Renungan Keluarga oleh Otty Priambodo, S.Th.
Pada saat Tuhan Yesus berdoa, ungkapan yang disampaikan kepada Allah dengan sebutan Allah Bapa. Sang pemazmur menyatakan dalam Mazmur 18:30, “Adapun Allah, jalan-Nya sempurna”. Dengan demikian maka Allah yang dikenal dalam Tuhan Yesus adalah pribadi sebagai bapak yang sempurna. Melalui sebuah penyelidikan Firman-Nya dan belajar bagaimana berfungsi sebagai orang tua, setiap murid Tuhan dapat belajar menjadi orang tua seperti apa. Ada beberapa bagian Alkitab yang membandingkan Allah sebagai orang tua dan kita sebagai orang tua. Sebagai contoh, pemazmur menulis, “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mazmur 103:13). Salomo membuat penyelidikan ini yang kemudian juga dikutip penulis Ibrani: “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (Amsal. 3:12, Ibrani 12:6). Yesus menambahkan hal ini: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Matius 7:11)
Gambaran yang jelas mengenai model orang tua nampak dalam bagian Firman Tuhan ini. Tuhan sebagai orang tua yang mempedulikan anak-anakNya. Dan kita sebagai orang tua juga seharusnya demikian. Namun jika diperhatikan di sini, bahwa di dalam seluruh ayat ini arahnya adalah dari manusia kepada Allah. Setiap ayat menggunakan orang tua dan cara mereka memperlakukan anak mereka untuk mengajarkan siapa itu Allah. Pandangan seseorang tentang Allah sering merupakan gambaran orang tuanya sendiri, terutama bapaknya. Jika orang tuanya bahagia, mengasihi, menerima, dan mengampuni, dia lebih mudah mengalami hubungan yang positif dan memuaskan dengan Tuhan. Tapi jika orang tuanya dingin dan tidak peduli, dia mungkin merasa Tuhan terasa jauh dan tidak tertarik terhadap-Nya secara pribadi. Jika orang tuanya marah, kasar, dan menolak dia, dia sering merasa bahwa Tuhan tidak akan pernah menerima dia. Jika orang tuanya sulit dipuaskan, dia umumnya memiliki pengertian bahwa Tuhan tidak begitu senang dengannya.
Setiap orang tua perlu untuk merenungkan hal ini. Konsep Tuhan seperti apa yang dibentuk anak kita melalui hubungannya dengan kita? Apakah dia belajar bahwa Tuhan itu pengasih, baik, sabar, dan pengampun ? Atau kita secara tidak sengaja membangun pengertian Tuhan yang salah dalam hidupnya, menunjukkan melalui tindakan kita bahwa Tuhan itu kasar, cepat marah, dan tidak puas, bahwa dia akan berteriak, memarahi atau menendang kita saat kita salah? Seluruh kehidupan kerohanian anak dipertaruhkan di sini. Sesuatu yang sangat penting bagi orang tua, untuk mempelajari orang tua seperti apa Tuhan itu, kemudian mengikuti teladannya agar anak kita bisa melihat pelajaran hidup tentang Tuhan yang kita miliki.
Ada bagian dalam Alkitab, yang berbicara mengenai mendidik anak kepada kebenaran Allah. “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4,).
Inilah saatnya bagi orang tua untuk melatih diri dalam pengiringan kepada Tuhan. Melatih diri menjadi model bagi anak-anak yang memandang Tuhan sebagai pribadi yang menyenangkan, yang bergaul dekat dengan anak-anakNya. Hal itu berarti kita memperlakukan anak kita seperti Tuhan memperlakukan kita. Dan bagaimanakah agar model itu tertanam dalam diri anak? Tidak ada yang lain yang harus saudara lakukan kecuali bahwa sebagai orang tua maka kita harus berjalan sesuai dengan Firman Tuhan. Sebagai orang tua, harus datang kepada Tuhan untuk belajar menjadi bapak yang baik atau orang tua yang baik bagi anak-anakNya. Datang kepada Tuhan, mempelajari dan menyelidiki Alkitab untuk menemukan bagaimana Tuhan memperlakukan anaknya, kemudian melakukan hal yang sama kepada anak kita.
