Home » SANG PENGAMPUN

SANG PENGAMPUN

Oleh: Pdt. Yohanes Madhu, S.Th., MM.

Pernahkah saudara diperhadapkan pada situasi dimana saudara merasa sulit untuk berkelit?   Suatu saat saya membuat aturan kepada anak-anak bahwa mereka dilarang membawa motor jika tidak mendapat izin dari saya.  Suatu saat anak lelaki saya membawa motor tanpa minta izin dari saya.  Kemudian anak saya yang perempuan mengadu kepada saya tentang saudaranya yang membawa motor, yang dia yakini belum mendapat izin dari saya.  Dalam situasi seperti itu, tentu saya terpojok antara menerapkan aturan dan anugerah.  Di satu sisi memang anak saya salah karena memakai motor tanpa izin.  Namun di sisi lain, saya juga harus memahami bahwa ada kebutuhan mendesak yang harus ia lakukan, dan itu membutuhkan sarana seperti sepeda  motor.  Jika saudara dalam situasi seperti itu, apa yang harus saudara lakukan?

Suatu saat ketika hari masih pagi, Yesus sudah dikerumuni banyak orang.  Mereka ingin mendengarkan pengajaran yang diberikan oleh Yesus.  Memang Yesus menjadi sorotan masyarakat karena cara Dia mengajar sangat berbeda jika dibandingkan dengan para ahli Taurat zaman itu.  Itulah sebabnya, tidak mengherankan, jika Yesus menjadi seperti magnet bagi banyak orang.  Ketenaran Yesus ini menyebabkan para pemuka agama lainnya merasa tersingkirkan.  Para pemuka agama merasa bahwa mereka sudah kalah pamor jika dibandingkan dengan Yesus.  Karena merasa ada saingan, maka pemuka agama Yahudi selalu mencari cara untuk menjatuhkan Yesus.  Dan salah satu kisah yang dicatat di dalam Injil Yohanes Pasal 8:1-11, berbicara tentang kebijaksanaan Yesus di dalam menyelesaikan sebuah persoalan.  Melalui kisah ini, saudara akan belajar tentang  pribadi Yesus yang sebenarnya

Saudara, Injil Yohanes 8:1-11, merupakan sebuah kisah yang dimulai dari peristiwa Yesus sedang mengajar di Bait Allah.  Di dalam ayat 2, dituliskan,” Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. “   Yesus memiliki sebuah rutinitas yang sudah menjadi bagian dari gaya hidupnya yaitu selalu meluangkan waktu untuk mengajar masyarakat pada masa itu.  Dan Alkitab menjelaskan bahwa orang-orang yang datang kepadaNya bukanlah dalam jumlah yang sedikit.  Dicatat di dalam ayat 2, bahwa SELURUH RAKYAT DATANG KEPADANYA.  Apa artinya ini?  Artinya bahwa Yesus merupakan Pribadi yang dielu-elukan oleh rakyat Israel pada masa itu.  Namun disisi lain, ada sekelompok orang yang menamakan diri mereka sebagai ahli-ahli Taurat dan orang Farisi sibuk mencari cara untuk menjatuhkan Yesus.  Nampak ada dua kepentingan yang berbeda.  Di satu sisi, rakyat berbondong-bondong datang kepada Yesus untuk mendengarkan pengajaranNya, namun di sisi yang lain, sekelompok orang juga berjuang untuk “menghancurkan Reputasi” pelayanan Yesus.  

