Disadur dari Program “Aku dan Dia” oleh Ibu Anis Wahyuningsih
Dapatkah kita menjaring angin? Menurut ilmu pengetahuan, angin adalah udara yang bergerak. Udara tidak memiliki wujud, sehingga jika kita mencoba menangkapnya dengan jaring, usaha itu akan sia-sia. Gambaran ini mengilustrasikan bagaimana usaha manusia untuk menutupi dosanya di hadapan Allah juga merupakan tindakan yang sia-sia.
Kisah manusia pertama di Taman Eden memberikan contoh nyata. Setelah memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, mata mereka terbuka dan mereka menyadari bahwa mereka telanjang. Sebelumnya, meskipun keadaan mereka sama, mereka tidak merasa malu. Kesadaran ini menunjukkan bahwa bukan mata jasmani mereka yang berubah, melainkan mata hati mereka kini terbuka terhadap rasa bersalah dan malu akibat dosa.
Dalam upaya menutupi rasa malu itu, mereka menyematkan daun pohon ara untuk membuat cawat. Namun tindakan ini bukanlah solusi sejati. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa mereka lebih berusaha mempertahankan kehormatan di hadapan satu sama lain daripada mencari pengampunan dari Allah. Usaha manusia untuk menutupi dosa dengan berbagai alasan, upaya, atau pembenaran, tidak pernah mampu menghapus dosa itu sendiri. Semua itu ibarat menjaring angin—sia-sia dan tidak membawa hasil yang sejati.
Daun-daun ara yang mereka gunakan hanya memperburuk keadaan. Rasa malu yang disembunyikan justru menjadi semakin memalukan. Inilah kecenderungan manusia hingga kini: mencoba menutupi pelanggaran dengan berbagai cara, alih-alih datang dengan kerendahan hati untuk mengakui dan mencari pengampunan dari Tuhan.
Ketika Adam dan Hawa mendengar bunyi langkah Tuhan yang berjalan di taman pada waktu hari sejuk, mereka bersembunyi di antara pohon-pohon. Ketakutan melanda mereka, karena mereka telah melanggar perintah Allah. Namun alih-alih menghadap Tuhan dan mengakui kesalahan mereka, mereka memilih bersembunyi. Kitab Suci tidak mencatat adanya pertobatan spontan saat itu; yang ada adalah rasa takut dan usaha sia-sia untuk bersembunyi.
Realitas ini masih terjadi dalam kehidupan manusia masa kini. Ketika jatuh dalam dosa, jarang sekali orang datang segera kepada Tuhan untuk memohon pengampunan. Lebih sering, manusia berusaha menyelesaikannya dengan cara sendiri, dengan berbagai pembenaran atau penutupan dosa yang pada akhirnya tidak menyelesaikan persoalan.
Firman Tuhan mengingatkan kita, bahwa hanya dengan pengakuan dosa yang jujur di hadapan Allah dan pertobatan yang sungguh, kita dapat dipulihkan. Usaha manusia untuk menutupi dosa dengan kekuatannya sendiri akan selalu berakhir sia-sia—seperti usaha menjaring angin.
































