat ini adalah sebuah ketidakpastian.

Memasuki tahun 2021 tidak sedikit yang mengatakan bahwa kita berada dalam ruang gelap, cenderung menghadirkan rasa bingung, bahkan ketakutan dan kepanikan. Tanpa mengenali ruang itu, orang akan sulit, bahkan mungkin tidak akan tahu apa yang harus dilakukan di dalam kegelapan. Tetapi, begitu  menemukan tombol penerangan, menyaksikan lampu, efek cahaya akan memicu pemikiran, inspirasi dan kreativitas mengenai apa yang harus dilakukan.

Sebuah pernyataan Paulus  mengenai kepercayaannya dituliskan kepada Jemaat di Roma. Kepercayaan yang  penuh kepada kebenaran kasih Allah yang tidak tergantung pada situasi. Dengan berani ia bertanya, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31). Ketika  Allah telah memberikan Yesus, Anak-Nya yang tunggal, untuk menyelamatkan kita, maka Dia pasti akan menyediakan segala yang kita butuhkan untuk menyelesaikan hidup ini dengan baik. Hamba Tuhan yang banyak menulis suratnya kepada Jemaat Tuhan dalam Perjanjian Baru ini mencantumkan beberapa situasi cukup berat yang dialaminya yaitu penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, dan pedang (Roma 8:35). Di sini Paulus tidak sedang  bermaksud mengatakan bahwa kasih Kristus akan mencegah terjadinya hal-hal buruk. Tetapi Paulus berkata bahwa “dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37). Sebuah keyakinan bahwa di dalam dunia yang serba tak menentu ini, Allah dapat sepenuhnya dipercaya, karena tahu bahwa sama sekali tidak ada yang “dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:39). Ada pengharapan yang pasti, karena Allah di pihak kita.

Pengharapan sebagai sikap dan cara hidup orang beriman dilakukan dengan selalu berpikir dan bertindak atas dasar bahwa “pasti ada jalan keluar.” Sesulit apa pun persoalannya, jalan keluar selalu tersedia. Karena kesulitan adalah bukan akhir dari segala-galanya. Kesulitan adalah alat bantu untuk menemukan jawaban atau jalan keluar yang terbaik dari setiap masalah yang ada. Kedua,  yaitu menjalani hidup dengan tekun dan berdaya juang tinggi sebagai syarat untuk bisa memiliki pengharapan yang berkemenangan. Ketiga, sanggup menghadapi segala tantangan kehidupan. Tantangan kehidupan adalah sebuah harapan bahwa di balik sebuah tantangan, selalu ada makna, hasil sesuatu yang didapatkan. Dan terakhir adalah berserah kepada kehendak Tuhan sebagaimana Filipi 4:13 menyaksikan bahwa “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Hidup sebagai orang percaya bukanlah hidup yang hanya untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan, tetapi hidup untuk menyingkirkan segala sesuatu yang tidak perlu sehingga semakin dekat kepada-Nya. Memasuki tahun 2021 bersama-sama menapaki hidup dan melangkah dengan tetap beriman kepada Tuhan dengan kepastian janji-Nya di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Jangan pernah menyerah.  Harapan tetap ada pada setiap orang yang percaya pada janji penyertaan-Nya. Tuhan tidak pernah membiarkan karya ciptaanNya bergumul seorang diri, Dia sangat peduli dan sanggup memberikan pengharapan yang pasti dan tidak pernah mengecewakan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *