Pemimpin yang Memikul

Teringat saya akan sesuatu, pada hampir 50 tahun yang lampau, saat saya masih seorang anak remaja belasan tahun. Ketika itu, sambil bersantai bersama beberapa teman di halaman sebuah Kantor Pemerintah Kabupaten, terdengar dari dalam aula kantor, pidato dari sang Pejabat Bupati. Salah satu kalimat dari orator tersebut, yang terdengar sekaligus tertanam di benak saya hingga hari ini, adalah: “Pemimpin itu memikul, bukan dipikul”.

Entah mengapa kalimat pendek yang saya dengar setengah abad lalu ini begitu membekas di hati saya, padahal ketika itu saya masih seorang remaja yang lugu dan miskin wawasan. Cuplikan pidato ini selalu saya ingat, juga menjiwai saya dalam menjalankan tugas apa saja, meskipun saya belum menjadi seorang pemimpin pada tingkat serendah apapun. Dan tentu saja ketika saya mulai menjadi seorang pemimpin kecil, hanya pada suatu lingkungan kecil, dan membawahi beberapa orang saja, sepotong kalimat yang datang ke dalam hidup saya bagaikan “durian runtuh” ini, langsung saja menjadi semacam moto dan slogan dalam pelayanan saya.

Moto “Pemimpin Itu Memikul, Bukan Dipikul” bukan saja menginspirasi saya, tetapi juga menjadi motivasi yang kuat, sekaligus menjadi energi yang besar dalam mengerjakan semua tugas yang dipercayakan dalam setiap pelayanan saya. Sementara itu, saya juga sadar, bahwa pekerjaan atau pelayanan apapun, tidak pernah semata-mata demi pekerjaan atau pelayanan itu sendiri, tetapi sesungguhnya demi manusia, yang tujuannya selalu untuk mengangkat manusia ke tingkat yang lebih tinggi, sesuai kehendak sang Pencipta. Maka secara sederhana, saya mengerti, bahwa yang dimaksud dengan memikul itu adalah “memikul manusia” yang seharusnya dipikul, yakni mereka yang berada di bawah kepemimpinan saya.

Memikul tanggung jawab berarti memikul manusia. Dan saya juga sadar, bahwa saya hanya mungkin memikul seorang manusia kalau saya jujur serta tulus menghargai manusia itu. Dan dari sisi yang lain, saya harus menyadari bahwa saya tak mungkin dapat memikul seorang lain, kecuali saya dengan sengaja mau menempatkan diri “lebih rendah” dari siapapun yang bakal atau telah ditentukan menjadi “pikulan” saya. Sebenarnya ini adalah pola “kepemimpinan yang memikul” yang sudah dicontohi oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri (Bandingkan Filipi 2:1-11).

Teringat pula saya akan satu peristiwa kecil, terjadi sekitar 35 tahun yang lampau, di Kota Malang. Ketika itu saya masih seorang mahasiswa Institut Injil Indonesia di Kota Batu. Salah seorang dosen kami, khusus untuk mata kuliah Pendidikan Kristen, adalah (Alm) Profesor J. F. Tahalele, MA. Beliau adalah profesor pendidikan, sebagai seorang dosen senior pada Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang, salah satu perguruan tinggi yang terkenal kala itu. Pada pertama kali saya mengunjungi sang profesor dan menginap di rumahnya, pelayanannya terhadap diri saya sebagai mahasiswanya sekaligus sebagai tamu malam itu, langsung membekas di hati saya. Beliau datang ke tempat saya duduk, menaruh sepasang sandal di depan saya, memberikan handuk serta menunjukkan kepada saya kamar mandi.

Sementara saya merasa begitu segan dan entah mau berkata apa dan bersikap bagaimana karena sadar begitu berbedanya saya dengan beliau, beliau lanjutkan pekerjaannya dengan mulai menyiapkan meja makan untuk makan malam bersama saya. Dan selama makan bersama itu beliau banyak bercerita tentang kehidupan, tanpa nasihat atau pengajaran apapun. Namun saya dapat menimba berbagai pelajaran berharga dari kisah-kisahnya. Pertanyaan-pertanyaan akademis yang saya ajukankan untuk menggali pengetahuan lebih banyak dari beliau selalu dijawabnya dengan membagikan cerita dan pengalaman yang berisikan pesan-pesan pendidikan dan pelayanan yang dengan mudah saya petik.

Profesor Tahalele, selain secara akademik berhasil mengajar sesuai profesinya, telah pula meninggalkan suatu model pendidikan keteladanan, yang menurut saya, merupakan muara atau hasil akhir dari sebuah proses pendidikan. Yakni bahwa seseorang harus bisa menjadi pelayan yang dengan ikhlas melayani orang lain. Ini berarti, melayani harusnya demi orang yang dilayani semata, bukan demi si pelayan yang melayani.

Dengan segala kemampuannya, Profesor Tahalele berhasil menyempitkan gap yang menganga lebar antara dosen dan mahasiswa yang terlihat di zaman itu. Itu dibuatnya bukan saja melalui teori pendidikan dan materi-materi kuliahnya, tetapi terutama melalui model pelayanan dan keteladanan pribadinya sendiri. Teladannya selalu menorehkan di hati kami nilai-nilai inti dan kasih sebagai “kaidah emas” dari Tuhan Yesus. Kami sebagai mahasiswa yang masih sangat muda dekat sekali dengan beliau. Beliau selalu membuka diri bagi kami, hal mana telah membuat kami seakan dapat membaca dengan jelas apa saja yang ada di dalam hati beliau yang diperuntukkan bagi kami.

Dan ada satu lagi peristiwa kecil, yang ingin saya sampaikan, terjadi 15 tahun yang lalu, di sebuah hotel di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Ketika itu lembaga pelayanan kami, TRANS WORLD RADIO regio Asia Tenggara mengadakan pelatihan kepemimpinan. Berkumpul di sana para pemimpin yang kami sebut Country Coordinators dari seluruh wilayah Asia Tenggara untuk mengikuti training ini. Pada permulaan training, sang Instruktur, Dr. Rick Sessom, meminta kami menggambarkan sebuah sketsa struktur organisasi yang kami inginkan sesuai dengan visi, misi, strategi, nilai dan prinsip yang kami anut dalam menjalankan tanggung jawab kepemimpinan kami. Maka berhasilah digambarkan pada flip-chart sebuah sketsa struktur organisasi yang cukup ideal bagi kami.

Pada sketsa ini, Direktur atau Presiden, diposisikan on the very top line. Berikut, pada level di bawahnya adalah pembantu-pembantu utama, misalnya Sekretaris, Bendahara, Ketua-ketua Departemen, dll. Pada level di bawahnya lagi adalah para Ketua Seksi atau Kepala Sub-bagian, dan seterusnya. Lalu pada level di bawahnya lagi ditempatkan petugas-petugas khusus on the front line. Baru pada level paling bawah, di situlah tempatnya target audience atau konsumen atau customer yang sesungguhnya diinginkan atau telah ditentukan menjadi alamat atau sasaran pelayanan kami.

Selanjutnya, sementara diskusi berjalan dengan hangatnya, penuh idealisme masing-masing peserta, secara tiba-tiba pendamping pada training tersebut, yakni Wakil Presiden Trans World Radio Internasional, Rev. Dr. David Tucker, angkat bicara dengan langsung bangun menuju ke depan. Beliau kemudian membalikkan kertas flip-chart yang berisi sketsa organisasi yang terlukis bagus itu. Beliau membalikkannya, upside-down, sehingga kami semua melihatnya terbalik. Yang paling di atas, pada level tertinggi, justru adalah audience atau customer yang adalah sasaran pelayanan kami. Dan, tentu saja yang kelihatan berada di level paling bawah pada bagan struktural lembaga yang kami gambarkan itu adalah sang Direktur atau Presiden sebagai pemimpin tertinggi. Langsung terbayangkan betapa berat beban seorang pemimpin, yang mustahil dapat dipikulnya kalau pada dirinya tidak ada humility, willingness, passion dan sense of responsibility. Apa yang terjadi ketika itu? Mata semua peserta training terbelalak dan sejenak semuanya diam seribu bahasa. Selanjutnya kehangatan diskusi menjadi berbeda. Kami merasakan mengalami revivals, bukan saja enlightenment.

Mengertilah kami, dan tersentuhlah hati kami secara lebih dalam, bahwa dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, pemimpin itu berada di tempat paling bawah. Itulah posisi yang mulia, yang sangat memungkinkan seorang pemimpin memikul dan melayani, seperti yang sudah dicontohkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Secara pribadi saya merasakan, bukan saja kemajuan pemahaman saya tentang kepemimpinan rohani, tetapi juga perubahan hati saya sendiri untuk menjadi seorang pemimpin rohani, sekecil apapun, kalau itu dipercayakan kepada saya. Saya semakin mengerti, sekaligus mengalami perubahan attitude, bahwa memimpin itu memang melayani, dan melayani itu sesungguhnya memikul, dan yang dipikul adalah mereka yang sangat berharga di mata Tuhan dan di mata saya sendiri. Dan, karena mereka, demi mereka -orang-orang sebagai target audience yang seharusnya dipikul itu- seorang pemimpin rohani dipanggil oleh sang Pemilik Pelayanan, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Benar, bahwa “Pemimpin Itu Memikul, Bukan Dipikul”.