Upside Down Inside Out

Tema yang diberikan kepada saya untuk artikel Outlook Buletin MyCare Edisi Maret ini adalah PENGORBANAN, disesuaikan dengan masa pra-paskah. Dan angle yang saya pilih adalah resistansi orang percaya yang menghambat kebebasannya untuk berkorban. Saya akan juga meletakkan tema pengorbanan ini dalam suatu situasi yang mungkin sangat menantang kita sebagai pekerja di ladang Allah, dalam berbagai segmen dan bidang kehidupan serta ladang pelayanan kita. Maka judul artikel ini adalah “Upside down – Inside out”

Frasa upside down dan/atau inside out mengandung arti adanya perubahan yang bersifat radikal atau fundamental. Suatu perubahan radikal memang bisa berakibat baik atau buruk bergantung kepada motif atau tujuan. Sebagai contoh. Untuk mengembangkan leadership style pribadi, saya membalik sketsa struktur organisasi. Pemimpin tertinggi, yang biasanya ditempatkan on the top of the structure, saya balikkan dan tempatkan pada level paling bawah. Lalu bagian-bagian yang biasanya ditempatkan paling bawah secara bertingkat saya letakkan justru pada posisi di atas hingga pada level paling atas. Maka sketsa struktural organisasi terlihat unik. Meskipun demikian, filosofi upside down – inside out ini memberikan pesan, bahwa dalam konteks pelayanan, pemimpin itu melayani, mengangkat dan memikul. Bukan sebaliknya. Kendatipun secara struktural-organisatoris seorang pemimpin berada pada posisi puncak, dalam pelayanan ia berada di dasarnya. Dengan begitu, seorang pemimpin dalam kerendahannya dapat memahami realitas kehidupan yang sebenarnya, juga mampu melayani siapa saja yang harus dilayani.

Misalnya, melalui media, kita mungkin pernah melihat seorang gubernur masuk ke dalam gorong-gorong untuk memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi pada gorong-gorong yang telah menghambat aliran pembuangan air sehingga menyulitkan kehidupan banyak orang; seorang gubernur berdiri di pinggir sungai, mengamatinya dengan penuh keprihatinan, walaupun terpaksa mencium bau busuk sungai yang tertutup sampah bertahun-tahun tanpa solusi penyelesaian.

Atau kita juga melihat seorang presiden meninggalkan istananya, datang dan berjalan-jalan di area hutan terbakar yang mengakibatkan polusi amat besar dan membahayakan masyarakat; atau masuk dan duduk bersama para korban bencana alam dalam tenda-tenda darurat; atau menemui rakyat yang terbelakang, miskin dan menderita, berdialog dengan mereka, untuk mendengar sendiri keluhan-keluhan hati rakyatnya tentang realitas kehidupan yang memprihatinkan yang sedang dialami rakyatnya.

Memang “turun ke bawah” akan sangat berguna bagi setiap pemimpin. Tujuannya untuk memahami sendiri secara tepat situasi dan problem serta penyebabnya yang sebenarnya, sekaligus memahami penderitaan orang-orang yang terkena dampak dari sebuah musibah atau bencana. Dan tentu saja ini lebih menolong sang pemimpin untuk bersama pembantu-pembantunya memikirkan solusi yang tepat untuk menyelesaian masalah dan membawa perubahan.

Apa yang dicontohkan di atas, hanya untuk menunjukkan inisiatif dan tindakan upside down, turun dari “kursi kebesaran” pemimpin tertinggi untuk duduk di atas “rumput kering” bersama rakyat jelata, pada waktu-waktu dan moment-moment tertentu. Juga seorang pemimpin besar keluar dari “istana megah” dan “ruang prestisius” lalu masuk ke dalam “tenda-tenda” dan “gorong-gorong” kehidupan orang kecil. Mungkin contoh-contoh ini sedikit menolong memperlihatkan adanya suatu kesediaan atau pilihan hati untuk melepaskan sesuatu yang adalah milik yang dapat dipertahankan, dan melunakkan resistansi kekuasaan dan kemuliaan diri demi keselamatan dan kesejahteraan banyak orang yang sedang dalam kesulitan hidup.

Pertanyaan penting adalah, apa sebenarnya yang membuat orang begitu resistan, sehingga dia tidak dapat berkorban demi keselamatan atau kebahagiaan orang lain? Padahal setiap orang mungkin ingin berkorban, juga setiap orang mungkin juga sadar bahwa dirinya memiliki kemampuan melakukan sesuatu yang dibutuhkan banyak orang.

Perubahan dunia dengan segala kemajuannya dalam berbagai aspek dan bidang kehidupan, tak henti-hentinya menciptakan macam-macam kebutuhan manusia, yang sebelumnya tak disadari oleh manusia itu sendiri. Pada saat yang sama, kemajuan teknologi membuat segala sesuatu menjadi amat mudah. Dan bahwa manusia senantiasa mencari apa yang paling mudah demi memperoleh yang paling baik dan paling menyenangkan baginya. Maka etalasi kehidupan ini penuh dengan berbagai produk dan penawaran yang menggairahkan, sehingga manusia sendiri sebagai konsumen seakan ingin tersandra dalam godaan “keinginan daging” yang tak terkendali. Tawaran kebutuhan dan kenikmatan fisik yang menggiurkan tidak akan pernah berhenti, bahkan akan selalu membuat manusia terjebak sekaligus terdesak untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya kalau manusia itu tidak ingin ketinggalan.

