Home » Orang Tua: Menjadi Sahabat Bagi Anak-Anak 

Orang Tua: Menjadi Sahabat Bagi Anak-Anak 

Renungan Keluarga oleh:Otty Priambodo, S.Th.

Tahukan Anda bahwa untuk menjadi seorang sahabat, tidak berarti bahwa kita harus menjadi orang yang sebaya? Bersekolah atau bekerja di tempat yang sama? Dan ke mana-mana juga harus selalu bersama. Setiap orang tua bisa juga menjadi sahabat bagi anak-anak mereka, dan hal ini sangat diperlukan, karena dampaknya akan berpengaruh sekali pada perkembangan diri anak-anak. 

Anak bukan saja dilihat sebagai penyambung keturunan. Dalam  Ulangan 11:18,19  berbunyi demikian: “Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;”  Tuhan meminta orang tua  untuk mewariskan iman kepada anak, itulah sikap yang harus dimiliki oleh orang tua. Tidak sedikit orang yang melihat anak justru sebagai beban. Pemahaman ini sangat keliru, Alkitab berkata dalam Ulangan 7:12-13 demikian : “Dan akan terjadi, karena kamu mendengarkan peraturan- peraturan itu serta melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau TUHAN, Allahmu, akan memegang perjanjian dan kasih setia-Nya yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, ….”

Tuhan berkata saat hidup ini  mendengarkan Firman Tuhan, menaati perintah-Nya, Dia akan memberkati buah kandungan yang artinya  berkat untuk anak-anak. Jadi justru mempunyai anak merupakan berkat buat orang Israel saat itu, Tuhan memberikan anak sebagai tanda Dia memberkati umat-Nya, Dia memberkati setiap  orang tua. Jadi sikap yang benar adalah menghargai anak sebagai pemberian Tuhan, sebagai pewaris iman dan sebagai berkat yang Tuhan berikan.

Namun, berkaitan  dengan amanat ini, sering kali justru orang tua menjaga jarak. Dan ini seharusnya tidak perlu, wibawa orang tua bukan diperoleh dari menjauhkan diri dari anak-anak. Justru anak-anak akan merasa dan lebih bisa menghormati orang tua karena kedekatan dengan orang tua. Orang tua yang  jauh menjadi orang tua yang mungkin sekali ditakuti tapi belum tentu dihormati sebab anak menghormati orang tua yang dekat, yang akrab dengan dia.

Seorang anak memiliki  kerinduan untuk dekat dengan orang tua dan menjadikan orang tua sebagai sahabat mereka. Suatu kebanggaan tersendiri apabila anak-anak akrab dengan orang tua, bermain bersama, bersenda gurau bersama. Jadi hal-hal seperti itu membuahkan rasa dekat dan menghormatinya. Kalau  sebagai orang tua terlalu berjaga-jaga, anak malah akan bersikap tidak hormat.

Lantas bagaimanakah  bisa menjadi sahabat buat anak-anak? Tentu saudara bahwa untuk menjadi sahabat bagi mereka, perlu juga memasuki dunia mereka.  Ada anak, yang masuk dalam tahap perkembangan baru bisa memahami yang konkret, maka kita tidak mungkin bisa menjelaskan sesuatu yang abstrak, pasti anak-anak belum mengerti. Dengan mengetahui dan memahami pola pikir anak-anak maka dapat menggunakan bahasa yang memang dimengerti oleh anak. Untuk menjadi sahabat bagi anak perlu sekali seseorang memasuki dunia anak. 

Kalau begitu peran apakah yang dapat diberikan sebagai orang tua?  Di sinilah kita perlu untuk menerima kelemahan anaki, artinya jangan melecehkannya karena kelemahannya. Orang tua perlu untuk memberikan dorongan, tetapi jangan mencecar dan menghina kelemahannya, karena di sini anak akan merasa ditolak oleh orang tua yang justru seolah-olah melecehkan kelemahannya. Orang tua harus bisa melihat dari sisi anak melihat. Sebagai orang tua memang perlu tahu bahwa memang cara dia melihat hanya seperti itu, juga perlu melihat apakah kelemahan ini memang sungguh-sungguh kelemahan si anak, dalam arti memang dia belum bisa, atau kelemahan orang tua, dalam arti orang tua yang berambisi agar anaknya melakukan ini tetapi mengapa belum bisa. Inilah kenyataannya, bahwa orang tua lebih suka agar anaknya melakukan seperti yang diinginkanya. 

Dan di sinilah sebagai orang tua  dapat bersama untuk menikmati akan kesukaan anak-anak. Orang tua bersama anak-anak menikmati kesukaannya. Pada anak yang masih kecil, orang tua juga bisa turut menikmati kesukaan anak. Kita sering mendengar banyak orang tua mengeluh tidak bisa bermain dengan anak mereka karena itu hanya membuang-buang waktu saja. Namun, sebenarnya justru dengan berusaha bermain dengan anak-anaknya itu, kita bisa menjadi sahabat. Bukan hanya itu saja, selain menjadi sahabat sebenarnya hal ini akan membantu proses belajar anak-anak itu. Kadang- kadang orang tua enggan untuk berfantasi, main masak-masakan, main boneka baris, sementara bagi anak-anak itulah dunianya. Apabila orang tua bisa meluangkan sedikit waktu untuk bisa main bersama mereka, ikut terjun di dalam fantasinya, bagi anak,  orang tua seperti ini menjadi sangat berarti. Nah dengan cara seperti ini telah berusaha mendekati mereka, sehingga tahu kapan dia sangat membutuhkan dan ketika orang tua hadir ada di sana, persahabatan itu akan terjalin. 

Semua orang pasti tahu bahwa persahabatan itu dibentuk melalui proses, dan harus dimulai dari umur sedini mungkin. Orang tua akan mulai memetik hasilnya pada saat anak-anak remaja. Jadi tidaklah heran, apabila ada orang tua yang baru ingin menjadi sahabat anaknya setelah anak itu berusia 16 tahun sering kali tidak berhasil,  karena memang sudah lewat waktunya.

Untuk menjadi sahabat bagi anak, setiap orang tua harus memainkan dua peran. Di satu pihak memang sahabat, seolah-olah selevel, di pihak yang lain jangan sampai melupakan status sebagai orang tua. Maksudnya, jadilah orang tua dalam pengertian perlu memberikan cinta kasih kepada anak. Kita tidak boleh melupakan bahwa tugas kita adalah mengasihi, memperhatikan, dan mengkomunikasikan cinta kita, dan mendisiplin mereka. Anak yang tidak menerima disiplin dari orang tua justru makin kurang respek pada orang tua. Orang tua yang dihormati anak adalah orang tua yang mengasihi anak dan juga mendisiplin anak.

Kalau orang tua hanya bisa memberikan instruksi tapi tidak bisa menyatakan kebenaran itu dalam kehidupannya, dia justru kehilangan wibawa. Anak akhirnya tidak bisa lagi menghormati orang tua. Sewaktu anak tidak lagi menghormati orang tua, dia tidak bisa menjadikan orang tua sebagai sahabatnya. Anak-anak perlu menghormati orang tua terlebih dahulu baru bisa menjadikan orang tua itu sahabatnya.