KETAKUTAN YANG BENAR

Oleh: Pdt. Yohanes Manis, S.Th

Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan. (https://id.wikipedia.org/wiki/Ketakutan)

Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa takut merupakan reaksi alamiah manusia ketika terjadinya ancaman, sakit, dan lain-lain. Perasaan takut akan bercampur baur dengan perasaan-perasaan lainnya seperti kuatir, cemas, gelisah yang seringkali membuat seseorang kehilangan kendali.  Bahkan tidak sedikit orang menjadi depresi bahkan mengalami gangguan kejiwaan karena memiliki rasa takut yang tidak terkendali.

Beberapa kali dituliskan dalam Alkitab, dari Kejadian sampai dengan Wahyu seruan untuk ‘Jangan Takut’.  Misalnya dalam kitab Ulangan 31:8,” Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” Bahkan seruan jangan takut pun dituliskan dalam kitab Wahyu 2:10,” Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Seruan untuk “Jangan Takut” seolah-olah menghilangkan sifat dasar manusia yang jika menghadapi ancaman bahaya akan direspon dengan rasa takut.  Orang percaya seolah-olah dilarang untuk takut saat menghadapi ancaman dalam hidupnya.  Benarkah bahwa Alkitab melarang orang untuk takut?  Pada prinsipnya, Alkitab secara jujur mengungkapkan kelemahan manusia dan salah satunya adalah rasa takut.  Rasa takut sudah menjadi bagian tak terpisahkan saat manusia jatuh dalam dosa. 

Dalam Kejadian 3: 8-10, dituliskan, ”Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi, TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Adam dan isterinya bersembunyi dari Tuhan dikarenakan rasa bersalah karena sudah melanggar laranganNya untuk tidak makan buah dari pohon kehidupan.  Rasa takut timbul karena kesalahan yang sudah dibuatnya. Dan rasa takut ini terus beranak pinak menjadi perasaan perasaan lain seperti rasa malu, cemas, kuatir, gelisah.

Rasa takut merupakan sifat dasar manusia dan mahluk lainnya.  Perasaan terancam, bahaya, tidak nyaman direspons oleh sensor dalam diri manusia yang diwujudkan dalam berbagai bentuk.  Pucat, pingsan, lari, sakit perut, tangan dingin, gelisah, tidak bisa tidur, tidak bisa makan merupakan bentuk bentuk nyata atas reaksi terhadap ancaman bagi kenyamanan dan keselamatan diri.  Semua bentuk reaksi tersebut merupakan hal yang wajar dialami oleh setiap orang.  Bahkan kisah-kisah para tokoh besar dalam Alkitab membuktikan bahwa mereka tidak terhindar dari rasa takut.  Salah satu contohnya adalah Elia. Dalam I Raja 19 ayat 3, dijelaskan,” Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.  Elia menjadi gentar ketika mendapat ancaman dari Izebel Istri Ahab yang hendak membunuhnya.  Elia merespons ancaman tersebut dengan rasa takut dan gentar sehingga ia bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya.  Contoh ini memberikan bukti bahwa rasa takut merupakan hal yang wajar ada dalam diri manusia. Ketakutan tersebut seharusnya menjadi ketakutan yang benar sehingga memberikan dampak yang positif bagi kehidupan kita. Ketakutan yang benar adalah ketakutan yang tidak menghilangkan akal sehat dan keyakinan akan kuasa Tuhan.   Bahwa manusia diberikan akal budi untuk mengelola ketakutan secara benar dengan keyakinan bahwa setiap persoalan yang kita hadapi tidak melebihi kemampuan kita dan bahwa Tuhan tetap berdaulat dalam seluruh aspek kehidupan manusia.  Takut adalah hal yang wajar jika dikelola dengan benar berdasarkan akal sehat serta meyakini bahwa Tuhan berdaulat atas kehidupan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *