Apakah Radio Masih Relevan?

Pertanyaan ini pernah diajukan kepada saya oleh seorang “Hamba Tuhan” terkait dengan apakah menggunakan radio sebagai media dalam pelayanan masih relevan dewasa ini. Saat mendengarkan pertanyaan seperti ini, saya sempat kaget, karena pertanyaan seakan-akan sedang menguji kembali apa yang sedang di kerjakan oleh YTWR saat ini, apakah media radio masih relevan.

Ketika berkunjung ke sebuah persekutuan di Malang, di mana mayoritas anggota jemaatnya adalah tunanetra, ada kesaksian yang sungguh menguatkan, bahwa rupanya tanpa YTWR sadari, ternyata mereka adalah pendengar setia sebuah stasiun radio di Malang, yang dengannya YTWR telah bekerja sama untuk menyiarkan program-program YTWR. Bahkan dengan detil mereka dapat memberikan informasi terkait dengan program yang YTWR siarkan.
Dalam perkunjungan ke lapangan untuk mengadakan observasi terhadap minat orang mendengarkan radio, fakta yang diperoleh memberikan jawaban ternyata memang radio masih sangat dibutuhkan. Orang-orang yang bekerja seperti penjahit, pembuat batu bata, kerajinan kayu, konveksi, petani, usaha kelompok, ternyata menjadikan radio sebagai media hiburan. Mereka membutuhkan konsentrasi untuk mengerjakan pekerjaannya, sementara indra pendengaran mereka dimanjakan oleh lagu-lagu atau informasi yang disajikan oleh stasiun radio terdekat.

Kerjasama YTWR dengan stasiun radio di Indonesia ternyata tidak hanya dikelola oleh perseorangan atau pengusaha, namun juga oleh kalangan gereja. Rupanya gereja melihat, bahwa radio adalah media yang sangat efektif untuk pembinaan umat. Sebagai contoh, ada beberapa station radio yang dikelola oleh gereja, misalnya: Radio ROCK di Mojokerto, yang dikelola oleh Gereja Bethany; Radio JCC di Wonosobo yang dikelola oleh GKJ; Radio Sejahtera di Malang dikelola oleh GBI Diaspora, HM Radio di Jakarta, dikelola oleh GBI Gatot Subroto; Radio Karisma di Bandung, oleh GBI Sukawarna; Radio Yobel di Pemalang, yang dikelola oleh GBI Pemalang; Radio Rengel di Tuban, oleh GPDI Rengel; Radio Muria di Jepara, yang dikelola oleh GKMI; dan masih banyak lagi. Informasi ini juga cukup memberikan jawaban atas keraguan dan pertanyaan, apakah radio masih relevan dewasa ini.

Disamping data dan fakta di lapangan, relevansi radio di era sekarang pun di dukung oleh data dari lembaga terpercaya seperti NIELSEN. Nielsen adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang informasi global serta media dan berfokus pada penelitian, dan melakukan riset untuk memberikan informasi tentang pemasaran dan konsumen televisi, serta melakukan riset atas media yang lainnya, seperti riset bisnis publikasi, trade show, termasuk riset terhadap dunia online. Hellen Katherina, Executive Director Media Nielson di Kantor Nielson Indonesia, Jakarta, merilis hasil survey bulan Januari – Juli 2017, dengan melibatkan 104 radio di 11 kota dengan jumlah responden 8.400. Survey Neilson Indonesia ini untuk kategori Adspen atau belanja iklan untuk radio berdasarkan gross rate card tanpa menghitung diskon, promo dan bonus. Menurut hasil survey Neilson Indonesia, pendengar radio saat ini telah mencapai 37 % dari populasi atau sekitar 20,2 juta pedengar di 11 kota dengan lama mendengarkan radio setiap hari 129 menit.

Relevansi radio juga didukung oleh data yang diberikan oleh Nielsen, bahwa Radio tidak lagi hanya didengarkan melalui radio tape saja, tetapi perilaku pendengar telah berubah menjadi mengedepankan teknologi dan fleksibelitas dalam mendengarkan radio. Radio kini menjadi media yang lebih personal bagi masing-masing konsumen. Tiga kota terbesar dari konsumen yang mendengarkan radio dari perangkat mobile mereka berada di kota Makassar (69%), Medan (44%) dan Jakarta (38%). Untuk memastikan bahwa radio masih relevan, maka diadakan sebuah riset masyarakat oleh sejumlah stasiun radio di Jakarta pada 11 Desember 2017. Mereka secara serentak menghentikan siaran radio mereka selama 15 menit yaitu mulai pukul 07.45-0.8.00. Ternyata respons masyarakat di luar dugaan. Bahkan #radioGueMati# menjadi trending topik di Twitter.

Hal-hal yang disajikan di atas memberikan bukti nyata bahwa radio masih relevan pada masa kini sebagai media untuk memberikan hiburan dan informasi kepada masyarakat. Apalagi dewasa ini radio telah memasuki ranah internet dengan Radio Streamingnya. Rasanya radio tidak akan pernah lekang oleh zaman. Pernyataan Presiden Joko Widodo ”Emang Enak Gak ada Radio” semakin memantapkan langkah untuk menjadikan radio sebagai sebuah pilihan dalam memberi dan mendapatkan informasi di era millenial saat ini. Sekarang tinggal bagaimana para praktisi radio meng-upgrade diri dan menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. Kesan radio sebagai media “Jadul” harus secara perlahan diubah menjadi media anak-anak Zaman Now.

Jika ada asumsi yang muncul bahwa radio hanya didengarkan oleh generasi usia yang lebih berumur, ini bertolak belakang dengan hasil temuan Nielsen RAM. Hasil Survei Nielsen menunjukkan 57% pendengar radio justru konsumen masa depan dengan usia relatif muda. Kontribusi pendengar radio ini didominasi oleh Millenials (38%), Generasi-X (28%), dan Generasi-Z (19%). Sementara pendengar radio pada Generasi Baby Boomers dan Silent Generation relatif lebih sedikit. Masing-masing berkontribusi hanya sebesar 13% dan 2%.
Apakah mau agar Radio selalu relevan sepanjang masa? Tidak ada jalan lain, kecuali para praktisi radio menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Kalau menyimak hasil survey Nielsen bahwa 57% pendengar radio adalah konsumen masa depan dengan usia yang relatif muda, maka konten dan penyaji konten pun harus di sesuaikan, agar radio senantiasa relevan sampai AKHIR ZAMAN.

Ditulis oleh: Pdt Yohanes M Madhu, S.Th, Ketua Badan Pengurus YTWR