Oleh: Pdt. Yohanes, S.Th., M.M
Sebuah ungkapan dari seseorang yang dekat dengan Yesus yaitu Marta patut kita renungkan. Ungkapannya adalah,”Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati,”
Ungkapan Marta ini mewakili kebanyakan umat manusia yang mempercayai bahwa Yesus adalah seorang nabi yang berkuasa untuk membuat mujizat. Benarkah Yesus hanyalah seorang nabi yang berkuasa untuk membuat mujizat saja? Atau adakah hal lainnya yang patut kita ketahui tentang Pribadi Yesus?
Ungkapan seseorang yang dekat dengan Yesus yaitu Marta yang dicatat dalam kitab suci, secara khusus dalam kitab Injil Yohanes 11:21,” Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati,” tidaklah dapat dilepaskan begitu saja dengan kisah lengkap dari sebuah kodrat manusia yaitu Kematian. Yohanes 11:1-44, menceritakan sebuah kisah tentang Kodrat manusia yaitu Lazarus yang sakit kemudian meninggal dunia. Dan Kitab Suci juga menjelaskan tentang kodrat tersebut yaitu di dalam Ibrani 9: 27,” Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,
Siapa pun anda saat ini, entahkah orang kaya, orang miskin, orang berpendidikan, buta huruf, rakyat jelata atau bahkan seorang pejabat , semua manusia harus melalui kodrat yang sudah ditetapkan bagi manusia yaitu kematian.
Nah rupanya kodrat ini ingin ditentang oleh Marta ketika ia berkata, “sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”
Apa yang diungkapkan oleh Marta ternyata merupakan keinginan semua orang yaitu agar tidak ada kematian. Mengapa? sebab kematian selalu menyebabkan dukacita dan kesedihan. Dan tak seorang pun mau mengalaminya.
Yesus pun sebagai manusia juga bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Marta. Itulah sebabnya di dalam ayat 35, dituliskan,”Maka Menangislah Yesus” Tangisan Yesus ini merupakan ungkapan simpati terhadap kedukaan yang dialami oleh keluarga Marta. Namun disisi lainnya, di dalam pasal 11, ayat 4, Yesus berkata,” “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.”
Di tengah-tengah suasana duka yang dialami oleh Keluarga Marta dan tentunya juga dirasakan oleh masyarakat yang ada di Betania, Yesus hadir membawa harapan baru bagi mereka semua. Selama ini, keluarga Marta, bahkan masyarakat Yahudi memahami Yesus sebatas hanya sebagai seorang Guru, Nabi yang berkuasa. Mereka telah melihat dan bahkan mengalami banyak mujizat dari Yesus. Tentunya mujizat-mujizat tersebut memberikan gambaran bagi mereka, siapakah Yesus yang mereka kenal. Dan pengenalan mereka masih hanya sebatas bahwa Yesus adalah seorang Pengajar yang penuh dengan Hikmat, seorang Utusan Tuhan/Nabi yang diberi kuasa untuk membuat banyak mujizat. Itulah yang mereka pahami, dan itulah yang dunia masa kini juga pahami. Dan Yesus tahu bahwa pengenalan mereka akan diriNya masih sangat terbatas, karenanya Ia mempergunakan momentum ini untuk membuka jati diriNya. Di dalam Yohanes 11:25-26, dengan sangat jelas dan tegas Yesus berkata,” “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.”
Inilah Jati diri Yesus yang Ia ungkapkan dengan jelas dan tegas. Ketika orang hanya mengenal Dia sebagai seorang Guru yang penuh Hikmat Surgawi, seorang Utusan Tuhan yang sanggup membuat mujizat-mujizat, maka Yesus melengkapi pengenalan mereka tersebut dengan mengungkapkan jati diriNya. Ia adalah Kebangkitan dan Hidup; barangsiapa yang percaya kepada Yesus, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.
Yesus ingin memberikan penegasan bahwa semua manusia akan mati. Karena itu sudah menjadi Kedaulatan Tuhan, kecuali untuk beberapa kasus seperti kasus Elia yang tidak mengalami kematian. Namun Yesus tidak sedang mengarahkan pemahaman masyarakat saat itu hanya kepada “Kebangkitan sementara” yang akan Ia lakukan terhadap Lazarus. Lebih dari pada itu. Yesus ingin agar manusia memahami bahwa ada kehidupan yang abadi dan yang sempurna yaitu kehidupan Kekal dalam Sorga bersama dengan Sang pencipta. Dan Yesus sedang membuka diri bahwa Dialah jalan menuju kepada Hidup yang kekal tersebut. Itulah sebabnya, Yesus menantang orang-orang saat itu, dengan berkata,”Barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKU, tidak akan mati selama-lamanya” Dan dibagian akhir Yesus berkata,”Percayakah engkau akan hal itu?
Seberapa luaskah pengenalan saudara akan Yesus? Siapakah Yesus yang saudara kenal selama ini? Apakah saudara hanya mengenal Dia sebatas sebagai seorang Guru, Nabi, Tuhan-nya orang Kristen? Perhatikanlah firman Tuhan yang dituliskan dalam kitab Wahyu pasal 1 ayat 17-18,” “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.
Sekarang bukalah hati saudara untuk percaya dan menerima-Nya sebagai Tuhan dalam kehidupan saudara, karena Dialah Kebangkitan dan hidup, yang awal dan yang akhir, yang memegang segala kunci maut dan Kerajaan Maut.
































