Home » Surgaku Keluargaku 

Surgaku Keluargaku 

Oleh: Otty Priambodo, S.Th.

Situasi yang damai, tentram,  bersahabat dan nyaman dalam sebuah keluarga merupakan hal yang diidam-idamkan oleh setiap anggota keluarga. Setiap anggota keluarga, khususnya anak-anak  akan merasa nyaman, tentram dan penuh dengan kasih sayang. Orang tua juga pasti akan merasa bersyukur dan berbahagia apabila melihat  anak-anak yang berada dalam kehidupan yang menyenangkan.  Oleh sebab itu, penting dilakukan bagi setiap anggota keluarga  untuk senantiasa  menciptakan suasana sorga di dalam rumah. Tuhan Yesus mengajarkan dalam Doa Bapa Kami “Datanglah Kerajaan-Mu, di bumi seperti di Sorga” (Matius 6:10) . 

Ucapan Tuhan Yesus “Datanglah Kerajaan-Mu” adalah suatu permohonan supaya Allah memerintah. Memang Allah sudah memerintah, tetapi apakah benar bahwa kita mengakuiNya atau tidak menempatkan Allah sebagai Raja, Otoritas tertinggi? Ketika kita berdoa dan mengakui-Nya sebagai Raja, dengan demikian ada Tuhan di dalam rumah kita. Kemudian Tuhan Yesus  melanjutkan dengan “Jadilah kehendak-Mu”. Hal ini menunjuk pada rencana kekal-Nya yang pasti akan terlaksana. Jika kita mengundang Allah dan kerajaanNya hadir, maka bumi bagaikan di Sorga. Keluarga Kristen  hendaknya senantiasa mengundang kuasa Tuhan dalam kehidupan berkeluarga. 

Sorga itu indah. Indah itu tidak selalu bersifat mewah. Jika ada kedamaian di dalam rumah maka rumah akan terasa indah. Senyum dan tawa akan mewarnai keindahan itu. Dapat dibayangkan apabila hidup di dalam suasana “kaku”,  di mana Bapak dan Ibunya jarang tersenyum. Ini  juga akan mempengaruhi karakter anak-anaknya. Di  sorga ada Cinta dan Kasih di mana masing-masing mengasihi satu dengan yang lainnya. Bapak, ibu, anak-anak semuanya bertutur kata manis tidak ada teriakan cekcok. Keluarga yang damai dan sejahtera itu hanya bisa terwujud jika Allah diundang hadir. Kasih adalah dasar  utama dalam penciptaan suasana Sorga : 

sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.  Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,  dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, (Efesus 3:17-20). 

Suasana Sorga bermula dari hati. Apabila hati  mau untuk menciptakan kedamaian dan menghindari konflik, maka hal ini tidaklah sulit untuk diwujudkan. 

Rumah yang indah di dalamnya ada keramahan. Keramahan selalu menghasilkan hal yang positif dalam hubungan antar manusia. Keramahan adalah salah satu bentuk dari seseorang yang menghargai orang lain. Tuhan Yesus adalah pribadi yang ramah, Dia menyapa dengan ramah orang-orang yang dianggap rendah oleh masyarakat sekitarnya; Dia menyapa Zakheus, Dia menyapa perempuan sundal, Dia menyapa orang-orang yang sakit kusta, dst. Keluarga Kristen dapat melihat hasil positif dari keramahan Yesus itu. Bahwa dengan keramahan-Nya banyak orang diselamatkan. Keramahan tidak jarang melahirkan sukacita, rumah yang dipenuhi dengan sukacita adalah rumah yang sehat. Kepada jemaat Kolose, Rasul Paulus menyampaikan, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawaban kepada setiap orang.” (Kolose 4:6)

Rumah adalah “pusat rohani” tempat kita mendidik anak-anak kita menjadi umat Tuhan yang dikenan Allah. Rumah adalah pusat pelatihan diri menjadi sebuah pribadi yang mencerminkan Kristus, menjadi bagian dari masyarakat. Kehidupan kita adalah kesaksian hidup bagi Kristus. Jadikanlah rumah  sebuah tempat yang “paling aman”, aman bagi jiwa dan aman bagi raga. Pada saat mulai  mendapati anggota keluarga  “malas-pulang” hendaknya itu menjadi “alarm bahaya” , sudahkah tercipta rumah sebagai tempat yang “aman”?  Jangan sampai ada anggota keluarga  yang merasa bahwa rumahnya itu tempat yang menakutkan, takut pulang karena omelan, siksaan dan sebagainya. Rumah yang utuh adalah rumah yang aman bagi penghuninya, dan jadikan suasana rumah itu sebagai pembangkit semangat.

Rumah juga merupakan tempat di sana terbuka jalan keselamatan. Jika ada satu orang saja dalam keluarga dimenangkan dalam Kristus, dia akan menjadi terang bagi keluarganya. Dan terang itu akan menjadi kesaksian hidup yang akan memberi teladan bagi anggota keluarga lainnya untuk pula datang kepada Yesus dan diselamatkan. Kisah Para Rasul 16:31mengatakan “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”