Dalam tekanan keadaan inilah tercipta sebuah standar hidup, juga gaya hidup pribadi ataupun kolektif. Dan apabila suatu “keinginan daging” dipenuhi, maka godaan itu akan semakin menjadi-jadi. Kepentingan diri sendiri menjadi yang paling utama, top priority, dan sulit dikompromikan. Kepentingan diri ini juga dikuatkan oleh egoisme yang semakin berakar dalam. Maka selanjutnya, usaha pemenuhan keinginan manusiawi akan terus menggila. Keadaan ini juga akan memberikan ruang dan kesempatan luas bagi kecenderungan konsumerisme dan hedonisme, bahkan keserakahan yang akan membuat manusia tidak pernah puas dengan apa yang ada padanya, bahkan tidak pernah puas dengan dirinya sendiri; kecuali dihalangi oleh keterbatasan pribadi dan unsur lain yang lebih kuat menahan sehingga manusia tidak dapat mencapai semua keinginannya.

Etalase kehidupan yang penuh variasi produk-produk untuk kenikmatan kehidupan fisik mengakibatkan hampir semua keinginan manusiawi sebagai kebutuhan sekunder disulap menjadi kebutuhan primer demi pemenuhan standar hidup yang terus dinaikkan dan gaya hidup yang terus ditingkatkan. Inilah yang akan membuat manusia tidak akan pernah merasa cukup. Akibatnya manusia akan menjadi lemah, tak berdaya membatasi dirinya, dan tidak tertarik untuk turun dari ketinggiannya dan keluar dari dirinya sendiri untuk mendapat kebebasan berkorban demi keselamatan dan kesejahteraan orang lain. Kelemahan manusia semacam ini tetap menantang meskipun pemahaman akan kebenaran dan kebaikan serta pemahaman akan kondisi hidup manusia yang memprihatinkan serta belas kasihan manusiawi ciptaan Tuhan masih tetap juga ada dalam dirinya.

Apakah kondisi manusia yang memprihatinkan ini hanya berlaku bagi orang-orang tidak beriman? Tidak. Apakah kondisi ini hanya berlaku dalam kehidupan orang-orang yang sangat awam dalam pengetahuan tentang Firman Allah? Tidak juga. Kelemahan manusiawi ini ada dan dapat juga berkembang dalam diri semua orang beriman, termasuk para rohaniwan.

Kembali kepada konteks di mana kita sedang berada di masa pra-paskah, di bawah tema pengorbanan, dengan fokus pada resistansi pribadi yang menghambat ihwal pengorbanan, pada dasarnya, dalam tradisi Kristen, masa pra-paskah ini terisi dengan penyadaran diri atas keberdosaan manusia serta hukuman yang harus ditanggung sebagai akibatnya. Bersamaan dengan itu tersisip niat-niat mulia manusia untuk bertobat dan berubah. Dan akhirnya semua akan tiba pada perenungan mendalam tentang pengorbanan Yesus Kristus hingga kematian-Nya di kayu salib sebagai puncak penderitaan dan penghinaan sekaligus puncak kegeraman dan kejahatan manusia atas diri Yesus.

Kita bisa melihat apa yang dibuat Tuhan Yesus sebagaimana yang dijelaskan Paulus dalam Filipi 2:1-11. Paulus menekankan pesannya untuk kita, agar kita tidak mencari kepentingan sendiri. Sebaliknya kita harus menganggap orang lain lebih utama dari diri kita sendiri. Sebagai dasarnya, Rasul Paulus memperlihatkan contoh yang dilakukan oleh Yesus. Dikatakan bahwa Yesus sendiri tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya Yesus mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Yesus merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Yesus merendahkan diri-Nya, begitu rendah, hingga pada batas kerendahan yang diizinkan Allah. Dan dari dasar kerendahan inilah, Yesus dapat mendekati manusia, dapat didekati oleh manusia, dapat berkomunikasi dengan manusia dalam bahasa dan kebudayaan manusia, dan dapat dengan bebas melayani manusia sesuai tujuan kasih Allah atas manusia.

Kita sebagai manusia tidak dapat mengukur kebesaran dan kemuliaan Tuhan Yesus Kristus. Dan kita juga tidak dapat memahami tingkat kerendahan yang dipilih-Nya, yang Ia hayati, dengan tujuan menyelamatkan manusia yang berdosa dan terhukum, dan mengangkat manusia berdosa ini pula sampai pada  tingkat kemuliaan yang telah ditentukan sang Pencipta. Ia yang tidak berdosa dan benar dan mulia, menjadi begitu hina, dan dihinakan justru di tangan orang-orang berdosa. Peristiwa kesengsaraan dan kematian Yesus sangat tidak masuk akal, terjadi di luar etika manusia dan sangat memilukan hati manusia.

Tetapi, inilah yang terjadi, yang disebut pengorbanan. Artinya melepaskan apa yang menjadi milik yang paling dimuliakan, yang paling dibanggakan, yang paling disenangi, hanya demi manusia yang berada dalam keadaan tidak layak. Agar yang tidak layak menjadi layak di hadapan Allah dan di hadapan manusia. Inilah filosofi Upside down – Inside out, melalui proses “mengosongkan diri” di tengah tawaran kenikmatan dunia yang menggiurkan, di dalam status dan posisi manusia yang prestisius, dan melalui proses pembebasan diri dari kecenderungan tidak pernah puas dengan apa yang ada.

Ditulis oleh: Pdt. Fredrik Makitan (Anggota Pendiri YTWR)