Di dalam ayat 3 dan 4, Injil Yohanes mencatat bahwa,” ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 

Suasana yang tadinya hening, dan yang terdengar hanya suara Yesus namun tiba-tiba suasana menjadi riuh.  Pada mulanya, seluruh rakyat menaruh perhatiannya kepada Yesus, namun kini perhatian mereka sudah teralihkan.  Pandangan mereka bukan lagi tertuju kepada Yesus, namun pandangan mereka sudah berpaling kepada seorang wanita, yang menurut kesaksian para ahli taurat dan orang farisi tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

Kondisi yang riuh dan tidak terkendali bisa saja menyebabkan wanita ini mati sia-sia karena dilempari batu oleh seluruh rakyat yang hadir pada saat itu.  Yesus diperhadapkan kepada situasi yang sangat sulit.  Para ahli taurat dan orang Farisi mengharapkan Yesus akan menyetujui sikap mereka untuk melempari wanita ini dengan Batu sesuai dengan perintah Musa.  Tentu jika ini yang Dia lakukan, persoalan dari sisi tuntutan hukum taurat terselesaikan.  Namun ada persoalan lainnya, dimana Yesus menyaksikan sendiri seorang wanita tak berdaya remuk karena dilempari batu oleh seluruh rakyat yang hadir pada saat itu.

Kisah ini sungguh sangat menarik, karena kisah ini memberikan kepada kita gambaran tentang Pribadi yang Agung yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Mari kita perhatian apa yang Yesus lakukan.  Ketika para ahli Taurat dan orang Farisi secara terus menerus menekan Yesus dengan pertanyaan, akhirnya Yesus memberikan respons yang sungguh mengejutkan bagi ahli Taurat, orang Farisi, dan tentu bagi rakyat yang hadir pada saat itu.  Bagaimana respons Yesus?  Di dalam ayat 7, Yesus memberi respons seperti ini:” Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” 

Reaksi Yesus atas keadaan ini, sungguh di luar dugaan masyarakat saat itu.  Dia bukanlah pribadi yang ragu-ragu di dalam mengambil sebuah keputusan.  Dia adalah Pribadi yang tegas dan penuh Kebijaksanaan.  Ungkapan Yesus,” Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” menunjukan bahwa Ia tetap menghargai apa yang sudah diperintahkan dalam hukum taurat.  Namun disisi lain, Yesus memberikan penekanan yang lebih dalam lagi kepada eksistensi manusia yang berdosa dan membutuhkan kasih karunia.  Apa yang dikatakan oleh Yesus ini tentu saja meruntuhkan semua cara berpikir para ahli taurat dan masyarakat pada masa itu.  Bahkan bagi wanita yang tertangkap basah karena berzinah pun mendengarkan ucapan Yesus ini sebagai sesuatu yang berbeda.

Ungkapan Yesus ini membawa kepada sebuah kesadaran bahwa setiap manusia itu adalah orang berdosa.  Memang benar wanita ini tertangkap basah melakukan dosa, namun apakah para ahli taurat, orang farisi serta rakyat yang hadir pada saat itu tidak pernah berbuat dosa?  Alkitab mencatat bahwa,”Setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua (9).  Ini artinya bahwa ada kesadaran dalam diri mereka sebagai orang yang berdosa.  Karena itulah mereka merasa tidak patut juga untuk melempari  wanita yang berzinah ini dengan batu sekalipun sudah ada dalam aturan Hukum Taurat.

Kisah ini tidak berakhir hanya sampai di sini.  Ketika semua orang sudah pergi, dan tinggal Yesus dan wanita ini, sebuah perkataan yang mengubahkan seluruh kehidupan wanita ini diucapkan oleh Yesus,” “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” 

Yesus bukan saja tidak menghukum wanita ini menurut tata cara hukum taurat,  sebaliknya, Yesus memberikan sebuah penyadaran kepada wanita ini untuk  bertobat, dengan perintah,”Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang ini,”  Yesus tidak mengatakan,”pergilah, dan jangan berzinah lagi mulai dari sekarang,”  Namun Yesus memberikan perintah,”jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang ini,”

Inilah Pribadi Yesus yang sungguh-sungguh luar biasa.  Ia hadir memberikan kasih dan pengharapan bagi yang tertindas.  Ia memberi pengampunan bagi setiap orang yang mau datang kepadaNya.