Home » Selalu Rindu Ayah

Selalu Rindu Ayah

Kehilangan seseorang yang sangat berharga secara tiba-tiba pasti membawa pengaruh dalam kehidupan kita. Kita tidak siap kehilangan mereka. Kita pasti merasa hancur, sedih, kecewa bahkan bisa sampai depresi berkepanjangan. Untuk bangkit, kita membutuhkan pertolongan dari Tuhan Yesus. “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun   aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” Mazmur 23: 1-6 mengingatkan agar kita senantiasa percaya dan bersandar pada pertolongan Tuhan ”

 

Sahabat, pernahkah Sahabat ketika kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam kehidupan Sahabat? Kalau ini terjadi pada diri saya, saya pasti akan merasa saaaangat sedih.

Dan kali ini, saya Paulina hadir kembali menemani Sahabat, dalam program KISAH yang tentunya masih berisi kisah-kisah inspiratif yang menarik untuk disimak.

Nah, bicara tentang kehilangan, Ibu Lina, salah seorang tokoh inspiratif kita juga pernah mengalaminya. Ayahnya meninggal secara tiba-tiba. Dan ketika ditinggal ayahnya, usia Bu Lina masih sangat muda. Kali ini kita akan diberkati dengan kisah Bu Lina, bagaimana ia menghadapi rasa kehilangan, rasa sedih, rasa kecewa dan bahkan penyesalan yang sangat mendalam. Apa yang terjadi dengan keluarganya waktu itu, bagaimana keluarganya jatuh bangun berusaha melanjutkan hidup sepeninggal sang kepala keluarga. Bagaimana pertolongan Tuhan dalam pergumulan keluarga Ibu Lina waktu itu?

 

Beberapa hari belakangan ini hampir tiap hari hujan turun. Dan kalau hujan-hujan begini jadi susah kalau mau beraktifitas di luar rumah. Anak-anak juga jadi nggak bisa bebas bermain, padahal mereka senang sekali dengan kegiatan di luar rumah. Yaaaa, anak kecil mana sih yang tidak suka bermain di luar, begitu juga dengan anak-anak saya. Empat anak saya umurnya masih kecil-kecil, yang sulung umur 6 tahun dan yang bungsu baru berumur 20 bulan.

Hari ini hujan turun hampir sepanjang hari, kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore tapi belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Saya dan suami menemani anak-anak bermain di dalam kamar mereka. Dingin-dingin begini paling enak memang berkumpul dengan keluarga sambil menikmati teh hangat dan pisang bakar. Kebiasaan ini saya dapat ketika mendiang ayah masih hidup. Setiap kali hujan turun, ayah selalu membuatkan pisang bakar dan kami sekeluarga berkumpul untuk menikmati pisang bakar buatan ayah sambil ditemani teh hangat. Kebetulan rumah kami di Pare halamannya luas, banyak pohon pisang yang tumbuh di sana. Kebiasaan ini masih terus saya lakukan sampai sekarang, di keluarga saya sendiri. Pisang bakar jadi makanan favorit suami dan anak-anak juga.

Saya pun beranjak dari tempat duduk dan langsung menuju dapur untuk membuat pisang bakar dan teh hangat. Kebetulan kemarin saya juga baru membeli pisang lumayan banyak di pasar dekat rumah. Saya segera menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat pisang bakar. Ketika sedang mengupas pisang pikiran saya melayang, kembali ke saat ayah masih hidup.

 

Waktu itu usia saya masih 14 tahun, dan saya duduk di bangku kelas 2 SMPN 2 Pare. Saya lahir dan besar di Kota Kediri tepatnya di Desa Gedang Sewu kecamatan Pare sampai akhirnya pindah ke Batu karena bekerja hingga saat ini. Di sana saya tinggal bersama ayah, ibu dan adik-adik. Masa kecil saya sangat menyenangkan, ya memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan anak-anak saya sekarang. Jaman dulu anak-anak bebas bermain, termasuk saya juga. Saya dan adik-adik sangat senang bermain di luar rumah bersama teman-teman yang tinggal di desa itu, hampir tiap hari kami bermain bersama. Mau kemana-mana juga tidak takut, aman pokoknya.

Saya ini anak pertama dan saya punya dua adik laki-laki. Adik laki-laki yang pertama, Lendra umurnya hanya selisih dua tahun dengan saya. Sedangkan adik bungsu saya, Ganda selisih umurnya hampir sebelas tahun dengan saya. Menjadi anak sulung kadang memang tidak mudah, apalagi dua adik saya laki-laki semua. Saya sudah terbiasa ‘ngemong’ mereka.

