Oleh: Rosiana Utomo, S.Th.
Sejak awal sejarah manusia, keinginan yang salah yang berawal dari apa yang tampak di mata telah menjadi pintu masuk dosa. Hawa melihat buah yang dilarang itu “sedap dipandang mata” (Kejadian 3:6). Pandangan matanya yang tertarik oleh keindahan membuatnya buta terhadap perintah Allah. Hal yang sama juga dialami Akhan, yang mengambil barang-barang terlarang karena “terlihat indah” (Yosua 7:21). Akibatnya, seluruh bangsa Israel mengalami kekalahan.
Dari kisah ini kita belajar bahwa mata yang tertarik oleh keinginan yang salah akan mengaburkan kebenaran Allah. Apa yang terlihat indah belum tentu benar di mata Tuhan. Yesus juga mengingatkan dalam Lukas 11:34, “Apabila matamu jahat, terang yang ada padamu pun menjadi gelap.” Ketika keinginan hati salah, mata rohani pun menjadi gelap. Keinginan yang tidak diarahkan kepada Allah akan menarik kita menjauh dari terang Kristus dan menjerumuskan kita ke dalam kegelapan rohani.
Keinginan hati yang salah bisa muncul dalam banyak bentuk. Kadang ia hadir sebagai iri hati terhadap keberhasilan orang lain, atau kesombongan yang ingin selalu dipuji. Ada kalanya ia datang dalam bentuk hawa nafsu yang mengejar kenikmatan sesaat, atau ambisi pribadi yang melupakan kehendak Tuhan. Semua itu membuat mata rohani tidak lagi tertuju kepada Allah, melainkan kepada diri sendiri. Ketika pusat hidup bergeser dari Tuhan kepada keinginan pribadi, terang Kristus perlahan menghilang dari pandangan kita.
Alkitab memberi peringatan yang sangat jelas:
“Sebab segala yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.”
(1 Yohanes 2:16)
Ayat ini menegaskan bahwa keinginan mata yang salah adalah pintu masuk menuju kegelapan. Ketika hidup dikuasai oleh keinginan duniawi, hati dan pikiran kita menjadi kabur, sehingga sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kita menjadi buta terhadap kebenaran Allah.
Namun, kabar baiknya adalah Tuhan tidak membiarkan kita sendirian dalam pergumulan melawan keinginan yang salah. Ia mau membebaskan kita dari kegelapan itu. Rasul Paulus menulis, “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (Galatia 5:16). Artinya, jalan keluar dari mata rohani yang gelap adalah hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Ketika hati kita dipenuhi oleh Roh, keinginan yang salah kehilangan kuasanya, dan mata rohani kita kembali jernih memandang Allah. Bukan karena kekuatan kita sendiri, melainkan karena kuasa Roh yang bekerja dalam diri kita.
Sahabat, mari kita merenung sejenak: adakah keinginan yang saat ini menguasai hati kita dan membuat mata rohani menjadi gelap? Jangan biarkan kegelapan itu tumbuh dan berakar. Datanglah kepada Kristus dan bawa semua keinginan yang salah kepada-Nya. Di bawah salib-Nya, kita belajar menundukkan keinginan pribadi dan memulihkan pandangan rohani.
Kiranya mata kita kembali jernih, dipenuhi terang, dan selalu tertuju kepada Tuhan, sumber terang sejati yang membimbing langkah kita setiap hari.
































