Oleh: Anis Wahyuningsih, S.Th.
Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat hidup sendiri. Setiap hari kita bersinggungan dengan orang lain, dalam keluarga, pekerjaan, maupun lingkungan sekitar. Dalam setiap interaksi itu, ada satu bagian tubuh yang memegang peranan besar, yaitu lidah. Benarlah ungkapan bahwa hidup dan mati kita dikuasai oleh lidah. Kata-kata memiliki kekuatan besar untuk mendatangkan kehidupan atau kematian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Apa yang kita ucapkan, itulah yang akan kita tuai.
Lidah memang diciptakan sebagai alat untuk berbicara, selain berfungsi dalam proses pencernaan dan sebagai indra pengecap. Namun lebih dari itu, lidah adalah alat komunikasi yang sangat penting dalam relasi kita sebagai umat ciptaan Allah. Melalui lidah, kita dapat membangun hubungan atau justru merusaknya, baik hubungan antar sesama manusia maupun relasi kita dengan Allah. Kata-kata dapat menjadi alat yang sangat kuat: dapat membangun, tetapi juga menghancurkan. Orang yang terbiasa mengucapkan hal-hal negatif akan menuai akibat buruk dari perkataannya, sedangkan orang yang menabur kata-kata yang membangun akan menikmati hasil yang baik.
Allah menciptakan manusia untuk hidup dalam kebenaran, dan dengan mulut kita diminta untuk mengatakan yang benar. Karena itu, Allah sangat membenci dusta dan segala bentuk perkataan yang menyesatkan, apalagi fitnah yang menimbulkan pertengkaran. Kitab Taurat menegaskan, “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar” (Keluaran 23:1).
Tahukah Anda bahwa seorang pemfitnah tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah? Fitnah biasanya lahir dari hati yang jahat, hati yang dipenuhi sakit hati, iri, atau kebencian. Melalui fitnah, seseorang menjadikan orang lain sebagai sasaran pelampiasan perasaannya. Dari situlah muncul pertengkaran dan perpecahan. Inilah yang disebut mengadu domba, yaitu menimbulkan pertikaian di antara sesama.
Fitnah dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti bisik-bisikan atau gosip, umpatan, kecurigaan, campur tangan dalam urusan orang lain, ucapan yang jahat, kesaksian dusta, penghakiman tanpa kasih, kabar bohong, atau membangkit-bangkitkan perkara. Semua itu merupakan tindakan yang mencela hukum Allah dan menimbulkan perpecahan di antara saudara-saudara seiman. Karena itu, kita harus membuang semuanya dari hidup kita, dan belajar untuk mengasihi sesama sebagai ciptaan Allah yang unik, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Kasih berarti menginginkan yang terbaik bagi orang lain dan memelihara reputasinya sebagaimana kita menjaga reputasi kita sendiri. Firman Tuhan berkata, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia” (Roma 13:10). Mari kita gunakan lidah kita untuk memuji nama Tuhan dan mengucapkan kata-kata yang membangun, bukan untuk memfitnah atau mengadu domba.
