Ayah saya sehari – hari bekerja sebagai pengawas di peternakan ayam milik seorang pengusaha sukses di kota kami. Beliau bekerja setiap hari Senin sampai Sabtu dari pukul 7 pagi sampai pukul 7 sore. Bapak menerima gaji mingguan, setiap hari Sabtu. Jadi setelah menerima gaji, sepulang kerja beliau selalu mengajak kami anak-anaknya untuk pergi beli kue dan minuman di warung dekat rumah. Sedangkan Ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang juga punya kerjaan sampingan dengan membuka toko kelontong kecil-kecilan persis di depan rumah kami. Barang-barang yang dijual seputar kebutuhan rumah tangga mulai dari sembako, perlengkapan mandi dan bensin eceran. Hal ini dilakukan Ibu untuk membantu ayah, supaya bisa menambah pendapatan keluarga. Meskipun kehidupan kami sederhana, saya sangat menikmati masa-masa itu. Masa-masa bahagia bersama keluarga, terutama bersama ayah. Yang sekarang ini sering saya rindukan.

Ayah adalah tipe orang yang senang bergurau dan sangat dekat dengan anak-anaknya. Beliau sangat sabar, bahkan saat kami salah pun ayah tidak memarahi kami dengan keras. Beliau punya pendekatan tersendiri untuk menyadarkan kami dari kesalahan. Kalau Ibu orangnya pekerja keras, karena sejak kecil ibu sudah terbiasa bekerja untuk membantu orang tuanya. Berbeda dengan ayah, Ibu ini sifatnya cenderung lebih pemarah dan kenceng apalagi dalam hal kedisiplinan. Karena itulah saya dan adik-adik sudah terbiasa disiplin sejak kecil karena didikan Ibu.

 

Meskipun tinggal di desa, dengan kehidupan yang sederhana rupanya Bu Lina sangat menikmati masa kecilnya. Masa-masa bersama dengan kedua orang tua dan adik-adiknya sangat sering dirindukannya. Terlebih dengan kehadiran sang ayah, yang terlalu cepat meninggalkan mereka.

 

Satu kejadian yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya, hari dimana kami kehilangan ayah. Pada satu malam, ayah saya tiba-tiba tak sadarkan diri, matanya terpejam dan hanya terdengar suara dengkuran yang cukup keras dengan mulut sedikit menganga. Sekujur badannya mendadak menjadi sangat kaku. Saya orang pertama yang tahu kondisi ayah waktu itu, sementara Ibu masih sibuk beres-beres di dapur dan adik-adik saya sedang bermain di kamar.

Bagitu saya melihat ayah seperti itu saya langsung berteriak “Ibu….”, tak lama Ibu saya datang dengan tergesa-gesa. Wajah ibu tampak sangat kuatir begitu melihat ayah. Ibu langsung mencoba menyadarkan ayah dengan memanggil-manggil sambil menggoyang-nggoyangkan badan ayah. Setelah beberapa menit berusaha menyadarkan ayah dan ternyata tidak ada tidak ada respon sedikitpun dari ayah, Ibu langsung menyuruh Lendra untuk pergi memanggil tante, yang rumahnya persis di sebelah rumah kami.

Sementara itu saya hanya bisa berdiri terpaku memandang ayah dan ibu. Sungguh badan ini tiba-tiba seperti tidak bisa digerakkan. Perasaan saya waktu itu campur aduk, antara kaget – panik – sedih – takut – kuatir – semua campur jadi satu. Air mata ini tak berhenti turun, saya pun menangis tersedu-sedu.

Tak berapa lama tante dan suaminya sampai di rumah. Melihat kondisi ayah seperti itu om saya bergegas mengambil mobilnya dan membawa ayah ke RS untuk mendapatkan pertolongan. Om, Tante dan Ibu berangkat ke RS dengan membawa ayah yang sudah tak sadarkan diri. Satu kalimat pendek Ibu pesankan pada saya sebelum beliau berangkat ke RS “Jaga adik-adikmu, tidak usah sedih, ayah nggak pa-pa berdoa saja”. Mendengar ucapan Ibu, tangisan saya malah makin keras. Hati ini semakin tidak tenang.

Saya berusaha mengingat-ingat kejadian sore hari sebelum ayah kolaps. Saya sempat berjalan kaki bersama ayah pergi ke rumah nenek, orang tua dari ayah. Sepanjang sore itu saya tidak melihat gejala aneh apapun pada ayah. Malah kami bercanda di sepanjang jalan baik saat pergi maupun pulang dari rumah nenek. Sesampainya di rumah ayah langsung baringan di kamar sedangkan saya langsung nonton TV karena saat itu hari Sabtu malam, besoknya sekolah libur sehingga saya tidak belajar. Letak TV di rumah persis ada di depan kamar ayah sehingga saya-lah orang pertama yang tahu saat ayah tak sadarkan diri waktu itu.

