(Nama samaran)
Perjalanan hidup sering kali diwarnai tanda tanya. Tidak seorang pun mampu sepenuhnya memahami kehendak dan keputusan Tuhan atas apa yang terjadi di dunia ini. Karena itu, manusia hanya bisa bersandar kepada-Nya, mengakui bahwa kita tidak memiliki kuasa untuk menolak atau mengubah apa yang Tuhan izinkan terjadi.
Inilah yang dialami oleh Ibu Marta (nama samaran), 52 tahun, yang harus melanjutkan pelayanan penggembalaan di sebuah gereja di Sumatera Utara setelah suaminya meninggal dunia. Tugas berat itu jatuh ke pundaknya ketika ia masih harus membesarkan ketiga anaknya yang masih kecil dan bersekolah. Ia tidak pernah membayangkan akan melalui jalan hidup seperti ini. Kesedihan mendalam sempat membuat hatinya hancur, dan ia bergumul dengan keputusan Tuhan atas kepergian suaminya yang begitu cepat.
Di tengah situasi yang terasa gelap dan tanpa jalan keluar, Ibu Marta hanya bisa berseru kepada Tuhan. Ia berdoa dan bernyanyi, memohon kekuatan agar mampu melewati duka dan beban hidup yang amat berat. Dalam masa-masa itu, Tuhan mempertemukannya dengan Program Wanita Berpengharapan yang ia dengarkan melalui Radio Bahana Kusuma – Sumatera Utara. Melalui program tersebut, iman dan pengharapannya kembali diteguhkan. Firman Tuhan dan berbagai kesaksian di dalamnya memberi kekuatan baru agar ia tetap berdiri teguh, menjalani pelayanan, membesarkan anak-anak, dan menyekolahkan mereka.
Seiring waktu, anak-anaknya pun bertumbuh mencintai Tuhan dan menjadi penopang bagi pelayanan ibunya. Mereka mengalami penghiburan demi penghiburan melalui pertolongan Tuhan yang nyata sejak kepergian ayah mereka.
Beberapa waktu lalu, Ibu Marta menerima bantuan sembako melalui kerja sama antara Lembaga Sosial dan YTWR, yang disalurkan oleh Koordinator Pendengar YTWR di Sumatera Utara. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan syukur yang mendalam. “Harapan dalam Yesus tidak pernah mengecewakan,” katanya penuh semangat.
