Dalam Efesus 6:4 ini disebutkan mengenai metode Tuhan dalam membesarkan anak, yaitu disiplin dan perintah. Disiplin meliputi penentuan tujuan bagi anak kita, mengajarkan mereka tujuan itu, kemudian dengan sabar dan tekun membimbing mereka ke arah tujuan itu. Dalam kitab Ibrani lebih tegas dengan kata “menghajar”. Tapi disiplin, berlawanan dengan pendapat umum, yang berarti memberikan hukuman dengan menghajar. Disiplin disini lebih memiliki sifat menentukan arah bagi anak kita, membimbing mereka disepanjang arah itu, dan dengan tegas namun penuh kasih mengembalikan mereka kepada jalur yang benar pada saat mereka berada dalam arah yang sesat. Menempatkan kembali ke arah yang benar saat tersesat.
Berbicara tentang menentukan arah. Apabila anda sebagai orang tua apakah sudah pernah berdoa untuk menentukan tujuan bagi anak? Orang tua tidak bisa mengharapkan anaknya menjadi baik jika dirinya tidak yakin “baik” itu apa. Mungkin Anda pernah mendengar seseorang mengatakan “Jika anda tidak menargetkan apa-apa, itulah target Anda.” Karena kita belum memiliki target, maka perlu untuk melakukan sekarang.
Berikut adalah beberapa hal dasar dari tujuan Alkitab yang perlu menjadi sasaran utama dalam kehidupan orang tua terhadap anak.
Pertama, memimpin anak untuk mengetahui keselamatan dalam Yesus Kristus. Setiap orang tua yang baik akan mengarahkan anaknya untuk mengenal secara pribadi akan Tuhan dan Allahnya di dalam hidupnya. Memang hal ini terjadi sesuai waktu Tuhan, namun orang tua tidak bisa benar-benar mengharapkan anaknya menjadi seperti keinginan Tuhan sampai akhirnya anak-anak memiliki pengalaman baru yang diberikan dari Tuhan.
Kedua, memimpin anak kepada komitmen hidup untuk Kristus. Orang tua ingin agar anak-anak membuat keputusan yang sesuai dengan kehendaknya, berbagi setiap detil kehidupan dengan dia dalam doa, dan belajar untuk bersandar pada Tuhan dalam setiap pengalaman hidup yang mereka hadapi. Sejak awal anak telah diajar untuk mulai melakukan hal ini.
Ketiga, menerapkan Firman Tuhan dalam hidup mereka. Mengajar diperlukan kesetiaan, ketekunan dan kesabaran. Mengajar dalam kesetiaan yang dibarengi penerapan dalam hidup. Orang tua mengajarkan Firman Tuhan dengan setia, menghubungkannya dengan hidup, dan membuat suatu teladan untuk meneguhkannya.
Keempat, mengajarkan anak pada ketaatan, dan menghormati otoritas. Dengan mengembangkan mereka untuk tunduk pada otoritas orang tua, sementara itu orang tua sedang memasukan pelan-pelan rasa hormat pada peraturan, baik di sekolah, di lingkungan masyarakat, dan yang terutama otoritas Tuhan sendiri. Tunduk pada otoritas merupakan dasar hidup bahagia dan damai dalam lingkungan di mana kita ada.
Kelima, mengajarkan disiplin diri. Hidup yang paling berbahagia adalah hidup yang terkontrol, khususnya dalam hal makan, tidur, menjaga tubuh, penggunaan waktu dan uang, dan keinginan hal materi.
Keenam, mengajar mereka untuk menerima tanggung jawab – tanggung jawab untuk dijalankan dengan sukacita dan dengan efisien menyelesaikannya, tanggung jawab dalam menjaga milik mereka, dan tanggung jawab terhadap akibat tindakan mereka.
Ketujuh, mengajarkan prilaku dasar karakter Kristen, seperti kejujuran, ketekunan, kebenaran, tidak egois, kebaikan, berbudi, pertimbangan, ramah, keadilan, murah hati, kesabaran, dan rasa terima kasih.
Dengan demikian akan tahu ke mana tujuan orang tua sebenarnya terhadap anak-anaknya. Mengarahkan anak-anak ke dalam pimpinan Tuhan. Salomo dalam kitab Amsal menyebutkan: “Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu. Tambatkanlah senantiasa semuanya itu pada hatimu, kalungkanlah pada lehermu. Jikalau engkau berjalan, engkau akan dipimpinnya, jikalau engkau berbaring, engkau akan dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya. Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan” (Amsal 6:20-23)
