Ayah saya memang punya riwayat hipertensi, turunan dari orang tuanya. Baru dua minggu sebelumnya ayah mengeluh karena tensinya tinggi. Tapi sebelum-sebelumnya samasekali tidak ada keluhan tentang hipertensinya, dan ayah termasuk orang yang sangat. Sepanjang hidupnya beliau jarang sekali sakit. Waktu itu pengetahuan kami tentang hipertensi juga sangat minim. sehingga kami tidak terlalu mengontrol pola makan ayah. Dan karena tidak ada keluhan, ayah juga tidak pernah konsumsi obat hipertensi.

 

Setelah ayah diantar ke RS, rumah saya mendadak ramai.  Hampir semua saudara dari ayah -yang kebetulan rumahnya berdekatan bahkan juga beberapa tetangga dekat semuanya datang ke rumah. Bayangan ketakutan mulai menghantui saya, saya terus menangis dan menangis sembari menantikan kabar dari Ibu saya. Berbagai macam pikiran melintas di benak saya. Saya sangat tidak siap jika harus ditinggal oleh ayah. Di tengah kepanikan saya tetap berdoa kepada Tuhan, saya berdoa agar ayah bisa sembuh dan cepat dibawa pulang. Semua orang nampak tegang dan suasana sedikit mencekam kala itu.

Suasana makin pecah, ketika tak berapa lama – kira-kira sekitar pukul sembilan malam, sebuah mobil ambulans datang dan berhenti tepat di depan rumah. Saya pun berlari menuju ambulans itu. Saya tidak sabar melihat keadaan ayah. Pintu ambulans terbuka, Om – Tante – dan Ibu turun dari dalam ambulans, disusul oleh beberapa petugas. Ternyata Tuhan tidak mengabulkan doa saya. Ayah meninggal. Para petugas pun menurunkan jenazah ayah dan membawanya ke dalam rumah.

Saya sangat shock, saya menangis sekeras-kerasnya. Tak pernah saya duga sebelumnya bahwa pertemuan saya dengan ayah beberapa jam sebelumnya adalah pertemuan terakhir saya dengan beliau. Saat kami bercanda dalam perjalanan ke rumah nenek. Kematian ayah yang sangat mendadak ini membuat kami sangat menyesal. Terlebih saya, saya merasa saya belum cukup berbakti kepada ayah. Dalam hati saya juga menyalahkan diri saya sendiri. Selama ini saya belum cukup menjadi anak yang bisa membahagiakan orang tua, saya belum sempat merawat ayah. Sambil terus menangis, penyesalan – penyesalan itu terus muncul dalam pikiran saya. Ibu pun menghampiri saya dan adik-adik. Sambil menangis Ibu memeluk kami bertiga. Dan kami menangis bersama-sama. Tidak hanya kami berempat, hampir semua orang yang saat itu datang ke rumah juga ikut menangis. Semua merasa sangat kehilangan.

 

Ayah Ibu Lina dipanggil Tuhan pada waktu beliau masih berumur 47 tahun dan Bu Ningsih masih duduk di kelas 2 SMP. Kehilangan sosok ayah secara tiba-tiba tentu memunculkan banyak kesedihan dan penyesalan. Sejak saat itu sikap dan perilaku Bu Ningsih mendadak berubah.

 

Dari kecil saya memang dikenal sebagai anak yang ceria. Tapi sejak kepergian ayah secara tiba-tiba itulah, saya yang awalnya ceria menjadi anak yang pendiam. Hati saya protes kepada Tuhan. Saya bukan tipe orang yang mudah curhat berkaitan dengan masalah pribadi. Jadi hal yang bisa saya buat adalah protes kepada Tuhan. Saya sudah berdoa berdoa supaya Tuhan menyembuhkan ayah, tapi yang terjadi malah kebalikannya. “Kenapa Tuhan mengambil ayah saya begitu cepat? Beliau masih 47 tahun, saya masih SMP, bahkan adik laki-laki bungsu saya masih belum sekolah karena usianya saat itu masih 3 tahun. Kami semua masih sangat membutuhkan kehadiran ayah. Kenapa Tuhan tega sekali dengan kelurga kami?! Bagaimana kami bisa menlanjutkan hidup tanpa ayah? Bagaimana dengan Ibu? Bagaimana dengan adik-adik? Bagaimana dengan saya?!” Hal-hal inilah yang terus saya keluhkan kepada Tuhan. Tidak hanya kecewa tapi saya juga sangat marah. Saya sangat menyalahkan Tuhan.

