Tetap Produktif di tengah Pandemi

Oleh: Pdt. Yohanes Manis, S.Th

Israel pada zaman Perjanjian Lama adalah sebuah negeri yang mengandalkan hasil pertanian dan peternakan. Hasil pertanian seperti gandum, anggur, jagung, jelai menjadi komoditas perekonomian masyarakat saat itu.  Pertanian dan peternakan adalah dua bidang usaha yang sangat bergantung dari alam dan hujan.  Namun, situasi memang tidak selalu baik seperti yang pernah terjadi pada masa Elia. Sebagaimana ditulis dalam Yakobus 5:7, “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.”  Catatan ini juga didukung oleh I Raja raja 17:1,” Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: “Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.”

Ketiadaan hujan memang menyebabkan kesulitan besar bagi penduduk Israel yang mengandalkan hidup dari hasil pertanian dan peternakan. Tidak dicatat secara rinci bagaimana dampak kekeringan bagi kehidupan masyarakat saat itu.  Namun, Alkitab memberikan gambaran tentang dampak dari bencana tersebut dengan mengangkat kisah hidup seorang Janda dari sarfat.  Kitab suci memberikan penjelasan, ”Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”

Kisah Janda ini memberikan gambaran betapa hebatnya kekeringan di tengah bangsa Israel dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat.  Bahkan, apa yang dikatakan oleh Janda Sarfat ini menjelaskan bahwa sudah tidak ada lagi harapan karena ia mengatakan, “Kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”

Menarik untuk dicermati bahwa, janda Sarfat ini menunjukan sebuah usaha secara terus menerus untuk bertahan hidup.  Rentang waktu 3,5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak kesulitan yang harus ia lalui bersama dengan anaknya.  Namun, ia tidak pernah menyerah, bahkan sampai detik detik terakhir.  Usaha janda ini memberikan gambaran bahwa sekali pun dalam masa yang sulit, ia tetap produktif. Usahanya untuk mencari kayu bakar memberikan bukti bahwa ia tidak pernah lelah untuk berusaha.

Jika kita kaitkan dengan situasi yang sedang kita hadapi pada masa kini seperti adanya pandemi Covid-19, dibandingkan dengan  masa janda Sarfat ini, maka ada kesamaan dari sisi situasi kesulitan secara ekonomi.  Kesulitan ekonomi dapat menyebabkan orang menjadi putus asa.  Namun, ada perbedaan yang mencolok dari dua situasi ini, bahwa peluang untuk berusaha lebih besar jika dibandingkan pada masa janda Sarfat ini hidup.  Pandemi Covid-19 telah melahirkan banyak usaha-usaha kreatif yang bisa dijalankan dari rumah secara online.  Sistem perdagangan menemukan bentuk barunya yaitu bahwa orang tidak lagi bertransaksi secara tatap muka, tidak menggunakan uang tunai.  Semua dapat dilakukan lewat media media yang sudah tersedia seperti: IG, FB, Twitter, WA, Telegram, Signal, YouTube.

Janda Sarfat menjadi contoh bahwa tidak ada kata menyerah sekalipun berada dalam situasi yang tidak pasti. Semasih ada usaha, maka akan selalu ada harapan.  Semua tergantung pada niat setiap individu untuk mempertahankan dirinya dan mempergunakan setiap peluang yang ada untuk bangkit.  Salah satu contoh pemilik oleh-oleh khas Bali yaitu Ajik Krisna, mampu bangkit dari keterpurukan hanya dengan memproduksi kacang dan pia susu. Saat diterpa Pandemi Covid-19, sebanyak  2,500 karyawan dirumahkan namun, kini telah mempekerjakan kembali 1,900 karyawannya.

Pandemi Covid-19 tidak boleh menjadi halangan untuk  setiap orang untuk tetap produktif dan menghasilkan produk-produk yang berkualitas.  Di mana ada usaha dan kreativitas maka di sana akan terjadi produktivitas. Tetaplah produktif sekali pun dalam masa Pandemi Covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *