Home » Menyatunya Perkataan dan Perbuatan

Menyatunya Perkataan dan Perbuatan

OLEH Pdt. Yohanes, S.Th., M.M.

Kedatangan Yesus ke dalam dunia sebagai manusia selalu menarik untuk diperbincangkan .  Ia lahir sebagai manusia di Betlehem , Yudea sebuah tempat yang kecil dan tidak terpandang. Masa-masa sebelum Yesus lahir sebagai manusia, aktivitas keagamaan orang Yahudi di dominasi oleh pemuka-pemuka agama Yahudi.  Mereka hidup dalam tradisi agama Yahudi yang kental dengan Hukum Taurat dan tradisi nenek moyang mereka.  Namun saat Yesus hadir di tengah-tengah masyarakat Yahudi, maka ada guncangan-guncangan terhadap tradisi-tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun.   Yesus hadir dengan pengajaran-pengajaran yang seakan-akan meruntuhkan seluruh tatanan yang sudah ada.  Sebab pengajaran Yesus dianggap sebagai pengajaran yang melanggar tradisi yang sudah mereka pegang selama ini.  Misalnya, Yesus menyembuhkan pada hari Sabat.  Bagi orang Yahudi, mereka sangat mengagungkan hari sabat, sehingga tatkala Yesus menyembuhkan orang pada hari sabat, maka dianggap sebagai sebuah pelanggaran.  Setiap pengajaran dan tindakanNya selalu diawasi oleh tokoh-tokoh agama.  Namun di sisi lain, masyarakat pada saat itu sangat mendambakan kehadiran seorang tokoh yang mampu memberikan pencerahan bagi kehidupan mereka.  Itulah sebabnya, ke mana saja Yesus pergi, selalu saja banyak orang yang mengikutiNya.  Yesus tidak hanya memberikan pengajaran,  namun Ia juga melakukan  mujizat-mujizat.  Pelayanan yang dilakukan oleh Yesus dijiwai dengan kasih.  Ia selalu tergerak dengan belas kasihan ketika melihat orang yang kelaparan, menderita, teraniaya.  Bahkan, Yesus mengajarkan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang selama ini dipahami oleh masyarakat Yahudi.  Ajaran mata ganti mata, gigi ganti gigi atau ajaran kasihilah sesamamu, dan bencilah musuhmu, oleh Tuhan Yesus diluruskan.  Yesus mengajarkan agar pengikutNya  memiliki kasih dan kemurahan hati kepada orang-orang yang memusuhi mereka.  Tentunya pengajaran ini sepertinya  membongkar cara berpikir mereka, sehingga yang tadinya mereka hanya bicara hukum, namun kini mereka dituntut untuk membuka hati untuk mengasihi Tuhan dan sesama dengan segenap hati.

Apakah Yesus berhenti hanya sampai kepada pengajaran-pengajaran saja?    Yesus datang ke dunia bukan hanya mengajarkan apa yang menjadi kehendak Allah bagi dunia ini, namun Ia juga menunjukan kepada dunia, bagaimana kasih Allah itu di tunjukan.  Saat Yesus  ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman mati dengan cara disalibkan, Yesus tetap konsisten dengan apa yang telah Ia ajarkan.  Di dalam  Lukas 23:33-43, ketika Ia mengalami siksaan secara fisik dan juga mental, dimana Ia harus disalibkan, diejek, diolok-olok, dengan tenang Ia berkata,”Ya Bapa ampunilah mereka,sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”Dalam peristiwa ini, Yesus memang seperti domba yang kelu saat dibawa ketempat penyembelihan.  Tidak ada perlawanan, tidak ada ancaman.  Sebaliknya, Yesus sekalipun berada dalam situasi yang sangat menyakitkan yang bukan karena kesalahanNYa, Ia tetap konsisten mengasihi mereka, seperti yang sudah Ia ajarkan:”Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu”

Inilah Tuhan yang kita sembah.  Ia tidak hanya memberikan perintah-perintah, ajaran-ajaran, petunjuk-petunjuk hidup bagi manusia.  Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang datang sebagai manusia untuk menunjukan bukti nyata bahwa Ia mengasihi kita bukan hanya melalui perkataan saja.  Ia membuktikan kasihNya melalui sebuah perbuatan nyata melalui kematianNya di atas kayu salib untuk pengampunan dosa-dosa kita.

Jutaan pengajaran tentang kebaikan, kasih kemurahan, tidak dapat dibandingkan dengan sebuah tindakan kasih yang diwujudkan dalam perbuatan.  Itulah yang sudah dilakukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus bagi dunia ini. Ia konsisten dalam pengajaran yang diwujudkan dalam sebuah tindakan nyata.