Rasa kehiangan tentu tidak hanya dirasakan oleh saya tapi juga oleh kedua adik saya. Mereka tentu juga sangat sedih. Tapi karena mungkin waktu itu usia mereka masih kecil, jadi mereka masih belum mengerti rasanya kehilangan. Terlebih karena mereka adalah anak laki-laki, jadi mereka tidak terlalu tampak sedih. Malu mungkin kalau mau sering-sering menangis. Tapi saya yakin betul bahwa dalam hari-hari setelah ayah meninggal mereka sangat merindukan kehadiran ayah. Kami sangat rindu saat-saat bersenda gurau dengan ayah.

Begitu juga dengan Ibu, belahan jiwanya telah pergi. Tentu saja Ibu sangat sedih. Beban Ibu jadi semakin besar. Beliau seorang diri tanpa partner yang bisa diajak curhat untuk berbagi kebahagiaan maupun kesedihan. Belum lagi tanggung jawab untuk membesarkan kami bertiga. Kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anaknya tentu tidak sedikit.

Saat ayah sudah tidak bersama-sama dengan kami, otomatis Ibu mengambil tanggung jawabnya. Sehingga Ibu berperan ganda baik sebagai Ibu maupun sebagai ayah yang harus bekerja mencari nafkah untuk kami. Sebelumnya Ibu saya memang punya toko kelontong kecil-kecilan untuk membantu ayah mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Jadi sambil mengurusi rumah tangga dan mengurus kami bertiga, ibu menjaga toko. Tapi sejak ayah meninggal Ibu merasa bahwa hasil dari toko kelontong tidak akan mencukupi kebutuhan kami berempat. Ibu memutuskan untuk membuka warung makanan. Akhirnya toko kelontong yang ada ditutup dan diganti menjadi warung makanan yang menyediakan masakan rumahan sederhana. Mulai dari nasi pecel, nasi campur, sayur dan aneka minuman. Sebagai anak tertua, saya juga mengambil tanggungjawab untuk membantu Ibu. Setiap hari sepulang sekolah saya selalu membantu Ibu untuk mengupas bumbu, memotong sayur sejauh yang saya bisa.

Pada awal membuka warung makanan, Ibu ragu siapa yang akan beli. Karena rumah kami di desa, jauh dari mana-mana – jauh dari keramaian. Tapi Tuhan Yesus adalah Tuhan yang ajaib. IA tidak pernah kekurangan cara untuk menolong kami.

 

Ya, saya memang sempat menyalahkan Tuhan karena IA mengambil ayah dengan sangat cepat. Tapi lambat laun Tuhan melembutkan hati saya. Akhirnya Tuhan membuat saya sadar dan mengembalikan keceriaan saya setelah melihat perjuangan Ibu saya untuk bangkit dari keterpurukan. Saya menyaksikan sendiri perjuangan, doa dan air mata dari Ibu saya sangat luar biasa.

Ibu adalah pahlawan bagi saya pribadi. Dia pernah putus asa sedikitpun. Kalaupun warung sepi beliau tetap bersemangat untuk terus berjuang. Kadang harus mengganti menu yang lain yang mungkin lebih menarik. Sampai Ibu juga akhirnya menambah menu bakso untuk ditambahkan di warung makanannya. Ibu sungguh-sungguh belajar membuat bakso dari yang tidak bisa sama sekali sampai menjadi ahli untuk ukuran saya.

Tanpa kami duga Tuhan kirimkan pelanggan tetap dalam jumlah yang cukup banyak untuk ukuran kami. Tak berapa lama setelah Ibu membuka warung makanan, di depan rumah kami dibangun sebuah pabrik kecap. Dan proyek ini memakan waktu sekitar 1,5 tahun. Setidaknya ada 20 orang pekerja bangunan yang tinggal di barak di depan rumah. Ada mandor, tukang dan kuli bangunan. Dan mereka ini butuh makan tiga kali sehari, pagi, siang dan malam. Belum ditambah pelanggan – pelanggan yang sifatnya insidentil.

Kami benar-benar bisa merasakan pertolongan Tuhan. Adaaaaa saja pembeli yang datang ke warung makanan Ibu. Bahkan, satu hal yang samasekali tidak kami duga sebelumnya, saking banyaknya pembeli – Ibu sampai harus mempekerjakan seseorang untuk bantu-bantu urusan dapur. Sedangkan tenaga Ibu sangat terbatas dan saya juga hanya bisa bantu-bantu sedikit sepulang sekolah saja. Satu orang yang dipekerjakan Ibu bernama Bu Tini, beliau adalah tetangga kami yang sebelumnya hari-harinya bekerja sebagai buruh cuci dan setrika yang dipanggil ke rumah-rumah.

Tidak berhenti di sini. Pertolongan Tuhan terus kami rasakan. Waktu itu para pekerja bangunan sudah selesai membangun pabrik, sehingga Ibu kehilangan cukup banyak pelanggannya. Tapi Tuhan mengirimkan para pelanggan baru yaitu pegawai dari pabrik kecap yang berjumlah belasan orang.

Bahkan, di tahun ketiga Tuhan tambahkan pelanggan tetap lain yaitu pegawai konveksi di sebelah rumah. Toko konveksi yang awalnya hanya ditangani oleh pemilik dan dua orang pegawai tiba – tiba mendapat order untuk membuat seragam para pegawai dan staff dari satu perusahaan elektronik yang terkenal. Tidak hanya sekali, tapi orderannya datang secara berkala. Ingat saya ada sekitar 10 wanita yang bekerja di toko konveksi sebelah rumah. Dan mereka juga tinggal di mess konveksi itu.

Saya merasakan sejak ayah pergi dan sampai 4 tahun kemudian ketika Ibu sendiri membesarkan kami, kami tak pernah merasa kekurangan satu apapun. Bahkan kami bertiga masih bisa sekolah negeri terbaik di kota kami. Puji Tuhan sejak SD, saya dan Lendra memiliki prestasi yang cukup baik. Hal ini memungkinkan kami berdua untuk bisa masuk SMP dan SMU negeri yang terbaik di kota kami. Dengan masuknya kami berdua di sekolah negeri tentu ini sangat meringankan biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh Ibu. SPP di sekolah kami terbilang cukup murah. Bahkan adik saya ini sejak SMP mendapatkan beasiswa untuk anak berprestasi. Sedang adik bungsu saya, Ganda karena pertolongan Tuhan pula tidak pernah kekurangan apapun dari segi kebutuhannya.

 

Ingatan ku tentang ayah memang tidak akan hilang begitu saja bahkan sampai hari ini. Kasih, gurauan dan apapun tentang ayah selalu membuatku merindukan kehadirannya. Seperti hari ini, ketika hujan turun. Saya rindu saat-saat makan pisang bakar dan minum teh hangat bersama ayah, Ibu dan adik-adik.

Dari kejadian ayah yang meninggal mendadak ini dan yang diduga kuat karena hipertensi dan pembuluh darah pecah membuat saya dan Ibu belajar banyak tentang penyakit ini. Sehingga hal yang sama tidak terulang kembali pada salah satu anggota keluarga kami.

Dulu awal saya mendapatkan pekerjaan dan punya gaji sendiri bayangan ayah selalu muncul. Saya berpikir andai ayah masih hidup, pasti beliau bangga karena anaknya sudah bisa bekerja, sudah bisa mandiri. Dan sekarang, ketika saya sudah berumah tangga dan punya anak-anak, saya membayangkan betapa senangnya ayah. Beliau bisa berjalan bersama kami, semua anak-anak dan cucu-cucunya yang sangat lucu. Tapi jelas ini tidak mungkin terjadi.

Saya juga teringat akan satu ayat yang diajarkan oleh ibu ketika kami sedang mengalami masalah. Ayat ini diambil dari kitab Mazmur 23:1 yang mengatakan bahwa Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ayat ini menjadi ayat emas Ibu yang sering juga dibagikan kepada kami bahkan keluarga yang lain jika menghadapi masalah. Ibu selalu ingat bahwa saat kita dekat Tuhan tidak kekurangan. Tuhan akan mencukupkan apa yang kita butuhkan, tidak perlu kuatir. Janji Tuhan adalah YA dan AMIN. Dan kami benar-benar merasakan penyertaan dan pertolongan Tuhan di sepanjang kehidupan kami.

Lamunan saya terhenti ketika Lois anak sulung saya memanggil-manggil saya. Saya pun bergegas menyelesaikan pekerjaan saya, membuat pisang bakar dan teh hangat untuk dinikmati bersama keluarga di hari yang dingin ini. Ya, begitulah, saya masih sering merindukan ayah.

 

Sahabat, Mazmur 23: 1-6 ini menjadi pegangan ketika Ibu Lina dan keluarganya mengalami kedukaan dan harus melanjutkan hidup.

Saya harap bagian Firman Tuhan ini juga bisa menolong Sahabat, menguatkan Sahabat jika saat ini Sahabat sedang mengalami pergumulan. Dan saya juga berharap kisah Bu Lina hari ini bisa memberkati Sahabat.