Gereja Sebagai Pembawa Damai

Tidak sedikit orang yang memiliki pemahaman tentang  gereja sebagai sebuah gedung, bangunan, denominasi atau golongan. Ini bukanlah pengertian yang sesuai dengan Alkitab mengenai gereja yang benar. Lalu apakah gereja itu?

Kata gereja berasal dari bahasa Portugis “Igreya”  atau “jemaat”  sebagai kata serapan dalam bahasa Arab yang menurut KBBI artinya ‘himpunan umat”. Sementara  dalam bahasa Yunani “Ekklesia” artinya dipanggil keluar.

Gereja adalah kumpulan orang-orang yang dipanggil Allah keluar dari dunia untuk menjadi milik kepunyaan Allah sendiri. Allah memanggil orang-orang di dalam dan melalui Yesus Kristus. Orang-orang yang dipanggil Allah akan datang dan beriman kepada Yesus Kristus. Untuk itu, siapa pun yang menanggapi  panggilan-Nya dan setiap orang yang telah beriman kepada Yesus Kristus adalah gereja.

Allah memanggil yang beriman kepada Kristus, kepada persekutuan dengan Anak-Nya,Tuhan Yesus Kristus. Dia yang kudus memanggil gereja untuk hidup kudus, memperlengkapi dengan Roh Kudus agar dalam kuasaNya diproses menjadi semakin sempurna  sesuai statusnya sebagai orang-orang kudus. Gereja dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus dan pada akhirnya akan dimuliakan-Nya. (Efesus 1:22-23, Kisah Para Rasul 2, I Korintus 1:2, Kolose 1:24)

Setiap orang percaya dipanggil bukan untuk menjadi sekumpulan orang-orang atau komunitas yang eksklusif melainkan untuk diutus ke dalam dunia ini dan berinteraksi dengan dunia ini, “… supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar …”  (1 Petrus 2:9).

Dipanggil sebagai Orang-orang Kudus

Orang berdosa dipanggil oleh Allah “sebagai jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.” (I Korintus 1: 2).

Pengudusan di dalam Kristus Yesus memungkinkan orang-orang  percaya disebut sebagai orang-orang kudus. Bentuk pasif di sini menyiratkan Allah sebagai subyek. Hal ini menunjukkan tentang penilaian Allah atas gereja-Nya, bahwa di mata Allah gereja adalah orang-orang kudus melalui korban Kristus yang sempurna.  Gereja “dipanggil sebagai orang-orang kudus” menunjukkan adanya pengajaran yang mendasar yaitu:

Pertama,sebagaimana Paulus dipanggil rasul berdasarkan anugerah Allah (1 Korintus 1:1 “yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus”), demikian status jemaat (Korintus) sebagai orang-orang kudus adalah hasil kasih karunia. Status yang dimiliki bukanlah sesuatu yang diraih atau diusahakan jemaat, tetapi diberikan Allah berdasarkan kehendak-Nya. Ini menunjukkan sifat gereja yang kudus. Kata “Kudus” berarti disendirikan, diasingkan, dipisahkan dari yang lain, dan berbeda dari yang lain. Kekudusan gereja bukan karena ia kudus adanya, tetapi karena dikuduskan oleh Kristus. Gereja adalah kudus, diasingkan tapi bukan  “mengasingkan diri” karena gereja diutus  ke dalam dunia untuk memberitakan Injil Yesus Kristus. Adanya gereja di dunia ini ialah untuk alat dalam karya penyelamatan Allah.

Kedua, status yang bersumber dari korban Kristus memiliki nuansa kebersamaan. Tanpa kecuali semua orang beriman kepada Kristus disebut sebagai orang-orang kudus. Sebutan “orang-orang kudus” secara inklusif oleh Paulus menunjukkan tidak ada seorang Kristen yang lebih rohani daripada yang lain. Perbedaan kerohanian hanya terjadi dalam kasus pengudusan progresif (progressive sanctification).  Kata “semua orang di segala tempat” merupakan sifat bahwa gereja adalah am, universal, tersebar di seluruh dunia.

Gereja sebagai yang am bersifat universal sebab kasih Allah itu ditujukan kepada dunia. Jadi, gereja bukan untuk suatu golongan tertentu.  Gereja juga tidak terbatas pada suatu daerah, suku, bangsa atau bahasa tertentu, tetapi  meliputi seluruh dunia (II Korintus  5: 19). Gereja tidak terbatas pada suatu zaman, tapi meliputi zaman yang lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

Ketiga, status sebagai orang-orang kudus menuntut gaya hidup yang berbeda dengan dunia. Gereja  terikat oleh ukuran moral dan konsep etis tertentu. Karena Allah adalah kudus, gereja  pun wajib hidup dalam kekudusan (Imamat 19:1-2; Keluaran 19:5-6; 22:31; I Korintus  3:17).  Gereja adalah persekutuan orang percaya yang di dalam hidupnya mengakui tindakan Allah dan yang kini ingin mengungkapkan kembali tindakan itu melalui kehidupannya. Gereja adalah persekutuan orang percaya/kudus di dalam Kristus dan saling bergantung satu sama lain.

Misi gereja adalah misi Kristus

Karena yang memanggil adalah Allah di dalam Yesus Kristus, dan kedatanganNya ke dalam dunia adalah missioner, datang dengan misi keselamatan bagi umat manusia maka gereja sebagai organisasi dan organisme tidak bisa lepas dari misiNya. Kehadiran gereja melanjutkan dan memiliki misi Kristus yaitu menyelamatkan manusia yang berdosa.

Kehadiran gereja memiliki misi Kristus diungkapkan sendiri oleh Kristus dalam Lukas 4:18-19 untuk membawa kabar baik yang memberikan damai sejahtera atau shalom bagi mereka yang membutuhkan. “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk me nyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Pertama, misi gereja dalam kaitan dengan upaya kesejahteraan sosial di mana  gereja terpanggil untuk  ambil bagian membantu masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan “membawa kabar baik kepada orang-orang miskin”. Gereja tidak bisa hanya hidup dengan kenyamanan liturgi dan melupakan “yang miskin” atau berhenti di aksi sosial, tapi harus bersuara dan bertindak dalam keadilan sosial..

Kedua, misi kemanusiaan gereja “untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan” diwujudkan dalam penanganan masalah sakit-penyakit, tindakan seks bebas, aborsi, bunuh diri, narkoba sebagai isu-isu kemanusian yang membutuhkan perhatian.

Ketiga,  misi pendidikan untuk  membuka “penglihatan bagi orang-orang yang buta”. Gereja  bertanggung jawab mendidik generasi muda sehingga siap dalam memajukan masyarakat di mana gereja hadir. Amanat Agung mewajibkan gereja ikut dalam  “memuridkan bangsa”. Pendidikan akan memberikan penglihatan kepada mereka yang tak terdidik sehingga mampu untuk melihat karya Allah bagi dunia. Gereja  mengemban misi Allah yaitu  membawa berita damai dari Allah untuk membagikan kepada semua orang agar percaya dan diselamatkan. Karenanya, di sepanjang waktu dan tempat gereja perlu untuk terbuka, dinamis, dialogis pada situasi perkembangan di masyarakat dan tentunya dengan mengedepankan sikap yang positif, kritis, namun kreatif dan realitis. Rasul Paulus menyampaikan  agar pesan damai menjadi bagian bagi  mereka yang membutuhkan:

Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, ….” ( I Korintus 9:19-23).

Ditulis oleh: Otty Priambodo, S.Th – Sekretaris YTWR