Saudara, jika kita bicara tentang berdoa, tentulah setiap kita tidak perlu lagi diajarin bagaimana berdoa. Sebab sejak kecil kita sudah diberikan contoh bagaimana cara kita berdoa. Nah doa-doa kita kepada Tuhan lebih banyak bersifat rutinitas. Misalnya mau makan kita berdoa, mau tidur kita berdoa, atau ada yang mau bekerja berdoa terlebih dahulu. Dan semua itu sudah menjadi kebiasaan kita sebagai orang Kristen.
Nah tahukah saudara ada hal-hal lain yang diajarkan terkait dengan berdoa. Dan Yesus Kristus mengajarkan hal itu kepada kita saat ini.
Mari kita bersama-sama membuka Alkitab dari Lukas pasal 18 ayat 1-14, yang berbunyi demikian:
“18:1 Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
18:2 Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.
18:3 Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
18:4 Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun,
18:5 namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.”
18:6 Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!
18:7 Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
18:8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
18:9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
18:10 “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
Saudara, apa yang sudah kita dengarkan bersama merupakan pengajaran Yesus yang ada kaitannya dengan berdoa. Biasanya kita berpikir bahwa yang penting saya sudah berdoa, jawabannya terserah Tuhan. Dan itulah yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Kita hanya mengucapkan doa-doa tanpa sungguh-sungguh meminta kepadaNya.
Karena itulah Ia memberikan sebuah perumpamaan tentang janda dan hakim. Si janda ini datang kepada hakim untuk meminta membela haknya. Namun dijelaskan bahwa beberapa waktu lamanya hakim itu menolaknya. Namun karena janda ini terus menerus datang kepada hakim yang lalim itu, akhirnya Janda ini mendapatkan haknya.
Nah, Yesus mempergunakan perumpamaan ini untuk menjelaskan bahwa doa itu tidak hanya menjadi penghias bibir saja. Doa itu harus diperjuangkan dengan tidak jemu-jemu. Dan hal yang menarik dalam perumpamaan ini bahwa hakim ini adalah hakim yang lalim. Dan Yesus mengkontraskannya dengan Allah yang penuh dengan belas kasihan, yang dikatakan akan membenarkan orang-orang pilihannya yang siang dan malam berseru kepadaNya. Bahkan Yesus menegaskan bahwa Allah tidak mengulur-ngulur waktu, namun dikatakan bahwa Allah akan segera membenarkan mereka.
Jadi Yesus menekankan di dalam berdoa itu dibutuhkan niat yang serius untuk meminta kepadaNya yang dibuktikan dengan ketekunan dalam meminta kepadanya tanpa jemu-jemu.
Hal lain yang ingin Dia tekankan dalam berdoa adalah sikap yang rendah hati. Karena itu Ia memberikan perumpamaan orang Farisi dan Pemungut cukai yang datang ke Bait Allah untuk berdoa. Si orang Farisi yang adalah orang beragama berdoa dengan kesombongannya . Ia memegahkan semua kebaikan yang sudah Ia lakukan dengan harapan Allah akan memperhatikannya. Orang Farisinya ini ingin menyogok Allah dengan perbuatan baiknya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Berbeda dengan Pemungut cukai. Ia tidak berani menengadah ke langit, sebaliknya ia memukul diri dan berkata,” Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Saudara, Yesus mengatakan bahwa,” Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”
Jadi di dalam berdoa, Yesus mengajarkan agar kita berdoa dengan tidak jemu-jemu seperti seorang janda yang datang kepada hakim yang memohon untuk membela haknya, dan juga yang disertai dengan kerendahann hati seperti seorang pemungut cukai yang menyadari dirinya sebagai orang berdosa.
Itulah sikap doa yang Yesus ajarkan agar dicontoh dan dilakukan oleh para pengikutNya.































