Oleh: Otty Priambodo, S.Th.
Salah satu dari peran seorang ayah dalam keluarga adalah mendisiplinkan anak yang sesuai dengan Firman Allah. Firman Allah dalam Kitab Efesus 6:4 mengatakan demikian: “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Tugas mendidik anak tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab seorang ayah.
Banyak orang mengungkapkan pendapatnya bahwa tugas mendidik anak adalah tanggung jawab seorang ibu dari anak-anak tersebut. Mereka beralasan karena memang budaya menentukan demikian. Apakah hal ini memang merupakan pola pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan? Lalu bagaimana dengan pesan Alkitab mengenai hal ini? Menurut Efesus 6:4 jelas, bahwa jika dilihat dari pandangan Kristen, pemahaman yang mengatakan bahwa tugas mendidik anak adalah tanggung jawab seorang ibu, ini sangat keliru. Tuhan menginginkan seorang ayah untuk terlibat dalam mendidik anaknya. Sekalipun budaya yang ada memberikan tanggung jawab pendidikan anak kepada para ibu, namun apa yang disetujui oleh budaya belumlah tentu sesuai dan dikehendaki oleh Tuhan.
Kata didik dalam Efesus ini sebenarnya berbicara mengenai ‘mendisiplinkan’. Mendisiplinkan anak dan membesarkan anak adalah tanggung jawab dari seorang ayah. Sekali pun memang dalam membesarkan anak secara emosional, lebih cenderung berada di pundak seorang Ibu. Di sinilah perlunya tindakan kerja sama dilakukan. Tindakan antara kedisiplinan dan membesarkan anak harus seimbang dilakukan bersama. Mungkin saja sang ayah lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaannya di luar, dan memang pada umumnya kepala keluarga lebih senang beraktivitas di luar. Tetapi, jauh dari semua itu Tuhan menggagas peranan ini dengan lengkap dan sempurna.
Dapat dibayangkan, bila dalam sebuah keluarga ada tuntutan seorang ayah untuk bertanggung jawab dalam hal membesarkan anak misalnya, dalam pengertian memberikan makanan, merawat, mengasuh, memenuhi kebutuhan fisiknya dan lain sebagainya; pasti sang ayah akan mengalami kesulitan untuk mengatur semua itu, karena dia memang telah bekerja dari pagi sampai sore. Namun demikian perintah Tuhan bahwa Ia meminta seorang ayah untuk berperan dalam rumah tangga sebagai seorang pendidik dan pendisiplin.
Apakah yang dibutuhkan seorang pendidik dengan yang dididik? Seorang pendidik pasti harus memiliki kedekatan dengan yang dididik. Sebab kedekatan merupakan salah satu modal penting bagi keberhasilan dalam pendidikan. Demikian juga dalam mendisiplinkan anak. Mendisiplinkan anak juga dipengaruhi oleh kedekatan seorang ayah dan anaknya. Seseorang ayah seharian bekerja, pulang dari kantor ke rumah bisa saja baru sampai malamnya, sudah mengalami kelelahan dan mungkin saja akan sangat sulit untuk berkomunikasi agar dapat dekat dengan anak-anaknya. Dampak yang bisa terjadi adalah bahwa pada saat anak itu didisiplinkan pasti seorang ayah akan mengalami masalah. Anak akan sulit untuk menerima disiplin apabila tidak memiliki kedekatan dengan sang ayah. Apabila ayah jauh dari anak oleh karena faktor pekerjaan, dapat membuat keadaan menjadi rawan bagi sang ayah pada saat mendisiplinkan anak. Namun Firman Allah berkata: “Janganlah bangkitkan amarah anakmu”, itu artinya bahwa mendisiplinkan anak akan memiliki resiko kebalikan dari yang diharapkan.
Pada bagian lain jika seorang ayah kurang berperan dalam pendidikan anak; sebagai contoh untuk anak laki-laki, pada umumnya memerlukan sosok atau model contoh bagaimana bersikap, berpikir, bertindak dan lain sebagainya yang dilakukan oleh sang ayah. Pada saat seorang ayah kurang berperan, sekalipun secara fisik ia hadir di rumah, akan tetapi jika ia tidak banyak berbicara dengan anak-anak, tidak banyak berinteraksi dengan anak-anak, melainkan hanya diam saja di rumah, maka seorang anak laki-laki akan kehilangan contoh peran yang seharusnya didapatkan.
Pada saat ayah tidak berperan, anak akan dirugikan, karena dia tidak cukup menerima bahan yang diserapnya untuk menjadikan dirinya seorang pribadi yang tangguh, berwibawa dan bertanggung jawab. Seorang anak laki-laki akan kehilangan model, bagaimanakah ayah yang sebenarnya. Tidak jarang dalam kehidupan Kristen terdapat anak-anak yang mengalami kenyataan hidup seperti ini. Banyak orang Kristen telah kehilangan citra yang baik dari seorang ayah dalam mengasihi anaknya, sebabnya adalah karena peran seorang ayah yang tangguh, berwibawa dan bertanggung jawab tidak didapatkan oleh seorang anak, yang seharusnya dinyatakan dalam keluarga. Anak tidak menemukan profil seorang ayah sebagai Bapa yang baik, karena bukan mengikuti aturan dan nilai-nilai Alkitab. Peran pendidikan di sini adalah sesuatu yang mendasar. Jika sang ayah diminta untuk terlibat dalam pendidikan , itu bukanlah sesuatu yang baru, tetapi hal itu berarti bahwa ia mau kembali kepada apa yang Alkitab katakan.
Apakah yang harus diingat dalam mendidik anak? Seorang seorang ayah yang dipercayakan Allah untuk mendidik anak-anak, perlu ingat bahwa tanggung jawab bukan semata-mata sebagai pencari uang untuk membiayai anak-anak lalu membiarkan mereka dan menyerahkan kepada istri sebagai ibu dari anak-anak untuk mengasuh, membesarkan dan mendisiplinkan anak. Ayah bertanggung jawab dan sangat berperan dalam mendisiplinkan anak-anak dengan tetap memandang kepada perintah Tuhan ‘didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan”.
































