Kekuatan Jejaring dalam Pelayanan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “mitra” artinya  teman; sahabatkawan kerja; pasangan kerja; rekan. Ketika sebuah lembaga, instansi atau organisasi melakukan kemitraan, ini berkaitan  dengan sebuah hubungan (jalinan kerja sama dan sebagainya) sebagai mitra.  Karena itu kemitraan dikenal dengan istilah “partnership”, yang secara etimologis, istilah ini  berasal dari kata “partner” yang berarti pasangan, jodoh, sekutu.

Kata “partnership” diterjemahkan dengan persekutuan. Dengan demikian, kemitraan dapat dimaksudkan sebagai suatu bentuk kebersamaan atau persekutuan dua pihak atau lebih yang membentuk satu ikatan dalam sebuah kerja sama bidang usaha untuk tujuan tertentu, yang pada akhirnya memperoleh manfaat atau hasil yang lebih baik. Sementara itu, sebuah jaringan atau yang dikenal dengan networking adalah proses dari kebersamaan yang dilakukan.

Dalam konsep Serving Together yang ditulis oleh Dr. Branko Bjelajac,  disebutkan bahwa kemitraan atau parnership adalah suatu  hubungan yang bersifat mutual independency yang didasarkan pada kesamaan misi, visi, nilai-nilai, tujuan dan komitmen. Elemen-elemen tersebut akan memberikan kekuatan penyatu yang akan melawan kekuatan dari sikap mementingkan diri sendiri oleh salah satu pihak. Dan semua elemen haruslah sangat jelas dikomunikasikan dengan baik dan disepakati bersama oleh pihak-pihak yang bermitra.  Selanjutnya Branko menyusun elemen-elemen di atas ke dalam dua kategori besar, yakni kesatuan visi-misi-nilai dan kesatuan tujuan-komitmen.

Visi-Misi-Nilai

Visi, misi dan nilai-nilai menjelaskan mengenai identitas dari partnership itu, yakni “siapakah kita” sebagai partner dalam sebuah partnership. Ada kecenderungan untuk berjalan bersama dengan mereka yang memiliki tujuan besar dan nilai yang sama dengan yang kita miliki.

Tujuan-Komitmen

Tujuan dan komitmen menjelaskan mengenai maksud dari partnership itu, yakni  “apa yang akan kita lakukan” sebagai partner dalam sebuah parnership. Ada hal-hal yang mendorong keterlibatan yang intens di dalam parnership, yaitu  tujuan-tujuan khusus yang akan dicapai bersama oleh pihak-pihak yang bermitra. Partnership yang mampu  bertahan langgeng dan efektif dilandasi oleh alasan-alasan serta tujuan-tujuan khusus  yang seiring dengan semua perubahan yang terjadi karena partnership itu.

Parnership juga didasarkan pada keyakinan, bahwa masing-masing pihak atau partner akan membawa ke dalam partnership itu seperangkat keahlian dan/atau sumber daya yang tidak dimiliki oleh pihak lainnya, yang sebenarnya sangat penting untuk mencapai misi dan tujuan bersama. Dengan demikian masing-masing pihak harus secara menyeluruh dan terus-menerus memiliki keyakinan bahwa dirinya mendapatkan nilai yang nyata dan keuntungan yang nampak dari hubungan yang dijalin dengan pihak lain dalam berjejaring.

Upaya  membangun jaringan kemitraan, pada hakikatnya merupakan sebuah proses membangun komunikasi, berbagi gagasan dan informasi serta sumber daya atas dasar saling percaya dan saling menguntungkan di antara pihak-pihak yang bermitra. Hal yang dilakukan ini tidak berhenti hanya sampai di situ, tetapi juga diwujudkan dalam sebuah kesepakatan bersama yang dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman atau perjanjian kontrak untuk  mencapai keberhasilan bersama.  Itulah sebabnya dalam membangun kemitraan dan jaringan kerja sama, hal-hal utama sebagai prinsip-prinsip dasar yang perlu diperhatikan  adalah:

