JANGAN MENYALAHKAN ORANG LAIN

Pdt. Yohanes Madhu, STh. 

Sudah sangat lumrah saat seseorang mengalami masalah maka ia akan memberikan respons yang negatif. Respons negatif tersebut diwujudkan dalam bentuk omelan, sungutan, menyalahkan orang lain, menyalahkan situasi.  Sangat jarang saat orang ditimpa oleh masalah akan mengkoreksi diri terlebih dahulu.  Sebab, manusia adalah mahluk yang dikuasai oleh ego, dirinya adalah kebenaran, dan mendapatkan pengecualian dari segala penyebab terjadinya masalah.

Saat terjadi pertengkaran dalam rumah tangga, biasanya  dikarenakan masing masing pihak saling menyalahkan dan membenarkan diri sendiri, seakan-akan bahwa sumber masalah adalah pasangannya.  Betapa sering kita saling melukai baik dalam bentuk verbal bahkan yang bersifat kekerasan fisik.  Bukankah saat yang merasa diri tertindas, maka ia akan melakukan penindasan?  Ketika suami menyalahkan istri, maka istri yang tidak berdaya akan menyalahkan anaknya.  Demikian juga sang anak yang tak berdaya akan menekan temannya yang dianggap lebih lemah.  Siklus ini akan menjadi siklus yang selalu berulang yang menyebabkan persoalan yang lebih besar dalam masyarakat.

Saling menyalahkan adalah penyakit menular.  Pola komunikasi antara suami dan istri akan menjadi pola komunikasi anak anak.  Alkitab memberikan fakta bahwa situasi tersebut telah terjadi dalam keluarga Adam.  Dalam Kitab Kejadian dituliskan sebagai berikut,” Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”  Perhatikan respons Adam Ketika Allah meminta pertanggungjawaban darinya.  Pertanyaannya sangat simpel,” Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?  Allah hanya membutukan jawaban,” Ya Tuhan aku telah memakannya”. Namun bagaimana reaksi Adam? “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”  Adam menyalahkan Istrinya sebagai penyebab ia melakukan kesalahan.  Padahal Adam memiliki pilihan untuk menolak atau menerimapemberian Hawa. Namun Adam telah memutuskan untuk memilih opsi menerima pemberian Hawa.  Artinya, Adamlah yang memutuskan untuk melawan perintah Tuhan.  Dalam hal ini, Adam membuktikan dirinya sebagai mahluk yang tidak salah, namun yang salah adalah orang lain.  Demikian juga halnya dengan Hawa, ia sebagai mahluk yang merasa tertindas, maka akan mencari kambing hitam juga.  Dalam kitab suci dituliskan,” Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”Hawa pun tidak mau kalah, ia menyalahkan ular sebagai penyebab semuanya ini.

Pola Komunikasi antara Adam dan Hawa dalam menangani sebuah masalah menular dalam kehidupan anak-anaknya.  Saat persembahan Kain tidak diindahkan oleh Tuhan, maka mukanya muram sehingga Tuhan mengingatkannya,” Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?  Kain tidak mampu mengkoreksi dirinya bahwa saat Tuhan tidak mengindahkan persembahannya seharusnya ia belajar dari Habel.  Namun sebaliknya, bukannya mau mengakui kesalahannya, Kain menyalahkan Habel sebagai penyebab persembahannya tidak diindahkan oleh Tuhan.  Kain bukannya belajar dari Habel, sebaliknya Kain membunuh Habel yang dianggap sebagai penyebab persembahannya tidak diterima.

Dalam ilmu Psikologi, dikenal istilah Proyeksi Psikologis. Proyeksi Psikologis digagas oleh Sigmund Freud yang menyatakan bahwa proyeksi psikologis adalah sebuah bentuk pertahanan diri.  Salah satu bentuk Proyeksi Psikologis adalah menyalahkan orang lain.  Orang yang memiliki Proyeksi Psikologis adalah orang orang yang tidak mampu mengenal dirinya dengan baik.  Akibatnya, ia akan merasa nyaman saat menuduh orang lain atau menyalahkan orang lain.

Firman Tuhan mengingatkan kita,” Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? (Lukas 6:41).   Tuhan Yesus mengingatkan agar setiap orang untuk secara rendah hati mengenali dirinya dan tidak dengan mudah menyalahkan orang lain.

Orang yang mengenali dirinya dengan baik adalah pribadi sehat yang akan terlihat melalui pola komunikasi dan pola relasi yang sehat pula.  Berhentilah menyalahkan orang lain, perbaiki diri dan jadilah pribadi yang lebih baik dengan TIDAK MENYALAHKAN ORANG LAIN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *