Oleh: Susilowati Makitan
Seorang pria berusia empat puluh tahun harus mendekam di penjara selama sepuluh tahun karena menipu banyak orang dan bahkan membunuh salah satu korbannya. Setiap hari ia meratapi nasibnya dan menyesali semua perbuatannya. Di balik jeruji besi, ia sadar bahwa hidupnya kini terbatas: tidak bisa pergi ke mana pun, tidak bebas melakukan apa saja, bahkan tidak bebas memilih makanan yang ia inginkan.
Tidak ada seorang pun yang dapat membebaskannya dari hukuman itu. Ia harus menjalani masa hukumannya sampai selesai. Namun di tengah penyesalannya, muncul pertanyaan yang lebih dalam: “Apakah aku bisa bebas dari dosa-dosaku?”
Kita tahu bahwa hukuman dosa adalah maut — kematian kekal yang memisahkan manusia dari Allah. Dosa tidak bisa dibawa ke surga. Artinya, dosa harus dihapus atau diampuni terlebih dahulu.
Banyak orang mencoba menghapus dosanya dengan cara-cara mereka sendiri. Ada yang berbuat baik sebanyak mungkin, berharap amal dan kebaikannya cukup untuk menebus dosa. Ada pula yang menjalankan berbagai ritual keagamaan dengan harapan bisa selamat dari hukuman dosa. Namun, semuanya berakhir dengan kebingungan: apa sebenarnya yang dapat menyelamatkan manusia dari hukuman dosa?
Sahabat, ada kabar baik bagi kita semua. Kabar itu terdapat dalam Injil Yohanes 3:16:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Ayat ini menunjukkan dua hal penting:
- Kasih Allah begitu besar kepada dunia.
- Bukti kasih itu adalah pengorbanan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus.
Yesus Kristus datang ke dunia, mati di kayu salib, dan bangkit pada hari ketiga untuk menebus dosa umat manusia, agar mereka tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.
Namun, keselamatan ini tidak otomatis berlaku bagi semua orang. Tuhan Yesus menegaskan bahwa hanya mereka yang percaya kepada-Nya yang akan diselamatkan. Percaya berarti beriman. Maka, iman kepada Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan dari hukuman dosa.
Firman Tuhan dalam Efesus 2:8–9 menegaskan hal ini:
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
Keselamatan adalah anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia. Melalui iman kepada Yesus Kristus, kita dibebaskan dari hukuman dosa dan menerima hidup kekal.
Namun, iman sejati selalu disertai pertobatan dan perubahan hidup. Orang yang beriman kepada Tuhan Yesus harus meninggalkan dosa-dosanya dan hidup dalam kebenaran. Iman yang menyelamatkan adalah iman yang taat.
Yesus berkata dalam Matius 7:21:
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”
Jadi, iman yang menyelamatkan adalah iman yang diwujudkan dalam ketaatan dan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Sahabat, bila Anda belum beriman kepada Yesus Kristus, inilah saat yang tepat untuk percaya kepada-Nya. Tidak ada cara lain untuk bebas dari hukuman dosa selain beriman kepada Tuhan Yesus.
Jangan menunda keputusan terpenting dalam hidup Anda. Percayalah kepada Yesus — iman kepada-Nya akan menyelamatkan Anda dan membawa kepada hidup yang kekal.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)
