  1. Kemitraan dibangun atas dasar kesamaan visi dan misi, serta tujuan organisasi. Kesamaan visi dan misi menjadi dorongan serta perekat dalam pola kemitraan yang dibangun dan dilakukan bersama.
  2. Rasa saling percaya yang terjadi antarpihak yang bermitra, karena kepercayaan merupakan modal dasar untuk membangun kemitraan yang sinergis dan mutualis. Kepercayaan dibangun karena adanya komunikasi sebelumnya yang diupayakan dan dibangun berlandaskan maksud dan tujuan serta niat baik, dan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Sebuah komunikasi menciptakan relasi yang baik antarpihak. Dan hal ini memungkinkan adanya hubungan timbal-balik atau korelasi yang baik, dan tindakan saling membantu yang lebih efektif antara kedua pihak yang bermitra.
  3. Apabila dalam bermitra, salah satu pihak merasa dirugikan atau tidak mendapat manfaat lebih, sudah pasti keadaan ini akan merusak hubungan dan mengganggu keharmonisan kerja sama. Karena itu, dalam bermitra diperlukan adanya upaya bersama untuk saling memberi kontribusi sesuai peran masing-masing, agar semua pihak merasa diuntungkan oleh kemitraan itu. Asas saling menguntungkan merupakan pondasi yang kuat dalam membangun kemitraan.
  4. Dalam berpartner diharapkan terjadinya proses kerja dengan tingkat efektivitas yang maksimal demi pencapaian tujuan akhir yang memberi keuntungan melalui keterlibatan Dengan kemitraan dapat dicapai kesepakatan para pihak yang bermitra, tentang siapa melakukan apa, sehingga usaha mencapai tujuan menjadi lebih efektif. Sinergi beberapa sumber (daya, dana dan upaya) untuk mencapai tujuan yang sama diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, dari segi waktu, biaya dan tenaga. Tindakan efisiensi tersebut tentu diharapkan agar tidak mengurangi kualitas proses dan hasil. Namun justru sebaliknya, bahwa hal ini akan  membantu meningkatkan kualitas proses dan produk yang dihasilkan.  Di sini efisiensi dan efektivitas juga menjadi prinsip dalam sebuah kemitraan.
  5. Komunikasi yang dibangun atas dasar saling menghargai atau respek satu terhadap yang lain, memegang peranan yang tidak bisa diabaikan, karena saling menghargai sangat penting dalam bermitra. Tanpa komunikasi yang baik akan terjadi dominasi dari pihak yang satu terhadap pihak yang lain. Dan ujung-ujung akan menciptakan kerusakan hubungan yang sudah dibangun.
  6. Kemitraan perlu adanya komitmen. Pada umumnya, ketika berbicara tentang komitmen, hal ini berkaitan dalam interaksi dengan orang lain. Menurut Kamus Inggris-Indonesia (John M. Echols dan Hassan Shadily), commitment berarti janji, tanggung-jawab. Pengertian yang dimaksudkan di sini, adalah  tindakan mengambil tanggung jawab atau kepercayaan.  Komitmen terjadi dalam suatu hubungan  yang memiliki sifat transaksional.  Komitmen yang dibuat dapat dinyatakan secara tertulis, misalnya dalam bentuk surat perjanjian kerja atau kontrak kerja, nota kesepahaman (Memorandum of Understanding), surat penawaran, surat pembelian barang. Sekalipun demikian, ada juga kesepakatan transaksional secara tidak tertulis untuk melakukan usaha bersama. Hal ini terjadi karena, dalam tindakan tersebut,  didahulukan asas saling percaya. Kemitraan  akan terbangun dengan kuat apabila ada komitmen satu sama lain berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang dibuat bersama.

Dengan memperhatikan prinsip-prinsip dasar kemitraan atau partnership di atas, tidak ada alasan bagi Yayasan Terang Warta Rohani (YTWR) untuk tidak melakukan kerjasama kemitraan dalam pelayanannya. YTWR, sebagai lembaga yang memiliki visi pembimbingan rohani dan pendewasaan iman umat kristiani, dalam kiprah pelayanannya, harus dapat menjadi saksi dan pelayan yang benar bagi Tuhan dan sesama. Untuk mereaslisasikan visinya, YTWR menjalankan pelayanannya dengan misi melakukan kegiatan-kegiatan di bidang sosial, kemanusiaan dan kerohanian demi perubahan  atau peningkatan hidup manusia.

Kemitraan dan jejaring  dapat dilakukan dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar  negeri, harus didahului dengan perumusan peran dan tanggung jawab masing-masing pihak, yang berhubungan dengan kegiatan yang akan dilakukan bersama, dan kemudian dituangkan dalam sebuah Nota Kesepahaman.

Tindakan lain yang tidak kalah pentingnya untuk melihat hasil dalam bermitra, adalah tindakan monitoring dan evaluasi. Tujuan monitoring adalah memantau perkembangan pelaksanaan kegiatan agar dapat mencegah terjadinya penyimpangan dari tujuan yang ingin dicapai. Dan bila terdapat permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang disepakati, hal itu dapat dipecahkan bersama. Hasil monitoring dapat dijadikan dasar untuk melakukan evaluasi. Laporan dari sebuah pelayanan yang sudah dibangun bersama perlu dilakukan untuk kemudian dievaluasi bersama agar kedua pihak dapat mengetahui kegiatan mana yang belum berjalan sesuai rencana, kegiatan mana yang sudah dikerjakan, dan masalah atau kelemahan apa (serta penyebabnya) yang mungkin menghambat pencapaian tujuan.

Kemitraan adalah tindakan untuk bersinergi.  Sinergi adalah energi atau tenaga yang terpadu yang memberikan kekuatan, di mana komponen-komponen yang berbeda bekerja sama sebagai satu kesatuan.  YTWR sebagai parachurch yang menganut nilai-nilai Alkitabiah juga melakukan sinergi  kerja sama dalam satu tubuh Kristus, yang masing-masing anggotanya berhubungan satu sama lain dengan benar untuk kemuliaan Tuhan.  Efesus 4:16 memberikan pokok pikiran tentang pertumbuhan jemaat Tuhan terjadi melalui sebuah kemitraan, pelayanan semua bagian  dari tubuh Kristus sesuai dengan karunia yang diterimanya dari Tuhan Yesus Kristus. “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, – yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”